oleh

Seri Coal-to-Chemicals: JEDA UNTUK KEJERNIHAN “Ketika Berhenti Bicara Adalah Bentuk Tanggung Jawab”

Oleh: Gilarsi W. Setijono

Coba bayangkan sebentar: seorang dokter yang sedang bersiap melakukan operasi jantung terbuka. Di ruang tunggu, keluarga pasien berdiskusi keras tentang teknik pembedahan mana yang terbaik. Mereka membaca artikel dari internet, mengutip pendapat para ahli, dan mulai terpecah menjadi dua kubu yang saling berargumen. Di dalam ruang operasi, dokter mendengar keributan itu. Ia tahu bahwa setiap detik yang berlalu sangat berharga—bukan untuk debat, melainkan untuk konsentrasi penuh pada keputusan yang akan menentukan hidup-mati pasien.​

Kadang-kadang, kesunyian lebih bijaksana daripada kata-kata yang berlimpah. Kadang-kadang, berhenti bicara adalah bentuk tanggung jawab yang paling dewasa.​

Mengapa Seri Ini Dimulai

Ketika seri coal-to-chemicals ini digagas, motivasinya sederhana namun penting: membawa kejernihan ke dalam diskusi publik tentang pertaruhan ratusan triliun rupiah uang negara. Bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mempertanyakan. Bukan untuk menghentikan, melainkan untuk memastikan bahwa setiap langkah diambil dengan mata terbuka dan pikiran jernih.​

Pragmatisme, seperti yang telah kita bahas, adalah bentuk optimisme yang paling bertanggung jawab. Ia berangkat dari data, dari pengalaman empiris China dan Sasol, dan dari kesediaan untuk belajar dari keberhasilan—maupun kegagalan—orang lain. Seri ini tidak pernah dimaksudkan sebagai manifesto penolakan, melainkan sebagai undangan untuk berpikir ulang.​

Namun, ada satu hal yang tidak pernah saya antisipasi: kemungkinan bahwa tulisan-tulisan ini, alih-alih menjernihkan, justru dapat menambah kebisingan pada saat yang paling krusial.​

Ketika Opini Publik Menjadi Beban, Bukan Pencerahan

Dalam beberapa hari terakhir, saya mendapat sinyal bahwa pemerintah sedang berada di tahap paling kritis dalam proses pengambilan keputusan terkait proyek ini. Mereka sedang menimbang, menghitung ulang, dan mencoba menemukan jalan terbaik di tengah kompleksitas yang tidak sederhana: Country Risk Premium, off-taker guarantee yang realistis, subsidy structure yang sustainable, dan phased development yang disiplin.​

Ini adalah momen yang membutuhkan fokus penuh—bukan polarisasi publik. Ini adalah waktu di mana mereka yang bertanggung jawab harus bisa mendengar data dan engineering realism, bukan harus mengelola opini yang terpecah menjadi kubu-kubu berseberangan.​

Saya menyadari bahwa melanjutkan seri ini—betapapun berniatnya untuk memberikan pencerahan—dapat justru menciptakan gaduh yang kontraproduktif. Opini publik yang terfragmentasi, di tengah proses deliberasi yang sedang berlangsung, bukan hanya tidak membantu; ia dapat menjadi beban tambahan yang mengalihkan energi dari hal yang paling penting: keputusan yang jernih dan berbasis realitas.​

Sebagaimana kata orang Jawa mengatakan, “aja dumeh bisa ngomong, terus lali ngrungokake” (jangan karena bisa bicara, lalu lupa mendengarkan). Kadang-kadang, mendengarkan—dan memberi ruang bagi yang lain untuk berpikir—adalah kontribusi terbesar yang bisa kita berikan.​

Jeda Bukan Berarti Diam Selamanya

Saya memutuskan untuk menghentikan sementara seri coal-to-chemicals ini. Bukan karena topiknya tidak penting—justru karena terlalu penting untuk dijadikan bahan perdebatan prematur. Bukan karena saya tidak punya keyakinan pada analisis yang telah dibangun—justru karena saya yakin bahwa analisis terbaik sekalipun tidak akan berguna jika dilempar di tengah kebisingan.​

Ini adalah jeda untuk kejernihan. Jeda untuk memberi ruang bagi mereka yang sedang menggodok keputusan agar bisa fokus tanpa distraksi opini publik yang terpolarisasi. Jeda untuk memastikan bahwa ketika keputusan akhirnya diambil, ia diambil berdasarkan pertimbangan teknis dan ekonomi yang matang—bukan karena tekanan atau reaksi terhadap narasi publik yang gaduh.​

Seri ini telah meletakkan fondasi: VALCOE vs LCOE, portfolio economics yang 78% lebih menguntungkan, subsidy structure China yang 40-66x lebih efisien, water consumption sebagai masalah utama, dan pentingnya phased development. Fondasi itu tetap ada. Data itu tidak akan menghilang. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tetap relevan.​
Yang berubah hanyalah timingnya.​

Tanggung Jawab Penulis: Tahu Kapan Harus Berhenti

Menulis esai kritis bukan hanya soal keberanian menyampaikan pendapat. Ia juga soal kebijaksanaan mengetahui kapan pendapat itu akan membantu, dan kapan ia justru akan mengganggu. Esai GWS bukan sekadar gaya penulisan—ia adalah etika: menolak untuk menyederhanakan yang kompleks, namun juga menolak untuk mengaburkan yang jelas.​

Dan yang jelas saat ini adalah: pemerintah sedang berada di persimpangan yang menentukan. Mereka butuh ruang untuk berpikir, bukan panggung untuk diperdebatkan. Mereka butuh data dan engineering realism, bukan sentimen publik yang tersulut.​

Jika saya melanjutkan seri ini sekarang, saya khawatir ia akan menjadi amunisi untuk polarisasi—bukan pencerahan. Dan saya tidak menulis untuk itu.​

Apa yang Akan Saya Lakukan Selanjutnya

Mulai besok, saya akan beralih ke topik lain. Bukan karena coal-to-chemicals tidak lagi relevan, melainkan karena ada banyak isu lain yang juga membutuhkan perhatian kritis dan reflektif. Ada banyak paradoks di negeri ini yang layak dibedah dengan pragmatisme yang sama: ketergantungan subsidi yang tidak berkesudahan, infrastruktur yang terhenti di tengah jalan, kebijakan energi yang penuh kontradiksi.​

Sementara itu, saya akan terus memantau perkembangan proyek coal-to-chemicals ini dari kejauhan—dengan harapan bahwa keputusan yang akhirnya diambil adalah keputusan yang berbasis pada phased discipline, portfolio pragmatism, dan subsidy structure yang sustainable. Jika suatu saat nanti ada ruang untuk kembali membahas topik ini dengan lebih produktif, saya akan kembali dengan data yang lebih lengkap dan timing yang lebih tepat.​

Penutup: Pragmatisme adalah Tahu Kapan Harus Mundur

Pragmatisme bukan hanya soal berani mengajukan pertanyaan sulit. Ia juga soal tahu kapan harus berhenti bertanya dan memberi ruang bagi yang lain untuk menjawab. Pragmatisme bukan hanya soal menyuarakan kritik; ia juga soal menahan diri ketika kritik itu berpotensi menjadi distraksi.​

Di tengah hiruk-pikuk diskusi publik yang sering kali lebih mengutamakan volume daripada substansi, kadang-kadang tindakan paling bertanggung jawab adalah mundur selangkah—bukan karena kalah, melainkan karena paham bahwa ada momen di mana kesunyian lebih produktif daripada kata-kata.​

Batubara Kalimantan Timur tetap menjadi aset yang kita punya. Pertanyaan tentang bagaimana mengelolanya dengan akal sehat tetap relevan. Pilihan antara pragmatisme portfolio atau fetisisme DME-only tetap harus dijawab. Namun untuk saat ini, jawaban itu lebih baik diserahkan kepada mereka yang sedang menimbangnya dengan sepenuh tanggung jawab.​

Saya percaya pada kejernihan. Dan kadang-kadang, jalan terbaik menuju kejernihan adalah dengan tidak menambah kebisingan.​


Sampai jumpa di topik berikutnya. Semoga ketika kita bertemu lagi, keputusan tentang coal-to-chemicals ini telah diambil dengan mata terbuka, pikiran jernih, dan tanggung jawab penuh terhadap ratusan triliun rupiah dana rakyat.​

Pragmatisme sejati tidak selalu terlihat heroik. Kadang-kadang, ia hanya terlihat seperti seseorang yang tahu kapan harus diam.

GWS, 16 Januari 2026

Komentar