
Oleh : Ali Assegaf
Reff tafsir surat Jum’at Rahbar
Pada topik pertama surat ini, tentang diutusnya Rasul dari Kalanganmu sendiri pada ayat ke-2
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ
DIA yang telah membangkitkan dalam kaum ummi seorang Rasul dari kalangan mereka.
Sebelum membahas makna ummi – kehadiran utusan pada suatu kaum adalah karunia, sebagaimana firmanNya
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ
Dan ditetapkan Karunia (nikmat) Alalh atas kaum mukminin jika telah dibangkitkan (diutus) ditengah mereka utusan dari kalangan mereka… ( Ali Imran : 164 )
Ketika Rasul sendiri wujud nikmat, makna ditengah masyarakat ummi (yang tak baca dan tulis) dapat dimaknai dengan
Pertama, Islam memiliki terminology dan kosa katanya sendiri, yang tidak terkontaminasi dengan budaya luar, yang saat itu peradaban pada romawi, persia dan Etiopia – sehingga tak mempengaruhi islam sehingga dapat diwariskan hingga saat ini.
Ummi didefinisikan : masyarakat yang tak memiliki budaya, peradaban atau pemikiran maju, terbelenggu oleh kelompoknya sendiri, tertutup dalam kehidupan dimasyarakat dan tak menerima apapun dari luar kelompoknya.
Itu sebabnya kehadiran utusan sebagai karunia tersendiri bagi masyarakat ummi (tak baca – tulis) ini.
Pelajaran
Para ulama pewaris nabi, sudah seharusnya datang dari lingkungan terdekat mereka, berbahasa yang menggunakan diksi-diksi umum mereka, muncul bukan dari orang yang jauh dan tak dikenali. Sehingga masyarakat tidak terbangun jarak dengan pewaris nabi ini.
Anugerah 1 : terjaganya diksi islam di masyarakat terbelakang ( ummi) – seri 01
Anugerah 2 : keyakinan dari Allah bukan dari literasi kitab lainnya
Pada surat Al-Ankabut : 48
وَمَا كُنْتَ تَتْلُوْا مِنْ قَبْلِهٖ مِنْ كِتٰبٍ وَّلَا تَخُطُّهٗ بِيَمِيْنِكَ اِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُوْنَ
Sekiranya engkau (muhammad) didapati sebelumnya membaca kitab atau menulis dengan tangan kananmu, niscaya orang-orang yang pengingkar ragu ( bahwa al-qur’an dari Allah)
Jika nabi itu kaum elite di masyarakatnya, kaum terpelajar ditengah kaum terbelakang, pengingkar akan menilai ini buatan sang nabi yang mengambil dari kitab-kitab yahudi dan nasrani. Justru ketika tidak adanya catatan sang nabi membaca dan menulis – keraguan ini tidak muncul. Fakta ini menjadi anugerah agar masyarakat saat itu mudah meyakini kebenaran, kejujuran dan ketulusan ajaran Rasulullah SAW.
Dan di sekitar masyarakat Mekkah juga terdapat suku-suku lain, seperti Persia, Habasyah (Etiopia), Romawi dan China, mereka menyaksikan hal ini, bahwa sang nabi bukan dari suku-suku luar Mekkah ini. Bangsa Arab jahiliah yang fanatik ini mengenali sang nabi, ayahnya, keluarga dan handai tolan nabi – sehingga tak ada yang menyangkal ke-Arab-an nabi.
Anugerah 03 : Reputasi_
Beliau dikenal dengan nama yang baik, dari keluarga yang terhormat, seluruh kebaikan terkumpul pada pribadi ini, agar kaum fanatik Arab menerima nabi ini. Tak ada penolakan yang disebabkan sang nabi pernah melakukan hal buruk apalagi tercela, sehingga masyarakat melihat nabi adalah dari diri mereka sendiri.
Berbeda dengan Nabi Isa yang diutus sejak kelahirannya, atau Nabi Musa saat remaja, masyarakat Arab menyaksikan nabi sebelum bi’stahnya hingga 40 tahun dengan reputasi, akhlak dan ucapan yang sangat baik dilingkungan mereka sendiri.(*****







Komentar