oleh

SERIAL CERPEN KARHUTLA  #10:”Paul dan Hari Ketika Api Kehilangan Panggung”

Penulis: Agus Pakpahan

1. PAGI TANPA ASAP

Pagi itu Sintang terlihat berbeda.

Paul berdiri di tepi Sungai Kapuas.

Ia melihat air.

Ia melihat langit.

Ia melihat pohon-pohon di seberang sungai.

Tidak ada asap.

Paul menghirup udara dalam-dalam.

“Masih ada oksigen,” katanya.

Seorang pemuda yang berdiri di sampingnya tertawa.

“Memangnya kemarin tidak ada?”

“Ada.”

“Lalu?”

“Kemarin oksigennya harus berbagi dengan asap.”

Pemuda itu tertawa.

Paul tersenyum.

Tetapi ia tahu bahwa pagi tanpa asap bukan berarti persoalan selesai.

Api bisa padam.

Tetapi sistem yang membuat api mudah menjadi bencana masih bisa tetap menyala.

Itulah sebabnya hari itu Paul mengajak beberapa pemuda berkumpul di koperasi.

Bukan untuk membicarakan kebakaran.

Melainkan untuk membicarakan:

bagaimana agar kebakaran tidak menjadi cara alam mengingatkan kita setiap tahun.

2. RAPAT YANG TIDAK MEMBICARAKAN API

Ruangan koperasi penuh.

Ada petani.

Ada pemuda.

Ada pengurus koperasi.

Ada perwakilan desa.

Ada orang perusahaan.

Ada penyuluh.

Ada guru.

Ada seorang akademisi.

Paul berdiri di depan papan tulis.

Ia menulis:

“APA YANG HARUS KITA UBAH SEBELUM API DATANG?”

Seseorang berkata:

“Pencegahan.”

Paul mengangguk.

“Benar.”

Seseorang lain berkata:

“Patroli.”

“Benar.”

“Peralatan pemadam.”

“Benar.”

“Embung.”

“Benar.”

“Sekat bakar.”

“Benar.”

“Menjaga gambut tetap basah.”

“Benar.”

Paul kemudian bertanya:

“Apakah semua itu cukup?”

Ruangan diam.

Paul tersenyum.

“Kalau cukup, mengapa kita masih berkumpul?”

Tidak ada yang menjawab.

3. PAUL MENGGAMBAR LIMA LINGKARAN

Paul mengambil spidol.

Ia menggambar lima lingkaran.

Di lingkaran pertama ia menulis:

KESADARAN

Di kedua:

HUBUNGAN

Di ketiga:

KEMUNGKINAN

Di keempat:

TINDAKAN

Di kelima:

KEUTUHAN

“Ini yang saya pelajari dari Prof. AP tentang Koperasi Kuantum,” katanya.

Seorang pemuda bertanya:

“Hubungannya dengan karhutla apa?”

Paul menjawab:

“Semuanya.”

Ia menunjuk lingkaran pertama.

“Kalau kita tidak menyadari bahwa gambut adalah sistem kehidupan, kita akan memperlakukannya sebagai tanah kosong.”

Lingkaran kedua.

“Kalau petani, perusahaan, pemerintah dan masyarakat tidak saling percaya, informasi tidak bergerak.”

Lingkaran ketiga.

“Kalau kita hanya berpikir ada satu cara mengelola lahan, kita tidak melihat pilihan lain.”

Lingkaran keempat.

“Kalau semua orang setuju tetapi tidak ada yang melakukan apa-apa, asap tetap datang.”

Lingkaran kelima.

“Dan kalau kita hanya menyelesaikan satu bagian, masalah akan berpindah ke bagian lain.”

Paul menatap peserta.

“Jadi koperasi bukan sekadar tempat simpan-pinjam.”

“Dalam konteks ini, koperasi adalah tempat masyarakat membangun kapasitas untuk bertindak bersama.”

4. PETANI BERTANYA

Seorang petani tua mengangkat tangan.

“Paul.”

“Ya.”

“Kalau kami diminta menjaga hutan dan lahan, kami hidup dari mana?”

Paul diam sebentar.

Itulah pertanyaan yang sering hilang dari rapat-rapat besar.

Orang berbicara tentang hutan.

Tentang karbon.

Tentang biodiversitas.

Tentang target emisi.

Tetapi jarang bertanya:

“Besok keluarga petani makan apa?”

Paul menjawab:

“Itulah sebabnya pencegahan kebakaran tidak boleh dipisahkan dari ekonomi.”

Ia menulis:

EKOLOGI + EKONOMI + SOSIAL

Kemudian ia beri garis bawah.

“Kalau menjaga lahan berarti kehilangan pendapatan, kita sedang meminta orang miskin membayar biaya perlindungan untuk semua orang.”

Seorang pemuda menyela:

“Lalu siapa yang membayar?”

Paul tersenyum.

“Nah.”

“Itulah pertanyaan ekonomi yang sesungguhnya.”

5. DANA YANG BIASANYA DATANG TERLAMBAT

Paul membuka sebuah map.

“Berapa biaya pemadaman ketika kebakaran sudah besar?”

Tidak ada angka yang langsung keluar.

“Berapa biaya kesehatan?”

Tidak ada.

“Berapa kerugian sekolah?”

Tidak ada.

“Berapa kehilangan produktivitas?”

Tidak ada.

“Berapa nilai karbon yang terlepas?”

Ruangan kembali diam.

Paul berkata:

“Kita sering menghitung biaya pencegahan dengan sangat teliti.”

“Tetapi biaya kegagalan pencegahan sering dianggap sebagai nasib.”

Ia menulis:

BIAYA PENCEGAHAN

kemudian:

BIAYA BENCANA

“Kalau biaya bencana jauh lebih besar, mengapa anggaran pencegahan selalu terasa seperti pengeluaran yang harus dihemat?”

Seorang pemuda menjawab:

“Karena kalau tidak ada kebakaran, orang merasa uangnya tidak terpakai.”

Paul tertawa.

“Persis.”

“Pencegahan yang berhasil memang mempunyai masalah pemasaran.”

“Apa masalahnya?”

“Tidak ada tontonan.”

6. PEMADAM YANG TIDAK PERNAH MASUK BERITA

Paul melanjutkan:

“Orang yang berhasil memadamkan kebakaran mendapat berita.”

“Orang yang berhasil mencegah kebakaran hampir tidak pernah masuk berita.”

Ia menulis:

API BESAR = BERITA BESAR

Kemudian:

API TIDAK TERJADI = BERITA TIDAK ADA

Semua tertawa.

Tetapi kemudian seorang guru berkata:

“Berarti ukuran keberhasilan kita salah.”

Paul menoleh.

“Ya.”

“Kita terlalu mudah menghargai heroisme setelah bencana.”

“Padahal peradaban membutuhkan kepahlawanan yang lain.”

“Apa?”

Paul menjawab:

«“Kepahlawanan untuk melakukan pekerjaan penting ketika tidak ada seorang pun yang melihat.”»

7. KOPERASI MEMBUAT JANJI

Hari itu koperasi membuat keputusan.

Bukan keputusan yang spektakuler.

Mereka membuat daftar pekerjaan.

Pertama, memetakan kawasan rawan.

Kedua, mengidentifikasi sumber air.

Ketiga, membangun jaringan informasi masyarakat.

Keempat, menghubungkan informasi lapangan dengan pemerintah dan perusahaan.

Kelima, mengembangkan mata pencaharian yang mengurangi tekanan terhadap kawasan rentan.

Keenam, menyediakan dana bersama untuk kegiatan pencegahan.

Ketujuh, melakukan latihan sebelum musim kering.

Kedelapan, mencatat setiap kejadian dan mempelajarinya.

Kesembilan, membuat mekanisme penghargaan bagi anggota yang berhasil menjaga wilayahnya.

Kesepuluh, memastikan bahwa koperasi tidak mengambil alih kewenangan negara atau kewajiban perusahaan.

Paul membaca daftar itu.

“Ini bukan revolusi.”

Seorang pemuda berkata:

“Lalu apa?”

“Ini lebih sulit.”

“Apa?”

“Kebiasaan baru.”

8. IGCTOD TURUN DARI BUKU

Seorang pemuda mengingat buku yang dibawa Paul beberapa hari sebelumnya.

“Paul.”

“Ya?”

“Teori yang ada di buku Prof. AP itu bisa dipakai di sini?”

“Teori yang mana?”

“IGCTOD.”

Paul tersenyum.

“Intrinsic Good Characteristics Theory of Organizational Design.”

Ia mengambil papan tulis.

“Jangan hanya menghafal namanya.”

“Gunakan pertanyaannya.”

Paul menulis:

Apa yang sebenarnya kita kelola?

“Gambut?”

“Ya.”

“Air?”

“Ya.”

“Tanaman?”

“Ya.”

“Udara?”

“Ya.”

“Masyarakat?”

“Ya.”

Paul mengangguk.

“Berarti kita tidak sedang mengelola satu benda.”

“Kita mengelola suatu sistem dengan hubungan yang rumit.”

Ia menulis:

KARAKTERISTIK SUMBER DAYA → RISIKO → KEBUTUHAN KOORDINASI → DESAIN ORGANISASI

“Kalau begitu,” katanya, “organisasi kita juga harus berubah.”

9. DARI KOPERASI KE EKOSISTEM

Seorang pemuda berkata:

“Jadi koperasi harus menjadi organisasi besar?”

Paul menggeleng.

“Tidak.”

“Harus menjadi pemerintah?”

“Tidak.”

“Harus menggantikan perusahaan?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Paul menunjuk gambar lima lingkaran.

“Koperasi harus menjadi penghubung yang dipercaya.”

Ia menjelaskan:

“Pemerintah mempunyai kewenangan.”

“Perusahaan mempunyai kewajiban dan sumber daya.”

“Akademisi mempunyai pengetahuan.”

“Masyarakat mempunyai pengalaman dan kedekatan dengan lanskap.”

“Pemadam mempunyai kemampuan teknis.”

“Koperasi dapat menghubungkan semuanya melalui kepentingan bersama.”

Ia berhenti.

“Bukan mengambil alih.”

“Bukan menguasai.”

“Melainkan membuat kapasitas yang tersebar menjadi kapasitas kolektif.”

10. ANAK SUNGAI KAPUAS

Seorang pemuda bertanya:

“Paul, Anda orang Amerika. Mengapa Anda begitu peduli dengan Kapuas?”

Paul tertawa.

“Saya memang lahir di Amerika.”

“Tetapi sekarang saya anak Sungai Kapuas.”

Pemuda itu tersenyum.

“Bagaimana bisa?”

Paul menunjuk sungai.

“Karena manusia tidak hanya menjadi milik tempat ia dilahirkan.”

“Manusia juga menjadi milik tempat yang ia rawat.”

Ia diam sejenak.

“Kalau saya minum air dari Kapuas, makan dari tanah Kalimantan, hidup bersama masyarakatnya, dan anak-anak saya menghirup udara di sini, bagaimana mungkin saya mengatakan bahwa ini bukan urusan saya?”

Tidak ada yang menjawab.

Paul melanjutkan:

“Menjadi bagian dari suatu tempat bukan hanya soal darah.”

“Kadang-kadang soal tanggung jawab.”

11. HARI KETIKA API DATANG

Beberapa minggu kemudian, kabar datang.

Ada titik panas.

Orang-orang mulai bergerak.

Tetapi kali ini tidak ada kepanikan.

Peta dibuka.

Lokasi diperiksa.

Informasi dikonfirmasi.

Orang yang bertanggung jawab dihubungi.

Sumber air disiapkan.

Tim lapangan bergerak.

Pemerintah diberi informasi.

Perusahaan diminta menjalankan kewajibannya.

Masyarakat menjaga wilayah masing-masing.

Api ditemukan ketika masih kecil.

Dan kali ini cerita berakhir berbeda.

Api padam sebelum menjadi kebakaran besar.

Tidak ada helikopter.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada pejabat yang berdiri di depan kamera.

Tidak ada pidato heroik.

Hanya beberapa orang yang pulang dengan pakaian kotor dan sepatu berlumpur.

Seorang pemuda berkata:

“Paul, kita berhasil.”

Paul menggeleng.

“Bukan.”

“Tidak berhasil?”

“Justru berhasil.”

“Lalu kenapa bilang bukan?”

“Karena yang berhasil bukan kita memadamkan api.”

“Yang berhasil adalah sistem kita bekerja.”

12. API KEHILANGAN PANGGUNG

Malam itu Paul kembali ke tepi Kapuas.

Sungai mengalir tenang.

Ia membuka buku catatannya.

Di halaman terakhir ia menulis:

API TIDAK HILANG.

Kemudian:

KITA YANG BERUBAH.

Paul berpikir tentang seluruh perjalanan mereka.

Dari api sebagai alat manusia.

Ke kebakaran.

Dari hutan.

Ke perkebunan.

Dari gambut.

Ke tata air.

Dari pengetahuan.

Ke agnotologi.

Dari komoditas.

Ke lanskap.

Dari organisasi.

Ke IGCTOD.

Dari individu.

Ke koperasi.

Dari pemadaman.

Ke pencegahan.

Dan akhirnya:

DARI MENGELOLA SUMBER DAYA ALAM MENJADI MEMELIHARA SISTEM KEHIDUPAN.

Paul menutup buku.

Ia teringat kalimat yang pernah ia katakan kepada para pemuda:

“Buku lebih murah daripada lima bungkus rokok.”

Ia tertawa sendiri.

Kemudian ia menambahkan:

“Dan berpikir lebih murah daripada memadamkan kebakaran.”

13. EPILOG: PAUL MENJADI ANAK KAPUAS

Pagi berikutnya Paul berjalan di tepi sungai.

Seorang anak kecil berlari menghampirinya.

“Om Paul!”

“Ya?”

“Kenapa sungainya tidak terbakar?”

Paul tertawa.

“Karena sungai tidak mudah terbakar.”

Anak itu berpikir.

“Kalau hutannya?”

Paul berjongkok.

“Hutan bisa terbakar.”

“Siapa yang harus menjaganya?”

Paul tidak langsung menjawab.

Ia menunjuk sungai.

“Kamu lihat air itu?”

Anak itu mengangguk.

“Kalau kamu tinggal di hulu dan membuang sesuatu ke sungai, apakah orang di hilir bisa merasakannya?”

“Bisa.”

“Kalau begitu, bagaimana dengan hutan?”

Anak itu mulai mengerti.

“Kalau hutan terbakar di sana, orang di sini bisa kena asap.”

Paul tersenyum.

“Betul.”

Anak itu bertanya:

“Jadi siapa yang menjaga?”

Paul memandang Sungai Kapuas.

Kemudian menjawab:

“Kita semua. Tetapi masing-masing harus menjalankan tanggung jawabnya.”

Anak itu berlari kembali.

Paul berdiri.

Sungai Kapuas mengalir dari hulu ke hilir.

Tidak mengenal batas administrasi.

Tidak mengenal sektor.

Tidak mengenal ego organisasi.

Ia hanya mengalir.

Paul tersenyum.

Kini ia benar-benar memahami arti menjadi anak sungai Kapuas.

Bukan sekadar tinggal di dekat sungai.

Tetapi memahami bahwa hidup seseorang selalu terhubung dengan kehidupan yang lain.

Dan mungkin, pikir Paul, itulah inti Koperasi Kuantum:

«Kita tidak menjadi kuat karena berdiri sendiri. Kita menjadi kuat karena mampu mengubah keterhubungan menjadi tindakan bersama.»

Di belakangnya, matahari mulai naik.

Tidak ada asap.

Tidak ada api.

Tidak ada rapat darurat.

Hanya sungai, manusia, hutan, dan kehidupan yang terus berjalan.

Untuk sementara.

Sebab Paul tahu:

peradaban tidak pernah selesai dibangun.

Ia harus dipelihara setiap hari.

Dan setiap musim kemarau, manusia akan kembali diuji oleh api.

Tetapi kali ini mereka mempunyai sesuatu yang sebelumnya sering hilang:

kesadaran, pengetahuan, organisasi, kepercayaan, dan kemauan untuk bertindak bersama.

Paul menatap Kapuas.

“Sekarang,” katanya pelan,

“biarlah api tetap menjadi alat. Jangan biarkan ia menjadi penguasa.”

TAMAT

Komentar