Padang, 25 April 2026 — Universitas Andalas (UNAND) resmi mengukuhkan tujuh Guru Besar Tetap dalam sebuah prosesi akademik yang berlangsung di Convention Hall Kampus Limau Manis, Padang. Salah satu yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Firda Arlina, M.Si., IPU dari Fakultas Peternakan.
Pengukuhan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kapasitas akademik serta mendorong kontribusi keilmuan yang berdampak bagi masyarakat luas.
Rektor UNAND, Efa Yonnedi, dalam sambutannya menegaskan bahwa Guru Besar merupakan ujung tombak kemajuan universitas. Para profesor diharapkan mampu menggerakkan riset inovatif serta memberikan dampak nyata, baik secara sosial maupun ekonomi.
Menurutnya, pengukuhan ini bukan sekadar pencapaian akademik tertinggi, tetapi juga amanah besar untuk membawa UNAND menuju reputasi global sebagai pusat inovasi dan keilmuan.
Peran Strategis Prof. Firda untuk AKB dan Daerah
Pengukuhan Prof. Firda Arlina memiliki arti strategis, khususnya dalam pengembangan sektor peternakan berbasis potensi lokal Sumatera Barat.
Keilmuan beliau diharapkan menjadi motor penggerak dalam mengangkat Ayam Kokok Balenggek (AKB) sebagai:
Warisan genetik unggulan daerah
Ikon budaya dan identitas lokal
Potensi ekonomi kreatif dan pariwisata
Sumber inovasi riset peternakan berkelanjutan
Dengan pendekatan ilmiah dan inovasi, AKB tidak hanya diposisikan sebagai komoditas lokal, tetapi juga sebagai simbol kejayaan Kabupaten Solok dan Sumatera Barat di tingkat nasional hingga global.
Momentum Penguatan Riset dan Dampak Nyata
Pengukuhan tujuh Guru Besar ini sekaligus menjadi langkah strategis UNAND dalam mendorong hilirisasi riset agar lebih aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
UNAND menargetkan para Guru Besar, termasuk Prof. Firda, mampu:
Menghasilkan riset berkelas internasional
Mendorong kolaborasi lintas sektor
Menguatkan kontribusi terhadap pembangunan daerah
Paradigma Baru: Dari Sekadar “Gacor” ke Kualitas Kokok
Dalam konteks pengembangan AKB, pendekatan keilmuan yang dibawa Prof. Firda tidak lagi hanya berfokus pada aspek kuantitas, seperti frekuensi kokok (“gacor”) dalam durasi tertentu.
Lebih dari itu, penguatan kualitas AKB diarahkan pada aspek yang lebih kompleks dan bernilai tinggi, yaitu:
Jumlah lenggek (lekuk kokok) yang semakin banyak
Variasi lenggek yang kaya, mencakup ritme dan intonasi
Kualitas warna suara (timbre) yang merdu dan khas
Pendekatan ini menempatkan AKB bukan sekadar unggas dengan performa kompetitif, tetapi sebagai entitas musikal alami yang memiliki struktur bunyi, estetika, dan karakter artistik.

AKB sebagai Warisan Budaya dan Sains
Melalui perspektif tersebut, AKB berpotensi dikembangkan dalam tiga ranah utama:
Ilmiah – sebagai objek riset genetika, bioakustik, dan perilaku unggas
Budaya – sebagai identitas khas Minangkabau yang bernilai estetika tinggi
Ekonomi kreatif – sebagai daya tarik wisata dan industri berbasis lokal
Pendekatan integratif ini membuka peluang besar bagi Kabupaten Solok untuk menjadi pusat pengembangan AKB di tingkat nasional bahkan global.
Kutipan Ilmiah Prof. Firda
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Firda menegaskan:“Pengembangan Ayam Kokok Balenggek tidak cukup hanya diukur dari frekuensi kokok dalam satuan waktu. Yang jauh lebih penting adalah kualitas struktur vokal (kokok) —jumlah lenggek, variasi ritme dan intonasi, serta karakter timbre yang membentuk keindahan suara.”
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan ini membuka ruang kajian baru dalam ilmu peternakan berbasis bioakustik:“AKB harus dipahami sebagai fenomena bioakustik. Kita tidak hanya berbicara tentang produksi suara, tetapi tentang pola, spektrum frekuensi, dan estetika bunyi yang dapat diukur sekaligus dirasakan.”
Pengembangan Ayam Kokok Balenggek tidak cukup diukur dari jumlah kokok per menit. Kualitas vokal harus dianalisis melalui parameter bioakustik seperti frekuensi (Hz), durasi lenggek, serta pola spektrum suara.”
Ia menjelaskan bahwa secara ilmiah, karakter suara AKB dapat diukur melalui beberapa indikator utama:
Rentang frekuensi dasar (fundamental frequency) umumnya berada pada kisaran 300–1.200 Hz, dengan harmonik yang dapat mencapai di atas 2.000 Hz
Durasi satu rangkaian kokok (lenggek) berkisar antara 3–8 detik, tergantung kualitas dan stamina vokal
Jumlah lenggek dalam satu siklus kokok dapat mencapai 5–12 lenggek atau lebih pada kategori unggul
Spektrum suara (spectrogram) menunjukkan pola gelombang berlapis (harmonik) yang menjadi penentu keindahan dan kekhasan suara
Lebih lanjut, ia menekankan:“AKB harus diposisikan sebagai fenomena bioakustik dan estetika sekaligus. Kita tidak hanya mendengar suara, tetapi membaca struktur bunyi—ritme, interval, dan spektrum frekuensinya.”
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya standar kualitas suara dalam pengembangan AKB ke depan:“Tujuan kita bukan sekadar menghasilkan ayam yang rajin berkokok, tetapi ayam yang memiliki kualitas vokal unggul—lenggek yang kompleks, ritme yang hidup, dan warna suara yang merdu serta bernilai estetis tinggi.”
AKB sebagai Warisan Budaya dan Sains
Melalui perspektif tersebut, AKB berpotensi dikembangkan dalam tiga ranah utama:
Ilmiah – riset genetika dan bioakustik
Budaya – identitas musikal Minangkabau
Ekonomi kreatif – wisata dan industri berbasis lokal
Pendekatan integratif ini membuka peluang besar bagi Kabupaten Solok sebagai pusat pengembangan AKB.
Harapan ke Depan
Dengan dikukuhkannya Prof. Firda Arlina sebagai Guru Besar, diharapkan lahir inovasi-inovasi baru yang tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat identitas lokal melalui pengembangan AKB.
Momentum ini menjadi awal dari langkah besar menuju kejayaan riset, budaya, dan ekonomi berbasis potensi lokal Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Solok. (Dr Sastra)











Komentar