Catatan: Andi Lelono Suryo

DI SUDUT Dusun Mangunrejo, Desa Tambirejo, Kabupaten Grobogan,tanah yang sering dilanda kemarau panjang,lahirlah Sudaryono pada 23 Januari 1985. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Yahyo dan Suwarni, sepasang petani pekerja keras yang tak memiliki sepetak sawah sendiri. Seluruh lahan yang mereka garap adalah tanah sewaan, dan saat musim panen usai, pendapatan berkurang drastis. Ayahnya pun harus pergi ke kota menjadi buruh bangunan, pulang berbulan-bulan dengan badan penuh lelah hanya untuk membawa uang receh bagi kebutuhan makan anak istrinya.
Sejak usia dini, Sudaryono tak pernah tahu arti “waktu santai“. Warga dusun mengenalnya sebagai cah angon yang rajin menjaga ternak sapi keluarga, sekaligus cah ngarit yang setiap hari berjalan berjam-jam mencari dan memikul jerami dan rumput kering dari pinggir sawah pinggir ladang dan hutan ke kandang.
Saat musim kemarau tiba, tantangan makin berat. Sumur dekat rumah mengering, sehingga ia harus berjalan kaki hampir satu kilometer ke sumur umum, mengantre berjam-jam, lalu memikul dua ember air penuh pulang ke rumah. Seringkali kakinya lecet terkena semak, tapi ia tak pernah sekalipun mengeluh.
Meski hari-harinya habis dengan keringat di ladang, Sudaryono tak pernah melupakan pendidikan. Ia bangun sebelum azan subuh berkumandang, menyalakan pelita minyak sisa, lalu membuka buku pelajaran. Seringkali ia mengerjakan tugas sekolah di atas tumpukan jerami, di sela-sela waktu mengawasi sapi yang merumput. Di kelas, ia sering duduk di bangku paling belakang,karena bangku depan biasanya penuh,tapi setiap guru bertanya, tangan Sudaryono selalu yang pertama terangkat. Nilainya selalu di atas rata-rata, menjadi kebanggaan sekaligus harapan bagi seluruh warga dusun.
Ketekunan dan kecerdasannya akhirnya membuka jalan yang tak terbayangkan anak dusun lainnya. Ia berani mendaftar seleksi SMA Taruna Nusantara di Magelang, sekolah bergengsi yang diimpikan banyak orang di seluruh Indonesia. Persaingan sangat ketat, ribuan siswa berprestasi bersaing untuk sedikit kuota beasiswa. Dengan persiapan seadanya, namun berbekal tekad baja, ketekunan dan doa orang tua,Sudaryono lolos dan berhasil meraih beasiswa penuh.
Di Taruna Nusantara, ia menyadari perbedaan latar belakang dengan teman-temannya yang banyak berasal dari keluarga mampu. Namun hal itu tak membuatnya minder, justru menjadi api yang menyala di dadanya. Ia belajar disiplin yang tinggi: bangun tepat waktu, mengerjakan tugas tuntas, dan tak pernah malu bertanya jika belum paham. Ia juga aktif melatih fisik, mengembangkan jiwa kepemimpinan, serta menjaga kerendahan hati yang didapat dari orang tuanya.
Setelah lulus dengan nilai terbaik, kesempatan emas datang kembali: ia mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan tinggi di Akademi Pertahanan Nasional Jepang. Di negeri asing, ia berjuang menguasai bahasa dan materi yang sulit, hingga lulus sebagai lulusan berprestasi di angkatannya. Ia kemudian melanjutkan studi magister di Swiss German University, dan akhirnya menyelesaikan gelar doktor di bidang manajemen bisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan prestasi yang sangat membanggakan.
Dari anak yang dulu belajar di bawah cahaya pelita yang redup di pinggir kandang sapi, kini namanya tercatat sebagai doktor yang dihormati di lembaga pendidikan ternama.
Tahun 2010, takdir mempertemukannya dengan Bapak Prabowo Subianto. Kejujuran, ketelitian, dan kedisiplinan yang dimilikinya membuat ia dipercaya menjadi asisten pribadi, bahkan sempat tinggal serumah untuk menjalankan tugas sehari-hari.
Di posisi ini, tantangannya sangat besar. Ia harus berhadapan dengan dinamika kerja yang cepat, standar ketelitian yang sangat tinggi, serta berinteraksi dengan berbagai kalangan pejabat dan tokoh. Namun Sudaryono tak pernah menyembunyikan asal-usulnya. Ia tetaplah anak petani yang tahu rasio lelah dan susah. Ia bekerja dengan prinsip: “Saya mungkin bukan yang paling pandai, tapi saya berjanji akan menjadi yang paling tekun, paling jujur, dan paling bisa dipercaya.”
Ia dikenal sangat disiplin soal waktu, tak pernah terlambat sedetik pun, selalu memeriksa detail tugas berkali-kali, dan tetap ramah serta sopan kepada siapa saja,baik kepada pejabat tinggi maupun petugas kebersihan. Di saat orang lain mungkin berubah sikap karena jabatan, Sudaryono tetap tenang, rendah hati, dan memegang teguh nilai-nilai yang diajarkan orang tuanya.
Kepercayaan yang ia bangun selama bertahun-tahun tak sia-sia. Kariernya terus berkembang membawa tanggung jawab yang lebih besar. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah, di mana ia banyak berkeliling ke pelosok desa, mendengar keluh kesah petani, pedagang, nelayan dan berusaha menyuarakan kepentingan mereka.
Pada Juli 2024, ia dilantik sebagai Wakil Menteri Pertanian. Di jabatan ini, pengalamannya tumbuh di ladang dan desa menjadi modal berharga. Ia paham betul susahnya harga pupuk, beratnya merawat tanaman saat kemarau, harga jual panen dan seberapa penting hasil panen bagi perut keluarga petani. Ia berusaha menjembatani kebijakan negara dengan kenyataan yang dirasakan petani di lapangan.
Setiap langkah jabatannya, ia selalu ingat: “Jabatan adalah amanah, bukan hak milik. Yang terpenting adalah apa yang bisa kita berikan untuk orang lain, terutama mereka yang belum beruntung.”
Pada 22 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Penunjukan ini bukan tanpa alasan: ia telah terlibat aktif sejak awal merancang Program Makan Bergizi Gratis, dan kisah hidupnya adalah bukti nyata bagaimana gizi yang baik dan kesempatan yang sama bisa mengubah nasib seseorang.
Menjadi pemimpin lembaga baru ini, Sudaryono membawa harapan besar:
- Membangun BGN yang profesional dan transparan: Setiap anggaran, setiap makanan yang disalurkan, harus bisa dipertanggungjawabkan dengan jelas kepada rakyat. Tak boleh ada kebocoran, tak boleh ada yang diambil untuk kepentingan pribadi.
- Tepat sasaran dan merata: Program harus sampai ke anak-anak yang paling membutuhkan,mulai dari dusun terpencil di Grobogan, desa di pegunungan Papua, hingga pulau terluar di Nusa Tenggara. Tak boleh ada anak yang tertinggal, semuanya berhak mendapatkan asupan gizi yang baik.
- Membangun gizi sebagai hak dasar, Ia ingin meyakinkan semua orang bahwa gizi yang cukup dan sehat adalah hak setiap anak Indonesia, bukan keberuntungan segelintir orang. GIZI YANG BAIK adalah fondasi agar anak-anak bisa tumbuh cerdas, kuat, dan mampu menggapai cita-cita setinggi apa pun.
- Menata dan mengawasi dengan seksama agar supaya tidak timbul korupsi, hengki pengki ataupun penyalahgunaan jabatan dan wewenang.
Dalam pidato pelantikannya, ia berkata dengan suara bergetar namun tegas:”Saya tahu rasanya tumbuh dengan perut yang kadang terasa lapar, saya tahu rasanya ingin belajar tapi tubuh terasa lemas. Karena saya pernah merasakannya, saya berjanji akan bekerja sekuat tenaga, sepenuh hati. Semoga tak ada lagi anak Indonesia yang masa depannya terhalang hanya karena masalah gizi.”
Dari cah ngarit yang berjalan kaki berjam-jam di tanah Grobogan, hingga kini memegang amanah menyejahterakan gizi seluruh anak bangsa,kisah Sudaryono adalah bukti nyata. Bahwa nasib tidak ditentukan oleh tempat kita lahir, melainkan oleh seberapa besar tekad kita, seberapa rajin kita berusaha, dan seberapa tulus hati kita untuk berbuat baik bagi sesama.
Jakarta, 22 Juli 2026
ALS aka AP
Note : mohon maaf jika ada kesalahan penulisan ataupun cerita














Komentar