Penulis: Agus Pakpahan
Pagi itu Paul datang lebih awal ke kantor CUKK.
Ia membawa dua benda.
Satu buku catatan.
Satu lagi peta.
Tidak ada proposal tebal.
Tidak ada PowerPoint.
Tidak ada spanduk bertuliskan GRAND DESIGN KOPERASI PENANGGULANGAN KARHUTLA.
Paul sengaja tidak membawanya.
Ia sudah belajar dari pengalaman.
Di Indonesia, sebuah gagasan kadang-kadang baru dianggap serius kalau dokumennya cukup tebal untuk membuat meja rapat kelihatan pendek.
Paul meletakkan peta di atas meja.
Seorang pengurus CUKK masuk.
“Pak Paul, proposalnya mana?”
Paul menunjuk peta.
“Ini.”
“Proposal?”
“Peta.”
“Kenapa peta?”
“Karena api tidak membaca proposal.”
Pengurus itu tertawa.
“Benar juga.”
Paul membuka peta.
“Kalau kita mau membangun koperasi penanggulangan karhutla, kita harus mulai dari tempat api bekerja.”
Ia menunjuk beberapa wilayah.
“Di sini ada hutan.”
“Di sini perkebunan.”
“Di sini desa.”
“Di sini sungai.”
“Di sini gambut.”
“Dan di antara semuanya ada manusia.”
Paul berhenti.
“Jadi, pertanyaannya bukan lagi: siapa yang memadamkan api?”
Ia mengangkat kepalanya.
“Pertanyaannya: siapa yang mempunyai kepentingan untuk mencegah api menjadi bencana?”
1. PERTANYAAN YANG MEMBUAT RUANG RAPAT SUNYI
Rapat dimulai.
Paul berdiri di depan papan tulis.
Ia menulis:
PENCEGAHAN = USAHA?
Seorang peserta langsung bertanya:
“Bagaimana maksudnya?”
“Begini.”
Paul mengambil spidol.
“Kalau kita memadamkan kebakaran, ada aktivitas ekonomi.”
Ia menulis:
alat → tenaga → bahan bakar → transportasi → jasa → biaya
“Semua itu membutuhkan uang.”
Kemudian ia menghapus sebagian tulisan.
“Tetapi kalau kita berhasil mencegah kebakaran, apa yang kita jual?”
Ruangan mendadak sunyi.
Paul tersenyum.
“Nah.”
Ia menunjuk tulisan tadi.
“Di situlah persoalannya.”
Pencegahan memiliki masalah ekonomi yang aneh.
Kalau berhasil, tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada asap.
Tidak ada api.
Tidak ada kerusakan.
Tidak ada berita televisi.
Tidak ada helikopter.
Tidak ada konferensi pers.
Tidak ada foto pejabat memakai masker.
Dan karena tidak ada bencana, orang sering bertanya:
“Untuk apa kita membayar pencegahan?”
Paul tertawa kecil.
“Ini mungkin satu-satunya bisnis di dunia di mana keberhasilan terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.”
2. PAUL MENJELASKAN EKONOMI YANG TERSEMBUNYI
Paul kemudian menggambar dua kolom.
BIAYA PENCEGAHAN
dan
BIAYA KEBAKARAN
Di kolom pertama ia menulis:
– pemetaan risiko;
– patroli;
– pemantauan;
– pelatihan;
– peralatan;
– pengelolaan vegetasi;
– pengelolaan tata air;
– sistem komunikasi;
– kesiapsiagaan masyarakat.
Di kolom kedua:
– kehilangan tanaman;
– kerusakan lahan;
– gangguan kesehatan;
– sekolah terganggu;
– transportasi terganggu;
– kehilangan produktivitas;
– emisi;
– kerusakan ekosistem;
– biaya pemadaman;
– kehilangan kepercayaan.
“Yang kita lihat biasanya kolom kedua,” kata Paul.
“Padahal kolom pertama adalah cara mengurangi kolom kedua.”
Seorang anggota bertanya:
“Jadi koperasi menjual pencegahan?”
Paul mengangguk.
“Lebih tepatnya, koperasi menyediakan jasa perlindungan dan ketangguhan lanskap.”
3. CUKK SUDAH PERNAH MELAKUKANNYA
Paul kembali kepada pengalaman CUKK.
“Justru karena CUKK sudah mempunyai pengalaman spin-out, kita tidak mulai dari nol.”
Ia menjelaskan bahwa pengalaman spin-out menunjukkan sesuatu yang penting.
Sebuah koperasi yang sehat tidak harus memaksa seluruh kebutuhan anggotanya ditangani oleh satu struktur yang sama.
Kadang-kadang suatu kebutuhan telah berkembang menjadi bidang yang membutuhkan:
– keahlian khusus;
– model bisnis tersendiri;
– tenaga profesional;
– sistem operasional sendiri;
– teknologi tertentu;
– jaringan mitra yang berbeda.
Maka lahirlah usaha atau lembaga baru.
Paul menulis:
SPIN-OUT = MEMPERBANYAK KAPASITAS, BUKAN MEMECAH KOPERASI
“Ini yang saya tangkap dari pengalaman CUKK,” katanya.
“Kalau pengalaman tersebut bisa digunakan untuk membangun koperasi penanggulangan karhutla, maka CUKK bukan sekadar mendanai gagasan.”
Ia berhenti.
“CUKK menjadi ibu yang melahirkan kapasitas baru.”
4. LALU MUNCUL PERTANYAAN YANG LEBIH SULIT
Seorang pengurus berkata:
“Baik. Tetapi bagaimana koperasi itu menghasilkan pendapatan?”
Paul mengangguk.
“Itu pertanyaan yang harus kita jawab sebelum koperasi berdiri.”
Ia menulis:
MODEL USAHA
Lalu satu per satu:
1. Jasa pemetaan risiko
Koperasi dapat menyediakan jasa pemetaan dan penilaian risiko bagi anggota atau mitra.
2. Jasa pemantauan
Pemantauan kondisi lahan, titik rawan, tata air, vegetasi, dan indikator risiko.
3. Pelatihan
Pelatihan masyarakat, pengelola lahan, dan organisasi lokal mengenai pencegahan serta kesiapsiagaan.
4. Penyediaan sarana
Pengadaan dan pemeliharaan peralatan pencegahan serta kesiapsiagaan.
5. Jasa pengelolaan lanskap
Membantu anggota atau mitra menjalankan rencana pengurangan risiko sesuai karakteristik lokasi.
6. Sistem informasi
Mengembangkan layanan informasi dan peringatan dini berbasis data.
7. Usaha ekonomi alternatif
Membantu masyarakat mengembangkan kegiatan ekonomi yang mengurangi tekanan terhadap penggunaan lahan berisiko.
8. Pemulihan
Mendukung pemulihan ekonomi dan ekologis setelah kejadian, sesuai kewenangan dan kompetensi.
Paul berhenti.
“Dan ada satu lagi.”
Semua menunggu.
“Jasa ketenangan.”
Seseorang tertawa.
“Jasa ketenangan?”
“Ya.”
Paul tersenyum.
“Bayangkan seorang pengelola lahan tidur malam dengan tenang karena sistem pencegahannya bekerja.”
“Berapa harganya?”
“Belum tahu.”
Semua tertawa.
Paul ikut tertawa.
“Tapi saya yakin lebih murah daripada tidur di hotel sambil melihat televisi memberitakan kebunnya terbakar.”
5. DARI PEMADAM KE PENJAGA
Paul kemudian membuat diagram sederhana.
MODEL LAMA
Api → Panik → Pemadaman → Kerugian → Pemulihan
Kemudian ia membuat model kedua.
MODEL KOPERASI
Pengetahuan → Pencegahan → Kesiapsiagaan → Pemantauan → Tindakan Dini → Ketangguhan
“Perbedaannya,” kata Paul, “adalah posisi manusia terhadap risiko.”
Dalam model pertama, manusia menunggu api.
Dalam model kedua, manusia membaca risiko sebelum api datang.
“Ini sebenarnya inti Koperasi Kuantum.”
Paul menunjuk lima pilar.
“Kesadaran dulu.”
“Hubungan kedua.”
“Adaptasi ketiga.”
“Pengamatan keempat.”
“Keutuhan kelima.”
“Kalau semuanya bekerja, koperasi bukan sekadar organisasi. Ia menjadi sistem pembelajaran.”
6. IGCTOD MASUK KE DALAM RAPAT
Seorang peserta membuka catatan.
“Pak Paul, bagaimana dengan IGCTOD?”
Paul tersenyum.
“Nah, akhirnya kita sampai juga.”
Ia menulis dengan huruf besar:
IGCTOD
Intrinsic Good Characteristics Theory of Organizational Design
Paul sengaja mengeja satu per satu.
“Intrinsic Good Characteristics Theory of Organizational Design.”
Seorang peserta bertanya:
“Kenapa teori itu penting?”
Paul menjawab:
“Karena organisasi jangan dirancang berdasarkan kebiasaan.”
Ia menunjuk peta.
“Organisasi harus dirancang berdasarkan karakteristik barang atau jasa yang dikelolanya.”
Karhutla mempunyai:
– interdependensi spasial;
– eksternalitas ekologis;
– ketergantungan temporal;
– kompleksitas biologis;
– kesulitan pemantauan;
– dan kemampuan pemulihan yang terbatas pada sebagian ekosistem.
“Kalau barang yang kita kelola memiliki karakteristik seperti itu,” katanya, “tidak masuk akal kalau organisasinya bekerja seperti toko kelontong.”
Ruangan tertawa.
Paul melanjutkan:
“Api bukan barang dagangan biasa.”
“Gambut bukan tanah kosong biasa.”
“Udara bersih bukan komoditas yang bisa kita simpan di gudang.”
“Karena itu desain organisasinya harus berbeda.”
7. PAUL MEMBUAT SATU KALIMAT
Paul mengambil spidol baru.
Ia menulis:
«”Jangan bertanya organisasi apa yang kita punya. Bertanyalah organisasi apa yang dibutuhkan oleh alam dan masyarakat.”»
Kemudian ia menambahkan:
«”Itulah pertanyaan IGCTOD.”»
Ia melihat kembali peta.
“Kita mungkin selama ini melakukan kebalikannya.”
“Kita punya kementerian.”
“Kita punya dinas.”
“Kita punya perusahaan.”
“Kita punya kelompok masyarakat.”
“Kita punya koperasi.”
“Lalu kita meminta alam menyesuaikan diri dengan struktur organisasi kita.”
Ia menggeleng.
“Alam tidak mau.”
8. KOPERASI PENANGGULANGAN KARHUTLA BUKAN PEMADAM KEBAKARAN
Paul kemudian membuat batas yang sangat jelas.
Koperasi baru ini:
bukan pengganti BPBD;
bukan pengganti Manggala Agni;
bukan pengganti pemadam profesional;
bukan pengganti kewajiban perusahaan;
bukan alat untuk mengambil alih kewenangan pemerintah.
“Jadi apa?” tanya seorang peserta.
Paul menjawab:
“Infrastruktur sosial-ekonomi untuk pencegahan.”
Ia menjelaskan bahwa koperasi dapat menjadi ruang untuk mengorganisasikan:
orang, pengetahuan, modal, teknologi, insentif, dan tanggung jawab.
“Kalau semua itu terhubung,” katanya, “masyarakat menjadi lebih kuat sebelum api datang.”
9. MALAM DI KAPUAS
Malam itu Paul kembali ke sungai.
Ia membawa catatan rapat.
Ia membaca kembali kalimat:
PENCEGAHAN = USAHA?
Ia tersenyum.
Ternyata jawabannya bukan sekadar “ya”.
Jawabannya adalah:
pencegahan harus menjadi nilai ekonomi, sosial, dan ekologis.
Kalau masyarakat memperoleh manfaat karena berhasil mencegah kebakaran, maka pencegahan memiliki nilai.
Kalau koperasi memperoleh pendapatan karena menyediakan jasa pencegahan yang benar-benar dibutuhkan, maka pencegahan menjadi usaha.
Kalau perusahaan memperoleh manfaat karena risiko produksinya turun, maka pencegahan mempunyai nilai ekonomi.
Kalau pemerintah menghemat biaya bencana, kesehatan, dan pemulihan, maka pencegahan mempunyai nilai fiskal.
Dan kalau anak-anak dapat bernapas tanpa asap, maka pencegahan mempunyai nilai yang bahkan sulit dihitung dengan uang.
Paul memandang Kapuas.
“Jadi ternyata kita tidak kekurangan nilai.”
Ia berhenti.
“Kita hanya belum pandai mengorganisasikannya.”
Air sungai terus bergerak.
Paul menutup buku.
Besok ia akan membawa gagasan itu kepada orang-orang yang selama ini hidup paling dekat dengan hutan dan lahan.
Petani.
Warga desa.
Pemuda.
Perempuan.
Pemilik lahan.
Dan mereka yang setiap tahun melihat langit berubah warna ketika musim kemarau datang.
Sebab koperasi tidak boleh lahir dari ruang rapat saja.
Ia harus lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.
Paul tersenyum.
“Kalau CUKK sudah pernah melakukan spin-out,” katanya, “mungkin kali ini kita harus melakukan spin-out untuk menyelamatkan sesuatu yang tidak bisa kita miliki.”
Ia melihat sungai sekali lagi.
“Masa depan.”
Dan untuk pertama kalinya, gagasan Koperasi Penanggulangan Karhutla mulai terdengar bukan sebagai cerita aneh seorang Amerika di Sintang.
Ia mulai terdengar seperti sebuah kemungkinan.
BERSAMBUNG KE EPISODE III






Komentar