Penulis: Agus Pakpahan
1. Paul Menemukan Masalah yang Tidak Bisa Dipadamkan dengan Air
Pagi itu Paul datang ke warung Mang Udin membawa sebuah buku catatan yang tebal.
Mang Udin melihatnya.
“Wah, Paul. Mau rapat?”
“Tidak.”
“Menulis surat?”
“Tidak.”
“Menulis buku?”
Paul menggeleng.
“Saya mau membaca kebakaran.”
Mang Udin terdiam.
“Bukankah kebakaran itu dilihat?”
“Bisa dilihat. Tetapi belum tentu dipahami.”
Mang Udin menyodorkan kopi.
“Kalau begitu, minum dulu. Biasanya orang yang mau memahami sesuatu terlalu serius kalau belum minum kopi.”
Paul tertawa.
Ia membuka catatannya.
Di halaman pertama tertulis besar-besar:
KARHUTLA: APA YANG SEBENARNYA TERBAKAR?
Mang Udin membaca.
“Hutan?”
Paul menggeleng.
“Lahan?”
Paul menggeleng lagi.
“Rumput?”
“Sebagian.”
“Gambut?”
“Bisa.”
Mang Udin mulai kesal.
“Kalau semua bukan, lalu apa?”
Paul tersenyum.
“Mungkin yang terbakar bukan hanya bahan bakarnya. Mungkin cara kita memahami alam juga ikut terbakar.”
Mang Udin menatap Paul beberapa detik.
“Ini sudah mulai berbahaya.”
“Kenapa?”
“Kalau kopi saja sudah masuk filsafat, sebentar lagi warung saya menjadi universitas.”
Paul tertawa.
Tetapi kali ini ia segera serius.
“Begini, Mang. Selama ini kita sering melihat karhutla sebagai peristiwa. Api muncul. Orang memadamkan. Asap hilang. Lalu kita merasa masalah selesai.”
“Bukankah memang begitu?”
“Tidak selalu.”
“Lalu?”
“Api padam. Sistem yang membuat api mudah muncul belum tentu padam.”
Mang Udin mengangguk perlahan.
Itulah yang ingin dibaca Paul.
Bukan hanya di mana api muncul, tetapi mengapa suatu lanskap menjadi sedemikian mudah terbakar.
2. Paul dan Pertanyaan Antropologi
Paul kemudian menjelaskan kepada Mang Udin bahwa ia sedang mencoba menggunakan apa yang ia sebut sebagai metafora antropologi kuantum.
Mang Udin langsung bertanya:
“Antropologi itu apa?”
“Ilmu yang mempelajari manusia, masyarakat, budaya, dan cara manusia hidup.”
“Kalau kuantum?”
“Dalam cerita ini, kuantum saya gunakan sebagai metafora untuk membantu melihat hubungan yang tidak sederhana.”
“Jadi manusia menjadi atom?”
“Bukan.”
“Desa menjadi elektron?”
“Bukan juga.”
“Kalau begitu, jangan-jangan Mang Udin menjadi partikel?”
Paul tertawa.
“Tidak. Mang Udin tetap Mang Udin.”
“Syukurlah.”
Paul menjelaskan bahwa kehidupan sosial sering kali tidak berjalan seperti garis lurus.
Satu keputusan dapat memengaruhi keputusan lain.
Satu kebijakan dapat mengubah perilaku masyarakat.
Satu perubahan tata air dapat mengubah kondisi lahan.
Satu kebakaran dapat mengubah kesehatan, ekonomi, pendidikan, transportasi, dan hubungan sosial.
Karena itu, Paul tidak ingin melihat karhutla sebagai sebuah titik.
Ia ingin melihatnya sebagai jaringan hubungan.
“Jadi,” kata Mang Udin, “kalau ada api di hulu, kita di hilir ikut kena?”
“Betul.”
“Kalau begitu, Sungai Kapuas sudah lama menjalankan antropologi kuantum.”
Paul tertawa.
“Mungkin justru kita yang terlambat belajar dari sungai.”
3. Superposisi: Ketika Lahan Bisa Menjadi Banyak Hal
Paul menggambar sebuah persegi panjang di kertas.
“Ini apa?” tanya Mang Udin.
“Lahan.”
“Lahan siapa?”
“Itu pertanyaan pertama.”
“Lahan pertanian?”
“Bisa.”
“Perkebunan?”
“Bisa.”
“Hutan?”
“Bisa.”
“Gambut?”
“Bisa.”
Mang Udin mulai bingung.
“Paul, kalau semuanya bisa, berarti kamu tidak tahu jawabannya.”
Paul tersenyum.
“Justru saya sedang mengatakan bahwa kita harus tahu karakteristiknya sebelum menentukan cara mengelolanya.”
Dalam bahasa metaforanya, Paul menyebut keadaan tersebut sebagai superposisi.
Satu bidang tanah dapat mempunyai berbagai fungsi dan konsekuensi.
Ia bukan hanya tempat menanam tanaman.
Ia dapat menjadi tempat penyimpanan karbon.
Ia dapat mengatur air.
Ia dapat menjadi habitat.
Ia dapat menjadi sumber pangan.
Ia dapat menjadi sumber pendapatan.
Ia dapat menjadi ruang hidup masyarakat.
Dan ketika kondisinya berubah, ia dapat menjadi sumber risiko.
“Jadi,” kata Mang Udin, “tanah tidak boleh dilihat cuma dari berapa ton hasil panennya?”
“Ya.”
“Kalau begitu, selama ini kita mungkin terlalu sibuk menghitung hasil.”
“Dan lupa menghitung apa yang hilang.”
Mang Udin diam.
Paul menulis di bukunya:
Produksi yang terlihat sering lebih mudah dihitung daripada perlindungan yang tidak terjadi.
4. Efek Pengamat: Ketika Cara Melihat Mengubah Cara Bertindak
Paul kemudian membuka berita tentang kebakaran.
Ia menunjuk sebuah judul.
“Lihat.”
“Apa?”
“Cara berita itu mendefinisikan masalah.”
Mang Udin membaca.
“Lalu?”
“Kalau kita mengatakan ‘masyarakat membakar hutan’, perhatian kita akan menuju pelaku.”
“Bukankah pelaku memang harus dicari?”
“Tentu. Tetapi kalau kita mengatakan ‘lanskap mengalami peningkatan risiko kebakaran akibat kombinasi kondisi lahan, tata air, cuaca, bahan bakar, dan aktivitas manusia’, pertanyaan kita menjadi lebih banyak.”
Mang Udin mengangguk.
“Kita mulai bertanya tentang kondisi lahannya.”
“Ya.”
“Airnya.”
“Ya.”
“Pengelolaannya.”
“Ya.”
“Dan siapa yang bertanggung jawab.”
“Betul.”
Paul lalu tersenyum.
“Inilah yang saya sebut efek pengamat.”
“Jadi wartawan bisa membuat kebakaran?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Cara kita melihat masalah menentukan pertanyaan yang kita ajukan. Pertanyaan menentukan data yang kita cari. Data memengaruhi keputusan. Jadi, pengamatan sosial mempunyai konsekuensi.”
Mang Udin mengangguk.
“Berarti kalau sejak awal pertanyaannya salah, kita bisa bekerja sangat keras untuk menghasilkan jawaban yang salah.”
Paul menunjuk Mang Udin.
“Persis.”
“Wah.”
Mang Udin menyeruput kopi.
“Berarti selama ini bukan hanya hutannya yang harus diawasi. Cara berpikir kita juga harus diawasi.”
Paul tersenyum.
“Sekarang Mang Udin sudah mulai menjadi antropolog.”
5. Keterjeratan: Asap Tidak Punya KTP
Siang hari, Paul berjalan di tepian Sungai Kapuas.
Ia melihat air bergerak perlahan.
Ia kemudian teringat pada asap.
Asap juga bergerak.
Ia tidak membawa kartu identitas.
Tidak ada asap yang berkata:
“Saya asap dari perusahaan A.”
“Saya asap dari desa B.”
“Saya asap dari kabupaten C.”
Asap hanya bergerak mengikuti kondisi atmosfer.
Paul menulis:
Asap tidak mempunyai KTP.
Kemudian ia menambahkan:
Air juga tidak mempunyai KTP.
Dan:
Ekologi tidak mempunyai batas administratif.
Inilah yang bagi Paul merupakan metafora paling kuat dari keterjeratan.
Sebuah sistem dapat terdiri atas banyak bagian yang berbeda, tetapi nasib bagian-bagian tersebut tetap saling terkait.
Petani terkait dengan pasar.
Perusahaan terkait dengan masyarakat.
Perkebunan terkait dengan air.
Air terkait dengan gambut.
Gambut terkait dengan karbon.
Karbon terkait dengan iklim.
Iklim terkait dengan risiko kebakaran.
Dan kebakaran terkait dengan kesehatan manusia.
“Kalau begitu,” kata Paul kepada dirinya sendiri, “mengapa organisasi kita sering bekerja seolah-olah semua itu tidak berhubungan?”
Ia berhenti.
Pertanyaan itu lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
6. Dekoherensi: Ketika Semua Orang Bekerja, Tetapi Sistem Tidak Bekerja
Malamnya Paul kembali ke warung.
Mang Udin sudah menunggu.
“Bagaimana penelitianmu?”
“Menemukan masalah.”
“Masalah apa?”
“Semua orang bekerja.”
Mang Udin tertawa.
“Itu bukan masalah.”
“Bisa menjadi masalah kalau semua orang bekerja sendiri-sendiri.”
Paul mengambil beberapa lembar kertas.
Ia menggambar beberapa lingkaran.
“Hutan.”
“Perkebunan.”
“Pertanian.”
“Pemerintah.”
“Masyarakat.”
“Pemadam.”
“Penegak hukum.”
“Kesehatan.”
“Pendidikan.”
Semuanya terpisah.
“Ini seperti apa?” tanya Mang Udin.
“Seperti orkestra tanpa konduktor.”
“Bukankah masing-masing tetap bisa memainkan alat musik?”
“Bisa.”
“Lalu?”
“Musiknya belum tentu menjadi lagu.”
Paul menyebut keadaan itu dekoherensi.
Dalam cerita ini, istilah tersebut digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan melemahnya hubungan, koordinasi, nilai bersama, dan kapasitas kolektif.
Bukan berarti lembaga-lembaga tersebut tidak bekerja.
Mereka bekerja.
Masalahnya, pekerjaan masing-masing belum tentu menghasilkan sistem yang bekerja sebagai satu kesatuan.
Mang Udin menggaruk kepala.
“Jadi bisa saja semua orang sibuk, tetapi kebakaran tetap terjadi.”
“Ya.”
“Wah, ini mirip rapat.”
Paul tertawa.
“Jangan bawa rapat ke sini.”
7. Agnotologi: Ketika Semua Orang Tahu tetapi Tidak Ada yang Tahu
Paul kemudian membuka catatan lain.
“Ini yang paling menarik.”
“Apa?”
“Agnotologi.”
“Namanya saja sudah susah.”
“Intinya adalah mempelajari bagaimana ketidaktahuan terbentuk, dipertahankan, atau dilembagakan.”
Mang Udin berpikir.
“Jadi orang dibuat tidak tahu?”
“Kadang bisa begitu. Tetapi tidak selalu disengaja.”
Paul menjelaskan bahwa ketidaktahuan dapat muncul karena banyak sebab.
Data tidak tersedia.
Data tidak dibagikan.
Pengetahuan tidak masuk ke keputusan.
Lembaga bekerja dalam silo.
Pengalaman tidak diwariskan.
Orang berganti.
Prioritas berubah.
Anggaran bergeser.
Dan akhirnya, sebuah pengetahuan yang sebenarnya sudah ada menjadi tidak efektif.
“Jadi,” kata Mang Udin, “kita bisa memiliki perpustakaan penuh buku tentang kebakaran, tetapi tetap gagal mencegah kebakaran?”
“Bisa.”
“Ini namanya apa?”
Paul tersenyum.
“Pengetahuan yang tidak sampai ke tindakan.”
Mang Udin mengangkat alis.
“Kalau begitu, kita tidak kekurangan pengetahuan saja.”
“Benar.”
“Mungkin kita kekurangan organisasi yang membuat pengetahuan itu bekerja.”
Paul mengangguk.
“Sekarang kita mulai sampai ke persoalan yang lebih dalam.”
8. Paul Membaca Gambut
Beberapa hari kemudian, Paul pergi melihat kawasan gambut.
Ia memperhatikan permukaan tanah dan saluran air.
Ia teringat pada sebuah prinsip sederhana:
Jika kita mengubah air, kita mengubah gambut.
Dan jika kita mengubah gambut, kita dapat mengubah risiko kebakaran.
Paul tidak melihat gambut sebagai tanah kosong yang menunggu diberi fungsi ekonomi.
Ia melihatnya sebagai sistem kehidupan.
Ada air.
Ada bahan organik.
Ada karbon.
Ada tumbuhan.
Ada mikroorganisme.
Ada masyarakat.
Ada kegiatan ekonomi.
Ada risiko.
Ia kemudian menulis:
Gambut bukan sekadar tempat menanam komoditas. Gambut adalah sistem hidrologis yang kebetulan dapat memiliki fungsi ekonomi.
Mang Udin membaca kalimat itu.
“Kalau begitu, orang yang mengelola gambut harus mengerti air.”
“Betul.”
“Bukan hanya tanaman?”
“Betul.”
“Dan kalau orang yang mengelola tanaman tidak mengerti air?”
“Risikonya meningkat.”
Mang Udin mengangguk.
“Berarti tanaman tidak bisa menyuruh air mengikuti keinginannya.”
Paul tertawa.
“Sayangnya, dalam kebijakan kadang-kadang manusia mengira alam harus mengikuti struktur organisasi.”
9. Dari Atomisasi Menuju Keutuhan
Paul mulai memahami sesuatu.
Selama ini, banyak kebijakan cenderung memecah persoalan menjadi bagian-bagian.
Hutan menjadi urusan kehutanan.
Perkebunan menjadi urusan perkebunan.
Pertanian menjadi urusan pertanian.
Air menjadi urusan pengelolaan air.
Kebakaran menjadi urusan pemadaman.
Masyarakat menjadi urusan sosial.
Ekonomi menjadi urusan ekonomi.
Padahal di lapangan semuanya bertemu.
Paul menyebut kecenderungan tersebut sebagai atomisasi.
Bukan atom dalam arti fisika, melainkan kecenderungan memecah persoalan menjadi unit-unit yang terpisah sehingga hubungan di antara unit tersebut menjadi kurang terlihat.
Ia kemudian menulis lawannya:
Keutuhan.
Keutuhan tidak berarti semua lembaga harus dilebur menjadi satu.
Keutuhan berarti masing-masing bagian memahami hubungan dengan bagian lainnya.
Seperti tubuh manusia.
Jantung tidak perlu menjadi paru-paru.
Paru-paru tidak perlu menjadi otak.
Tetapi semuanya harus bekerja dalam satu sistem kehidupan.
Paul menutup buku.
“Barangkali kita tidak memerlukan satu lembaga yang mengerjakan semuanya.”
Mang Udin bertanya:
“Lalu apa yang kita perlukan?”
“Lembaga-lembaga yang tahu apa tugasnya, tetapi juga tahu bahwa tugasnya berhubungan dengan tugas orang lain.”
10. Paul Menemukan Koperasi di Tengah Api
Suatu sore, Paul kembali ke warung.
Ia membawa pertanyaan baru.
“Bagaimana kalau masyarakat tidak hanya dijadikan objek kebijakan?”
Mang Udin menatapnya.
“Maksudnya?”
“Bagaimana kalau masyarakat menjadi bagian dari kapasitas pencegahan?”
“Seperti kelompok masyarakat peduli api?”
“Bisa. Tetapi lebih jauh.”
Paul menjelaskan tentang koperasi.
Koperasi bukan sekadar tempat meminjam uang.
Dalam pemikirannya, koperasi dapat menjadi infrastruktur sosial.
Orang yang mempunyai hubungan ekonomi bersama mempunyai alasan untuk menjaga hubungan tersebut.
Jika masyarakat mempunyai usaha yang bergantung pada lingkungan yang sehat, maka perlindungan lingkungan bukan lagi sekadar perintah dari luar.
Ia menjadi kepentingan bersama.
“Jadi koperasi bisa membantu mencegah kebakaran?”
“Bukan menggantikan pemadam kebakaran.”
“Lalu?”
“Menjadi bagian dari sistem sosial yang membuat pencegahan lebih kuat.”
Paul kemudian menulis tujuh kata:
Nilai. Hubungan. Kapasitas. Adaptasi. Waktu. Cadangan. Generasi.
Ia tersenyum.
“Koperasi Kuantum.”
Mang Udin menghela napas.
“Paul, jangan bilang setelah ini warung kopi saya juga harus masuk koperasi kuantum.”
Paul tertawa.
“Tidak.”
“Syukurlah.”
“Warung Mang Udin cukup menjadi warung yang tidak membakar hutan.”
Mang Udin tertawa.
“Itu target yang masuk akal.”
11. Api Sebagai Cermin Peradaban
Malam semakin larut.
Paul berdiri di depan Sungai Kapuas.
Ia memandang air yang memantulkan cahaya lampu.
Ia berpikir tentang antropologi.
Tentang manusia.
Tentang alam.
Tentang organisasi.
Tentang pengetahuan.
Tentang api.
Ia akhirnya memahami bahwa karhutla bukan hanya masalah bagaimana manusia menghadapi api.
Karhutla juga merupakan cermin.
Api memperlihatkan bagaimana manusia memperlakukan alam.
Ia memperlihatkan apakah pengetahuan menjadi keputusan.
Ia memperlihatkan apakah organisasi mampu bekerja bersama.
Ia memperlihatkan apakah keuntungan dapat dipisahkan dari tanggung jawab.
Ia memperlihatkan apakah masyarakat dipandang sebagai objek atau subjek.
Dan ia memperlihatkan apakah sebuah bangsa mampu belajar dari kesalahan yang sama.
Paul tersenyum pahit.
“Api ternyata seorang antropolog yang sangat rajin.”
Mang Udin yang berdiri di belakangnya bertanya:
“Maksudnya?”
“Api memperlihatkan kepada kita siapa kita sebenarnya.”
Mang Udin diam.
Paul melanjutkan:
“Kalau setelah kebakaran kita hanya bertanya bagaimana memadamkan api, kita mungkin belum membaca pesan api itu.”
“Lalu pesan apa?”
Paul melihat ke arah hulu.
“Bahwa sistem kita mempunyai masalah.”
12. Paul dan Masa Depan Indonesia
Paul teringat pada pertanyaan yang selalu menghantuinya:
Mengapa negara-negara tropika dengan kekayaan alam yang begitu besar sering kesulitan mengubah kekayaan tersebut menjadi kemakmuran yang berkelanjutan?
Ia tidak mempunyai jawaban tunggal.
Tetapi karhutla memberinya satu petunjuk.
Kekayaan alam tidak otomatis menjadi kekayaan bangsa.
Hutan yang ditebang tanpa pemulihan dapat menjadi kehilangan.
Gambut yang dikeringkan tanpa pengendalian dapat menjadi risiko.
Tanah yang dikelola tanpa memperhatikan daya dukung dapat menjadi beban.
Pengetahuan yang tidak menjadi keputusan dapat menjadi sekadar arsip.
Organisasi yang tidak sesuai dengan karakteristik sumber daya dapat menjadi mesin yang sibuk tetapi tidak efektif.
Paul kemudian menulis kalimat terakhir malam itu:
“Bangsa yang kaya sumber daya alam tetapi miskin kapasitas kolektif akan terus bertanya siapa yang membakar hutan, tanpa pernah cukup bertanya mengapa sistemnya memungkinkan hutan terbakar.”
Ia menatap Sungai Kapuas.
Air terus mengalir.
Tidak ada rapat.
Tidak ada konferensi pers.
Tidak ada slogan.
Sungai hanya bekerja.
Menghubungkan hulu dengan hilir.
Membawa kehidupan dari satu tempat ke tempat lain.
Paul tersenyum.
“Kalau manusia mau belajar dari sungai,” katanya, “mungkin kita akan mengerti bahwa keterhubungan bukan teori. Ia adalah kenyataan.”
Epilog: Anak Kapuas
Mang Udin mematikan lampu warung.
“Paul.”
“Ya?”
“Kamu orang Amerika.”
“Dulu.”
“Sekarang Indonesia.”
“Ya.”
“Kenapa kamu begitu memikirkan Indonesia?”
Paul diam sebentar.
Kemudian ia menjawab:
“Karena saya sudah memilih rumah saya.”
Mang Udin tersenyum.
Paul memandang Sungai Kapuas.
“Saya bukan orang Indonesia karena saya menganggap Indonesia sempurna.”
“Lalu?”
“Saya menjadi orang Indonesia karena saya percaya Indonesia bisa menjadi lebih baik.”
Ia berhenti.
“Dan kalau saya sudah memilih menjadi bagian dari negeri ini, saya tidak mau hanya menikmati hasilnya. Saya juga harus ikut memikirkan masalahnya.”
Mereka berjalan pulang.
Di belakang mereka Sungai Kapuas terus mengalir.
Di tempat lain, api mungkin masih menyala.
Tetapi Paul mulai melihat persoalan itu dengan cara berbeda.
Api bukan hanya sesuatu yang harus dipadamkan.
Api adalah pertanyaan.
Pertanyaan tentang manusia.
Pertanyaan tentang alam.
Pertanyaan tentang pengetahuan.
Pertanyaan tentang organisasi.
Dan pada akhirnya, pertanyaan tentang peradaban.
CATATAN PENULIS: Cerpen ini merupakan karya fiksi dan satire sosial. Tokoh Paul, dialog, pemikiran, dan peristiwa di dalamnya merupakan hasil imajinasi. Sintang dan Sungai Kapuas digunakan sebagai latar geografis. Istilah “antropologi kuantum” dalam cerita digunakan sebagai metafora konseptual, bukan sebagai pernyataan bahwa mekanika kuantum secara harfiah menjelaskan perilaku masyarakat atau kebakaran hutan dan lahan.
Bersambung ke #3: Paul dan Gambut yang Tidak Mau Menjadi Tanah Biasa.





Komentar