oleh

TANPA KEKELUARGAAN TAK ADA KOPERASI : “Sebuah Refleksi di Tengah Krisis Zaman”

Oleh: Agus Pakpahan___Ekonom Kelembagaan dan Pertanian / Rektor Universitas Koperasi Indonesia (2023–sekarang)


Serial Tropikanisasi–Kooperatisasi, Edisi 20 April 2026

ABSTRAK

Esai ini menegaskan tesis fundamental: Kekeluargaan adalah fondasi ontologis koperasi—tanpanya, koperasi tidak pernah benar-benar ada.
Melalui kontras antara runtuhnya Koperasi Unit Desa (KUD)—yang sarat modal namun miskin jiwa—dan keberhasilan Koperasi Kredit Keling Kumang—yang lahir dari Rp 291.000 dan tumbuh menjadi ekosistem dengan 232.200 anggota dan aset Rp 2,3 triliun—esai ini menunjukkan bahwa daya tahan koperasi tidak ditentukan oleh kapital finansial, melainkan oleh kapital relasional.
Kekeluargaan dibedah sebagai modus eksistensi kolektif yang berakar pada kearifan Nusantara (handep, pacce, gugur gunung, pela gandong), dan dielaborasi ke dalam lima pilar: Ikatan Batin, Rasa Memiliki, Tanggung Jawab Kolektif, Musyawarah, dan Solidaritas Generatif.

Menghadapi “hukum besi organisasi”, esai ini menawarkan strategi: desentralisasi, spin-out, ritual kolektif, dan kepemimpinan yang melayani.

Kesimpulannya tegas: koperasi tanpa Kekeluargaan hanyalah simulasi—ia tampak hidup, tetapi sejatinya sedang menunggu waktu untuk runtuh.

I. Prolog: Pertanyaan yang Tak Bisa Dihindari

Pertanyaan ini bukan sekadar reflektif—ia bersifat eksistensial:
Mengapa koperasi yang “sempurna di atas kertas” justru gagal dalam kenyataan, sementara yang sederhana justru bertahan lintas zaman?

KUD runtuh bukan karena kekurangan modal, tetapi karena ketiadaan makna.
Keling Kumang bertahan bukan karena keunggulan teknis, tetapi karena kelimpahan makna.

Di sinilah letak pembalikan paradigma:
Koperasi bukan runtuh karena krisis ekonomi—ia runtuh karena krisis relasi.

II. Kekeluargaan: Dari Istilah ke Ontologi

Kekeluargaan bukan atmosfer.
Ia bukan keramahan.
Ia bukan retorika.
Ia adalah struktur terdalam dari relasi manusia.

Dalam Kekeluargaan:
Individu tidak dihapus, tetapi diterangi oleh kolektivitas.

Kepentingan pribadi tidak dimatikan, tetapi ditransformasikan menjadi kepentingan bersama.

Jika ekonomi modern bertanya:
“Apa yang saya dapat?”
Maka Kekeluargaan bertanya:
“Apa yang bisa kita jaga bersama agar semua tetap hidup?”

Ini adalah lompatan epistemologis—dari ekonomi pertukaran menuju ekonomi keberlangsungan hidup bersama.

III. Koperasi sebagai Rumah

Koperasi dalam visi Hatta bukanlah institusi ekonomi.
Ia adalah rumah sosial-ekonomi.

Rumah memiliki ciri:
Ada kehangatan
Ada perlindungan
Ada konflik—tetapi diselesaikan tanpa pembubaran.

Koperasi modern kehilangan makna ini karena direduksi menjadi:
entitas keuangan,
alat distribusi,
atau instrumen kebijakan.

Akibatnya:
koperasi berhenti menjadi tempat pulang, dan berubah menjadi tempat transaksi.

Dan ketika relasi berubah menjadi transaksi, loyalitas pun menghilang.

IV. Keling Kumang: Ontologi yang Menjadi Realitas

Keling Kumang bukan sekadar “kisah sukses”.

Ia adalah bukti empiris dari tesis ontologis.

Yang dibangun pada 25 Maret 1993 bukan koperasi.
Yang dibangun adalah:
kepercayaan yang dilembagakan.

Dan begitu kepercayaan dilembagakan:
uang menjadi sekunder,
struktur menjadi alat,
dan organisasi menjadi hidup.

Kalimat kuncinya:
Mereka tidak menyimpan uang di koperasi.
Mereka menyimpan diri mereka sendiri di dalamnya.

V. Hukum Besi Organisasi

Semakin besar organisasi, semakin besar jarak antar manusia.
Semakin besar jarak, semakin lemah empati.
Semakin lemah empati, semakin dominan aturan.

Inilah spiral kematian Kekeluargaan.

Namun Keling Kumang menunjukkan sesuatu yang penting:
Skala besar tidak harus mematikan jiwa—jika jiwa didistribusikan.

Desentralisasi bukan sekadar strategi organisasi.
Ia adalah:
strategi mempertahankan kemanusiaan dalam sistem besar.

VI. KUD: Pelajaran Paling Mahal

KUD gagal bukan karena salah desain teknis.

Ia gagal karena:
dibangun tanpa kesadaran kolektif.

Ia adalah:
koperasi tanpa partisipasi
organisasi tanpa rasa memiliki
sistem tanpa kepercayaan.

Maka ketika tekanan datang, yang terjadi bukan resistensi—melainkan pembubaran diam-diam.

Tidak ada yang mempertahankan sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan sebagai miliknya.

VII. Implikasi Strategis

Jika Kekeluargaan adalah fondasi, maka reformasi koperasi harus dimulai dari sini:

Reformasi Ontologis
Dari koperasi sebagai badan usaha → koperasi sebagai komunitas hidup

Reformasi Metodologis
Dari pembangunan top-down → pertumbuhan organik berbasis komunitas

Reformasi Evaluatif
Dari indikator finansial → indikator relasional (trust, partisipasi, regenerasi)

Reformasi Kepemimpinan
Dari kontrol → keteladanan

Reformasi Negara
Dari intervensi → fasilitasi ekosistem

VIII. Kekeluargaan sebagai Jalan Peradaban

Dunia hari ini menghadapi krisis simultan:

krisis ekologi
krisis ketimpangan
krisis keterasingan manusia.

Semua berakar pada satu hal:
terputusnya relasi.

Kekeluargaan menawarkan pemulihan relasi:

manusia dengan manusia
manusia dengan komunitas
manusia dengan alam.

Dengan demikian, koperasi bukan sekadar solusi ekonomi.

Ia adalah:
prototipe peradaban pasca-kapitalistik.

IX. Epilog: Seruan yang Tak Bisa Ditunda

Kita tidak kekurangan koperasi.
Kita kekurangan Kekeluargaan.

Kita tidak kekurangan program.
Kita kekurangan kepercayaan.

Kita tidak kekurangan modal.
Kita kekurangan ikatan batin.

Maka pertanyaannya bukan lagi:

“Bagaimana membangun koperasi?”
Tetapi:
“Bagaimana membangun manusia yang mampu berkoperasi?”

Mulailah dari yang paling dekat:
satu komunitas
satu kelompok kecil
satu lingkaran kepercayaan.

Sejarah tidak berubah oleh sistem besar.

Ia berubah oleh:
komunitas kecil yang hidup dengan nilai besar.

Dan seperti yang telah dibuktikan:
Rp 291.000 cukup
jika yang dihimpun bukan uang,
tetapi kepercayaan.

Penutup

Tanpa Kekeluargaan, koperasi bukan gagal—ia tidak pernah benar-benar lahir.

Dan jika kita ingin melahirkan kembali ekonomi kerakyatan,
maka yang harus kita bangun pertama-tama bukanlah sistem,
melainkan:

rasa menjadi satu keluarga dalam nasib yang sama.

Komentar