Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
KETIKA mendengar kata Syi’ah orang Indonesia umumnya merasa kaget, asing, aneh. Apa yang menyebabkan hal tersebut. Boleh jadi karena kurangnya informasi, karena kelalaian, karena kebodohan, dan karena kebencian. Ada sekelompok muslim berfaham Wahabi. Mereka mendogmakan bahwa Syi’ah bertengan dengan Islam, Syi’ah aliran sesat. Siapa mereka Wahabi?
Sejak penyabaran Islam Abad ke 6-7 di Nusantara, orang-orang Syi”ah lah yang mewariskan nilai -nilai, Adat dan Budaya yang membumi dan dengan harmoni sosial. Kalimat yang sering didengar, adalah, “Dimana bumi dilijak disitu langit dijunjung”, “Adat Basanding Syara’, Syara Basanding Kutabullah”. Bisa ditelusuri, secara historis situs, artefak, manuskrip, sosioantropologi budaya pada tiap-tiap daetah.
TRADISI SUNDA
Dalam tradisi masyarakat Sunda (Jawa Bagian Barat, Banten hingga Cilacap), Syi’ah tidak secara langsung disebutkan, namun ada beberapa konsep dan nilai-nilai yang terkait dengan Syi’ah yang dapat ditemukan dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Sunda.
Konsep yang terkait dengan Syi’ah.
- Silaturahmi : konsep yang menekankan pentingnya hubungan antara manusia dengan leluhur dan para Imam.
- Adat : konsep yang menekankan pentingnya mengikuti tradisi dan ajaran leluhur.
- Karomah : konsep yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan para Imam dan leluhur.
Upacara yang terkait dengan Syi’ah
- Seren Taun : upacara yang memperingati hari raya keagamaan, yang mirip dengan perayaan Idul Fitri dalam tradisi Syi’ah.
- Ngawitan : upacara yang memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw, yang mirip dengan perayaan Maulid Nabi dalam tradisi Syi’ah.
- Ritual Panggilan : upacara yang memperingati hari kematian leluhur, yang mirip dengan perayaan Asyura dalam tradisi Syi’ah.
Suku Sunda yang memiliki tradisi Syi’ah
- Suku Sunda Banten
- Suku Sunda Priangan
- Suku Sunda Cirebon
- Suku Sunda Cilacap
Namun, perlu diingat bahwa informasi tentang Syi’ah dalam tradisi masyarakat Sunda masih terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara Syi’ah dan budaya Sunda.
Salah satu contoh adalah konsep “Silaturahmi” yang berarti hubungan kekeluargaan dan persaudaraan. Dalam tradisi Sunda, silaturahmi sangat penting dan dianggap sebagai salah satu nilai
utama dalam kehidupan masyarakat. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya hubungan antara manusia dan keluarga Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Sunda, ada juga konsep “Karamah” yang berarti keberkahan atau kemuliaan. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan keluarga Nabi Muhammad saw dan para Imam.
Dalam beberapa sumber, ada juga yang menyebutkan bahwa masyarakat Sunda memiliki hubungan sejarah dengan Syi’ah, terutama pada masa penyebaran Islam di Jawa Barat. Beberapa tokoh Sunda seperti Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro juga memiliki hubungan dengan Syi’ah.
TRADISI JAWA
Dalam tradisi Jawa, Syi’ah tidak secara langsung disebutkan, namun ada beberapa konsep dan nilai-nilai yang terkait dengan Syi’ah yang dapat ditemukan dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Jawa.
Salah satu contoh adalah konsep “Wali Songo” yang merupakan sembilan tokoh penyebar Islam di Jawa. Beberapa di antaranya memiliki hubungan dengan Syi’ah, seperti Sunan Kalijaga yang memiliki hubungan dengan Imam Ali as.
Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Jawa, ada juga konsep “Kraton” yang merupakan pusat kekuasaan dan spiritual. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya Imam sebagai pemimpin spiritual.
Dalam beberapa sumber, ada juga yang menyebutkan bahwa masyarakat Jawa memiliki hubungan sejarah dengan Syi’ah, terutama pada masa penyebaran Islam di Jawa. Beberapa tokoh Jawa seperti Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro juga memiliki hubungan dengan Syi’ah.
Dalam tradisi Jawa, ada juga beberapa ritual dan upacara yang memiliki kemiripan dengan ritual Syi’ah, seperti:
- Tingalan : upacara memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw, yang mirip dengan perayaan Maulid Nabi dalam tradisi Syi’ah.
- Guru Sekolahan : upacara memperingati hari lahir Imam Ali as, yang mirip dengan perayaan Idul Ghadir dalam tradisi Syi’ah.
- Wulan Sura : bulan pertama dalam kalender Jawa, yang mirip dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah dan diperingati sebagai bulan kesedihan dalam tradisi Syi’ah.
Namun, perlu diingat bahwa informasi tentang Syi’ah dalam tradisi Jawa masih terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara Syi’ah dan budaya Jawa.
TRADISI BALI
Dalam tradisi Bali, Syi’ah tidak secara langsung disebutkan, namun ada beberapa konsep dan nilai-nilai yang terkait dengan Syi’ah yang dapat ditemukan dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Bali.
Salah satu contoh adalah konsep “Tri Hita Karana” yang berarti tiga sumber kebahagiaan, yaitu:
- Pawongan: hubungan dengan Tuhan
- Palemahan: hubungan dengan alam
- Pabudayan: hubungan dengan sesama manusia
Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya hubungan antara manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.
Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Bali, ada juga konsep “Dewi Sri” yang merupakan dewi padi dan kesuburan. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan keluarga Nabi Muhammad saw, terutama Fatimah az-Zahra yang merupakan putri Nabi Muhammad SAW.
Dalam beberapa sumber, ada juga yang menyebutkan bahwa masyarakat Bali memiliki hubungan sejarah dengan Syi’ah, terutama pada masa penyebaran Islam di Nusantara. Beberapa tokoh Bali seperti Gusti Ngurah Rai juga memiliki hubungan dengan Syi’ah.
Dalam tradisi Bali, ada juga beberapa ritual dan upacara yang memiliki kemiripan dengan ritual Syi’ah, seperti:
- Galungan : upacara memperingati hari kemenangan kebaikan atas kejahatan, yang mirip dengan perayaan Idul Ghadir dalam tradisi Syi’ah.
- Kuningan : upacara memperingati hari lahir dewa-dewa, yang mirip dengan perayaan Maulid Nabi dalam tradisi Syi’ah.
- Nyepi : hari raya keagamaan Hindu yang diperingati dengan tidak melakukan aktivitas apa pun, yang mirip dengan perayaan Asyura dalam tradisi Syi’ah.
Namun, perlu diingat bahwa informasi tentang Syi’ah dalam tradisi Bali masih terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara Syi’ah dan budaya Bali.
TRADISI SUMATERA
Dalam tradisi masyarakat Sumatera, Syi’ah tidak secara langsung disebutkan, namun ada beberapa konsep dan nilai-nilai yang terkait dengan Syi’ah yang dapat ditemukan dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Sumatra.
Salah satu contoh adalah konsep “Adat” yang merupakan sistem nilai dan norma yang mengatur kehidupan masyarakat Sumatra. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya mengikuti ajaran dan sunnah Nabi Muhammad saw.
Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Sumatra, ada juga konsep “Keramat” yang merupakan tempat-tempat suci yang diyakini memiliki kekuatan spiritual. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan tempat-tempat suci, seperti makam-makam para Imam.
Dalam beberapa sumber, ada juga yang menyebutkan bahwa masyarakat Sumatra memiliki hubungan sejarah dengan Syi’ah, terutama pada masa penyebaran Islam di Sumatra. Beberapa tokoh Sumatra seperti Sultan Ali Mughayat Shah dan Sultan Iskandar Muda juga memiliki hubungan dengan Syi’ah.
Dalam tradisi masyarakat Sumatra, ada juga beberapa ritual dan upacara yang memiliki kemiripan dengan ritual Syi’ah, seperti:
- Tabuik : upacara memperingati hari Asyura, yang mirip dengan perayaan Asyura dalam tradisi Syi’ah.
- Maulid Nabi : upacara memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw, yang mirip dengan perayaan Maulid Nabi dalam tradisi Syi’ah.
- Kenduri : upacara makan bersama yang dilakukan dalam rangka memperingati hari-hari besar Islam, yang mirip dengan perayaan Idul Fitri dalam tradisi Syi’ah.
Namun, perlu diingat bahwa informasi tentang Syi’ah dalam tradisi masyarakat Sumatra masih terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara Syi’ah dan budaya Sumatra.
Beberapa suku di Sumatra yang memiliki tradisi Syi’ah antara lain:
- Suku Minangkabau
- Suku Aceh
- Suku Melayu
- Suku Batak
Namun, perlu diingat bahwa tradisi Syi’ah di Sumatra tidak sama dengan tradisi Syi’ah di Timur Tengah atau Iran, dan memiliki ciri khas yang unik dan berbeda-beda.
TRADISI KALIMANTAN
Dalam tradisi masyarakat Dayak di Kalimantan, Syi’ah tidak secara langsung disebutkan, namun ada beberapa konsep dan nilai-nilai yang terkait dengan Syi’ah yang dapat ditemukan dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Dayak.
Salah satu contoh adalah konsep “Kaharingan” yang merupakan kepercayaan asli masyarakat Dayak yang menekankan pentingnya hubungan antara manusia dengan alam dan leluhur. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan para Imam dan leluhur.
Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Dayak, ada juga konsep “Hambaruan” yang merupakan roh atau jiwa yang diyakini ada dalam diri manusia. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya membersihkan jiwa dan hati.
Dalam beberapa sumber, ada juga yang menyebutkan bahwa masyarakat Dayak memiliki hubungan sejarah dengan Syi’ah, terutama pada masa penyebaran Islam di Kalimantan. Beberapa tokoh Dayak seperti Raden Fatah dan Sultan Abdul Rahman juga memiliki hubungan dengan Syi’ah.
Dalam tradisi masyarakat Dayak, ada juga beberapa ritual dan upacara yang memiliki kemiripan dengan ritual Syi’ah, seperti:
- Tiwah : upacara memperingati hari kematian leluhur, yang mirip dengan perayaan Asyura dalam tradisi Syi’ah.
- Gawai : upacara memperingati hari panen,yang mirip dengan perayaan Idul Fitri dalam tradisi Syi’ah.
- Bersih Desa : upacara membersihkan desa dari kejahatan, yang mirip dengan perayaan Idul Ghadir dalam tradisi Syi’ah.
Namun, perlu diingat bahwa informasi tentang Syi’ah dalam tradisi masyarakat Dayak masih terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara Syi’ah dan budaya Dayak.
Beberapa suku Dayak yang memiliki tradisi Syi’ah antara lain:
- Suku Dayak Ngaju
- Suku Dayak Ma’anyan
- Suku Dayak Lawangan
- Suku Dayak Bakau
Namun, perlu diingat bahwa tradisi Syi’ah di Kalimantan tidak sama dengan tradisi Syi’ah di Timur Tengah atau Iran, dan memiliki ciri khas yang unik dan berbeda-beda.
TRADISI SULAWESI
Dalam tradisi masyarakat Sulawesi, Syi’ah tidak secara langsung disebutkan, namun ada beberapa konsep dan nilai-nilai yang terkait dengan Syi’ah yang dapat ditemukan dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Sulawesi.
Salah satu contoh adalah konsep “Pattimura” yang merupakan kepercayaan asli masyarakat Sulawesi yang menekankan pentingnya hubungan antara manusia dengan alam dan leluhur. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan para Imam dan leluhur.
Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Sulawesi, ada juga konsep “Tauhid” yang merupakan konsep tentang keesaan Allah, yang mirip dengan konsep Tauhid dalam Islam Syi’ah.
Dalam beberapa sumber, ada juga yang menyebutkan bahwa masyarakat Sulawesi memiliki hubungan sejarah dengan Syi’ah, terutama pada masa penyebaran Islam di Sulawesi. Beberapa tokoh Sulawesi seperti Sultan Alauddin dan Sultan Hasanuddin juga memiliki hubungan dengan Syi’ah.
Dalam tradisi masyarakat Sulawesi, ada juga beberapa ritual dan upacara yang memiliki kemiripan dengan ritual Syi’ah, seperti:
Maulid Nabi : upacara memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw, yang mirip dengan perayaan Maulid Nabi dalam tradisi Syi’ah.
- Idul Fitri : upacara memperingati hari raya Idul Fitri, yang mirip dengan perayaan Idul Fitri dalam tradisi Syi’ah.
- Ma’barani : upacara memperingati hari kematian leluhur, yang mirip dengan perayaan Asyura dalam tradisi Syi’ah.
Namun, perlu diingat bahwa informasi tentang Syi’ah dalam tradisi masyarakat Sulawesi masih terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara Syi’ah dan budaya Sulawesi.
Beberapa suku di Sulawesi yang memiliki tradisi Syi’ah antara lain:
- Suku Bugis
- Suku Makassar
- Suku Toraja
- Suku Mandar
Namun, perlu diingat bahwa tradisi Syi’ah di Sulawesi tidak sama dengan tradisi Syi’ah di Timur Tengah atau Iran, dan memiliki ciri khas yang unik dan berbeda-beda.
TRADISI PAPUA
Dalam tradisi masyarakat Papua, Syi’ah tidak secara langsung disebutkan, namun ada beberapa konsep dan nilai-nilai yang terkait dengan Syi’ah yang dapat ditemukan dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Papua.
Salah satu contoh adalah konsep “Animisme” yang merupakan kepercayaan asli masyarakat Papua yang menekankan pentingnya hubungan antara manusia dengan alam dan leluhur. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan para Imam dan leluhur.
Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Papua, ada juga konsep “Totemisme” yang merupakan kepercayaan bahwa manusia memiliki hubungan dengan hewan atau tumbuhan tertentu yang dianggap sebagai leluhur. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan para Imam dan leluhur.
Dalam beberapa sumber, ada juga yang menyebutkan bahwa masyarakat Papua memiliki hubungan sejarah dengan Syi’ah, terutama pada masa penyebaran Islam di
Papua. Beberapa tokoh Papua seperti Sultan Tidore dan Sultan Fak-fak juga memiliki hubungan dengan Syi’ah.
Dalam tradisi masyarakat Papua, ada juga beberapa ritual dan upacara yang memiliki kemiripan dengan ritual Syi’ah, seperti:
- Bakar Sagu : upacara memperingati hari panen, yang mirip dengan perayaan Idul Fitri dalam tradisi Syi’ah.
- Kuri Kuri : upacara memperingati hari kematian leluhur, yang mirip dengan perayaan Asyura dalam tradisi Syi’ah.
- Moka : upacara memperingati hari raya keagamaan, yang mirip dengan perayaan Idul Ghadir dalam tradisi Syi’ah.
Namun, perlu diingat bahwa informasi tentang Syi’ah dalam tradisi masyarakat Papua masih terbatas dan perlu penelitian
lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara Syi’ah dan budaya Papua.
Beberapa suku di Papua yang memiliki tradisi Syi’ah antara lain:
- Suku Dani
- Suku Lani
- Suku Yali
- Suku Asmat
Namun, perlu diingat bahwa tradisi Syi’ah di Papua tidak sama dengan tradisi Syi’ah di Timur Tengah atau Iran, dan memiliki ciri khas yang unik dan berbeda-beda.
TRADISI MALUKU
Dalam tradisi masyarakat Maluku (Ambon), Syi’ah tidak secara langsung disebutkan, namun ada beberapa konsep dan nilai-nilai yang terkait dengan Syi’ah yang dapat ditemukan dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Maluku.
Salah satu contoh adalah konsep “Pela” yang merupakan kepercayaan asli masyarakat Maluku yang menekankan pentingnya hubungan antara manusia dengan alam dan leluhur. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan para Imam dan leluhur.
Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Maluku, ada juga konsep “Gandong” yang merupakan kepercayaan bahwa manusia memiliki hubungan dengan leluhur dan alam. Konsep ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Syi’ah yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan para Imam dan leluhur.
Dalam beberapa sumber, ada juga yang menyebutkan bahwa masyarakat Maluku memiliki hubungan sejarah dengan Syi’ah, terutama pada masa penyebaran Islam di Maluku. Beberapa tokoh Maluku seperti Sultan Baabullah dan Sultan Ternate juga memiliki hubungan dengan Syi’ah.
Dalam tradisi masyarakat Maluku, ada juga beberapa ritual dan upacara yang memiliki kemiripan dengan ritual Syi’ah, seperti:
- Pesta Sagu: upacara memperingati hari panen, yang mirip dengan perayaan Idul Fitri dalam tradisi Syi’ah.
- Pesta Kematian : upacara memperingati hari kematian leluhur, yang mirip dengan perayaan Asyura dalam tradisi Syi’ah.
- Pesta Pela : upacara memperingati hari raya keagamaan, yang mirip dengan perayaan Idul Ghadir dalam tradisi Syi’ah.
Namun, perlu diingat bahwa informasi tentang Syi’ah dalam tradisi masyarakat Maluku masih terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara Syi’ah dan budaya Maluku.
Beberapa suku di Maluku yang memiliki tradisi Syi’ah antara lain:
- Suku Ambon
- Suku Ternate
- Suku Tidore
- Suku Seram
Namun, perlu diingat bahwa tradisi Syi’ah di Maluku tidak sama dengan tradisi Syi’ah di Timur Tengah atau Iran, dan memiliki ciri khas yang unik dan berbeda-beda.
TRADISI NTB-NTT
Dalam tradisi masyarakat NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT (Nusa Tenggara Timur), Syi’ah tidak secara langsung disebutkan, namun ada beberapa konsep dan nilai-nilai yang terkait dengan Syi’ah yang dapat ditemukan dalam budaya dan kepercayaan masyarakat NTB dan NTT.
NTB (Nusa Tenggara Barat)
Dalam tradisi masyarakat NTB, ada beberapa konsep yang terkait dengan Syi’ah, seperti:
- Pusaka : konsep yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan leluhur dan para Imam.
- Adat : konsep yang menekankan pentingnya mengikuti tradisi dan ajaran leluhur.
- Perang Topat : upacara yang memperingati hari raya keagamaan, yang mirip dengan perayaan Idul Ghadir dalam tradisi Syi’ah.
Beberapa suku di NTB yang memiliki tradisi Syi’ah antara lain:
- Suku Sasak
- Suku Samawa
- Suku Mbojo
NTT (Nusa Tenggara Timur)
Dalam tradisi masyarakat NTT, ada beberapa konsep yang terkait dengan Syi’ah, seperti:
- Lerik : konsep yang menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan leluhur dan para Imam.
- Katu : konsep yang menekankan pentingnya mengikuti tradisi dan ajaran leluhur.
- Pesta Rebo : upacara yang memperingatihari raya keagamaan, yang mirip dengan perayaan Idul Fitri dalam tradisi Syi’ah.
Beberapa suku di NTT yang memiliki tradisi Syi’ah antara lain:
- Suku Timor
- Suku Flores
- Suku Sumba
Namun, perlu diingat bahwa informasi tentang Syi’ah dalam tradisi masyarakat NTB dan NTT masih terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara Syi’ah dan budaya NTB dan NTT.
Rekomendasi.
Melihat fakta historis, bahwa Syi’ah telah mewaris nilai-nilai Islam dan menjaga Adat Budaya Nusantara. Bagi yang ingin medalami, bagaimana peran Syi’ah di Nusantara, kumpulkan dan telisik dengan fikirin yang jernih dan hati yang bersih, dengan pendejatan ilmiah. Studi ini baru pendahuluan , bila ada yang mau koreksi dan menyempurnakan, diterima dengan lapang dada.
Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan
1 Rajab 1447 H – 21 Desember 2025















Komentar