oleh

#5a. SERI CERPEN BEKATUL : “Ojak Orang Tarigu Dan Empat Pertanyaan Sebelum Melangkah”

Penulis: Agus Pakpahan

1. Kongres Gizi dan Sebungkus Bekatul

Ojak Orang Tarigu tidak pernah membayangkan dirinya akan menghadiri Kongres Gizi Nasional.

Ia hanyalah warga Kampung Tarigu, Desa Mandalaherang, yang belakangan dikenal sebagai orang yang gemar membicarakan bekatul. Di kampungnya, sebagian orang menganggap bekatul sebagai pakan ayam. Sebagian lain menganggapnya barang sisa yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.

Namun Ojak mempunyai pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya: Mengapa sesuatu yang masih memiliki potensi gizi justru sering dipandang tidak berharga?

Pertanyaan itu membawanya ke Kongres Gizi Nasional. Dengan pakaian terbaik yang dimilikinya dan sebuah kantong kecil berisi bekatul sebagai contoh, Ojak memasuki gedung kongres dengan perasaan campur aduk.

Ia kagum melihat ruangan yang luas, layar presentasi, para profesor, dokter, ahli gizi, peneliti, dan mahasiswa yang berdiskusi dengan penuh semangat.

Tetapi setelah mendengarkan beberapa paparan, Ojak mulai gelisah.

Banyak istilah ilmiah yang belum dipahaminya. Ada pembicaraan tentang protein, mikronutrien, metabolisme, pangan fungsional, dan intervensi gizi. Semuanya terdengar penting.

Namun satu pertanyaan terus berputar di kepalanya: bagaimana pengetahuan itu sampai ke dapur keluarga di kampung?

Ketika sesi tanya jawab dibuka, Ojak mengangkat tangan.

“Maaf, Bapak-Ibu. Saya ingin bertanya. Kita berbicara tentang gizi, pangan, dan kesehatan. Tetapi bagaimana kalau di desa kami ada bahan pangan yang potensial, seperti bekatul, yang selama ini dianggap hanya cocok untuk pakan ayam? Apakah kita bisa menelitinya dan mengembangkannya sebagai bahan pangan manusia?”

Beberapa peserta menoleh.

Seorang peserta berbisik kepada temannya, “Bekatul?”

Ojak mendengarnya, tetapi ia meneruskan pertanyaannya.

“Saya tidak mengatakan bekatul pasti lebih baik daripada makanan lain. Saya juga tidak mengatakan bekatul bisa menyembuhkan penyakit. Saya hanya ingin tahu: apakah sesuatu yang selama ini kita anggap hasil samping layak diteliti dengan serius?”

Moderator mempersilakan seorang peneliti menjawab.

“Pertanyaan itu menarik. Bekatul memang mengandung berbagai zat gizi dan senyawa bioaktif, tetapi komposisinya bervariasi. Pengembangan untuk pangan manusia memerlukan penelitian, pengolahan yang tepat, pengendalian mutu, dan pengujian keamanan.”

Ojak mengangguk.

Jawaban itu tidak menyelesaikan seluruh pertanyaannya. Justru, ia merasa menemukan pintu yang selama ini dicari.

Seusai sesi, tiga ilmuwan muda menghampirinya. Mereka adalah Rani, peneliti teknologi pangan; Bima, peneliti gizi; dan Sinta, peneliti ekonomi pangan yang tertarik pada usaha masyarakat desa.

“Pak Ojak, tadi pertanyaannya menarik,” kata Rani.

Ojak tersenyum malu.

“Menarik atau aneh?”

“Bisa dua-duanya,” jawab Rani.

Bima tertawa.

“Yang penting, pertanyaan itu bisa diuji. Kita perlu membedakan antara dugaan, bukti awal, dan kesimpulan yang sudah didukung penelitian.”

Sinta ikut berbicara.

“Dan kalau suatu produk terbukti layak, kita masih harus memikirkan siapa yang memproduksi, berapa biayanya, siapa yang membeli, serta siapa yang memperoleh manfaat ekonominya.”

Ojak memandang ketiganya bergantian.

“Kalau begitu, saya punya usul.”

“Apa, Pak?” tanya Rani.

“Bagaimana kalau kita mendirikan Sekolah Bekatul?”

Ketiganya terdiam.

Bima akhirnya bertanya, “Sekolah untuk mengajari bekatul membaca?”

Ojak langsung tertawa.

“Kalau bekatul bisa membaca, mungkin saya sudah kalah pintar darinya. Bukan, sekolah ini untuk manusia. Untuk masyarakat yang ingin belajar mengolah bekatul, memahami gizinya, menguji keamanannya, menghitung nilai ekonominya, dan mengembangkan usaha bersama.”

Sinta tersenyum.

“Jadi, semacam tempat belajar bersama antara masyarakat dan ilmuwan?”

“Betul. Ilmuwan tidak hanya datang membawa ceramah. Masyarakat juga bukan sekadar objek penelitian. Kita belajar bersama.”

Rani mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, kita harus merancangnya dengan serius.”

Ojak merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Selama ini ia sering merasa sendirian. Kini, untuk pertama kalinya, ada orang-orang yang tidak langsung menertawakan gagasannya.

Namun ia juga takut.

Bagaimana jika para ilmuwan muda itu hanya bersemangat selama kongres? Bagaimana jika mereka pulang ke laboratorium, sementara Ojak kembali ke Tarigu dengan kantong bekatul dan angan-angan?

Sebelum berpisah, ia memberanikan diri bertanya.

“Kalau saya mengundang kalian ke Tarigu, apakah kalian mau datang?”

Rani menjawab, “Kami mau mempertimbangkannya. Tetapi kami tidak bisa menjanjikan bahwa semua gagasan kita akan berhasil.”

Ojak tersenyum.

“Bagus. Saya juga tidak ingin menjanjikan keberhasilan. Saya hanya ingin kita mulai belajar.”

Di luar gedung kongres, Ojak menggenggam kantong bekatulnya.

Kantong itu kecil. Gagasannya terasa jauh lebih besar daripada kemampuannya.

Tetapi kini ia tidak lagi sendirian.

Tanpa ia sadari, di sudut ruangan kongres, seorang pria muda berbadan kurus dengan kamera tergantung di leher dan buku catatan di tangan memperhatikan seluruh percakapan itu. Ia tidak mengajukan pertanyaan, tidak menyela, tetapi matanya bergerak cepat mencatat setiap detail.

Namanya Ujang.

Ia adalah wartawan dari sebuah media kecil yang tidak banyak dikenal orang: OBSERVER BEKATUL.

2. Pulang Membawa Gagasan

Dalam perjalanan pulang ke Tarigu, Ojak memikirkan percakapannya dengan para ilmuwan muda.

Ia membayangkan ruang kelas, meja percobaan, produk pangan, dan warga kampung yang berdiskusi tentang gizi. Ia juga membayangkan biaya, kegagalan, dan orang-orang yang mungkin menertawakannya.

Ojak tahu dirinya bukan ilmuwan. Ia tidak memiliki laboratorium dan tidak memahami semua istilah yang digunakan dalam kongres.

Kadang-kadang ia merasa terlalu berani bermimpi.

Namun, setiap kali melihat bekatul dibuang begitu saja di penggilingan, ia teringat ibunya yang dulu sering menghemat makanan dan berkata bahwa tidak ada rezeki yang boleh diremehkan.

Ojak ingin membuktikan bahwa gagasan dari kampung tidak harus kalah hanya karena lahir jauh dari laboratorium dan ruang kongres.

Setibanya di Tarigu, ia langsung menuju Warung Mang Udin.

Mang Udin sedang menuangkan kopi kepada pelanggan ketika melihat Ojak datang membawa kantong plastik.

“Jak, kamu dari mana? Mukamu seperti orang baru pulang dari luar negeri.”

“Dari Kongres Gizi Nasional, Mang.”

Mang Udin berhenti menuangkan kopi.

“Kongres gizi? Kamu membicarakan bekatul di depan orang-orang pintar?”

“Betul.”

“Lalu bagaimana? Mereka langsung mengangkatmu menjadi profesor bekatul?”

Ojak tertawa.

“Belum, Mang. Mereka malah mengajukan banyak pertanyaan.”

“Wah, kalau begitu kamu harus hati-hati. Orang pintar kalau bertanya bisa membuat orang biasa kehilangan jawaban.”

Ojak duduk dan meletakkan kantongnya di atas meja.

“Saya bertemu tiga ilmuwan muda. Mereka tertarik membantu mengembangkan gagasan Sekolah Bekatul.”

Mang Udin mengernyit.

“Sekolah Bekatul? Bekatulnya mau disekolahkan sampai kelas berapa?”

“Bukan bekatulnya yang sekolah, Mang. Manusianya!”

Para pelanggan tertawa.

Ojak menjelaskan bahwa sekolah itu akan mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman masyarakat. Mereka akan mempelajari bekatul, menguji cara pengolahannya, memahami keamanan pangan, menilai potensi gizinya, dan menghitung kelayakan usahanya.

Mang Udin menggaruk kepala.

“Jak, kalau sekolahmu berhasil, nanti orang-orang pintar datang ke Tarigu. Kalau mereka datang, warung saya bisa penuh. Kalau warung penuh, saya harus menambah kursi. Kalau menambah kursi, saya perlu modal.”

Ojak mengangguk.

“Bagus, Mang. Berarti sekolah ini sudah punya dampak ekonomi sebelum murid pertamanya datang.”

“Dampak ekonomi dari mana?”

“Dari kebutuhan kursi.”

Warung kembali meledak oleh tawa.

Mang Udin mengangkat kedua tangan.

“Baiklah. Saya dukung. Tetapi kalau sekolahnya gagal, jangan suruh saya membayar uang sekolah.”

Ojak tersenyum.

“Tenang, Mang. Ini sekolah untuk mengubah cara berpikir, bukan sekolah untuk menghabiskan uang.”

“Kalau begitu, mudah-mudahan yang berubah cara berpikirnya. Jangan sampai cuma bekatulnya yang pindah karung.”

Ojak ikut tertawa. Tetapi setelah itu wajahnya kembali serius.

“Sekolah ini mungkin belum tentu langsung berhasil, Mang. Saya takut gagal. Saya juga takut masyarakat menganggap saya menjual harapan baru tanpa hasil nyata.”

Mang Udin menatapnya lebih lama dari biasanya.

“Kalau takut gagal, kenapa diteruskan?”

Ojak terdiam sejenak.

“Karena saya lebih takut kalau kita terus menganggap diri kita tidak mampu sebelum mencoba.”

Mang Udin mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak melontarkan lelucon.

Malam itu, saat Ojak duduk di beranda rumahnya sambil memandangi kantong bekatul, seseorang mengetuk pintu.

“Permisi, Pak Ojak?”

Ojak membuka pintu dan melihat seorang pria muda kurus dengan kamera dan buku catatan.

“Ya, saya Ojak. Anda siapa?”

“Maaf mengganggu malam Bapak. Nama saya Ujang. Saya wartawan dari OBSERVER BEKATUL.”

Ojak mengerutkan dahi.

“OBSERVER BEKATUL? Saya belum pernah mendengarnya.”

“Media kami memang masih kecil, Pak. Tapi kami fokus pada isu-isu pangan lokal, khususnya bekatul dan hasil samping pertanian. Saya mendengar pertanyaan Bapak di Kongres Gizi Nasional tadi.”

Ojak terkejut.

“Anda ada di sana?”

“Betul, Pak. Saya duduk di barisan belakang. Saya tidak mengajukan pertanyaan karena saya lebih suka mendengar dan mencatat.”

Ojak mempersilakan Ujang masuk.

“Silakan duduk. Mau minum apa?”

“Air putih saja, Pak. Terima kasih.”

Setelah Ojak menyajikan air, Ujang membuka buku catatannya.

“Pak Ojak, saya tertarik dengan gagasan Sekolah Bekatul. Boleh saya bertanya beberapa hal?”

“Silakan.”

“Apakah ini gagasan yang sudah matang? Atau baru sebatas impian?”

Ojak tersenyum.

“Jujur saja, ini masih berupa impian yang belum matang. Saya belum punya kurikulum, belum punya tempat yang layak, dan belum tahu apakah para ilmuwan itu benar-benar akan datang.”

“Lalu mengapa Bapak tetap ingin melakukannya?”

Ojak terdiam sejenak.

“Karena saya melihat ada sesuatu yang hilang. Orang-orang di kampung saya sering merasa pengetahuan hanya milik orang kota, milik orang yang punya gelar. Padahal mereka punya pengalaman, punya kearifan, dan punya masalah nyata yang bisa dipecahkan bersama.”

Ujang mencatat dengan cepat.

“Apakah Bapak tidak takut dituduh menjual harapan palsu? Bekatul kan selama ini dianggap pakan ayam.”

“Takut. Tapi saya tidak ingin menjual harapan. Saya ingin menawarkan proses belajar. Kalau nanti hasilnya tidak sesuai harapan, setidaknya kita belajar sesuatu.”

Ujang mengangguk.

“Media kami ingin meliput perkembangan Sekolah Bekatul ini, Pak. Kalau Bapak mengizinkan.”

Ojak tertegun.

“Kenapa OBSERVER BEKATUL tertarik?”

“Karena kami percaya bahwa perubahan besar sering dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap tidak penting. Seperti bekatul. Atau seperti sekolah kecil di balai kampung.”

Ojak tersenyum.

“Baiklah, Ujang. Tapi saya minta satu hal.”

“Apa itu, Pak?”

“Jangan menulis berita yang membuat kami terlihat lebih hebat dari kenyataan. Tulis apa adanya. Termasuk kegagalan dan keraguan kami.”

Ujang mengangguk.

“Itulah prinsip kami, Pak. Kami tidak mencari sensasi. Kami mencari kebenaran.”

Malam itu, Ojak merasa mendapat teman baru. Bukan ilmuwan, bukan pedagang, tetapi seseorang yang ingin mendokumentasikan perjalanan mereka.

3. Empat Pertanyaan Sebelum Melangkah

Beberapa hari setelah pertemuan dengan Ujang, Ojak duduk sendirian di balai kampung.

Ia membuka buku catatannya. Di halaman kosong, ia menulis empat pertanyaan. Bukan pertanyaan ilmiah yang rumit. Hanya pertanyaan yang ia rasa perlu dijawab sebelum ia mengajak orang lain membangun Sekolah Bekatul.

Ia menulis:

1. Apa yang sungguh-sungguh ada?

2. Dari mana kita bisa tahu?

3. Apa yang kita anggap penting?

4. Apa yang bisa kita lakukan?

Ia memandangi keempat pertanyaan itu.

Ini bukan pertanyaan yang biasa ia dengar di kampung. Orang-orang biasanya bertanya: “Apa manfaatnya?” atau “Berapa biayanya?” Tetapi Ojak merasa ada pertanyaan yang lebih dalam yang perlu dijawab lebih dulu.

Ia teringat percakapannya dengan Rani, Bima, dan Sinta. Mereka tidak langsung berbicara tentang produk atau keuntungan. Mereka berbicara tentang bukti, tentang metode, tentang apa yang bisa diuji.

Mungkin, pikir Ojak, sebelum kita membangun sekolah, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar ini.

4. Apa yang Sungguh-Sungguh Ada?

Pagi berikutnya, Ojak menemui Mang Udin di warungnya.

“Mang, saya ingin bertanya sesuatu.”

Mang Udin sedang menggoreng pisang.

“Bertanya? Kamu ini mau jadi filsuf atau mau buka warung?”

Ojak tertawa.

“Bukan filsuf, Mang. Saya hanya ingin bertanya: menurut Mang Udin, apa yang sungguh-sungguh ada di kampung kita?”

Mang Udin berhenti menggoreng.

“Hah? Apa maksudmu?”

“Maksud saya, apa yang benar-benar ada, bukan yang kita bayangkan atau kita harapkan. Apa yang nyata.”

Mang Udin menggaruk kepala.

“Kalau di warung saya, yang nyata itu kopi, pisang goreng, dan utang pelanggan.”

Ojak tertawa.

“Selain itu, Mang.”

Mang Udin berpikir sejenak.

“Yang nyata itu… tanah. Sawah. Padi. Dan bekatul yang setiap hari kita buang.”

Ojak mengangguk.

“Betul, Mang. Bekatul itu nyata. Ia ada. Setiap kali kita menggiling padi, bekatul keluar. Setiap hari. Berton-ton. Tetapi kita tidak melihatnya sebagai sesuatu yang berharga.”

Mang Udin mengangguk.

“Jadi, maksudmu, yang nyata itu bukan hanya yang kita anggap penting. Tetapi juga yang kita abaikan?”

Ojak tersenyum.

“Betul, Mang. Bekatul itu ada, meskipun kita menganggapnya tidak penting. Ia nyata, meskipun kita membuangnya.”

Mang Udin menggosok dagunya.

“Kalau begitu, apa lagi yang nyata?”

Ojak menunjuk ke arah kampung.

“Anak-anak yang kurang gizi. Ibu-ibu yang khawatir tentang pertumbuhan anak mereka. Petani yang bekerja keras tetapi tidak mendapat harga yang adil. Penggilingan padi yang membuang bekatul setiap hari. Itu semua nyata.”

Mang Udin terdiam.

“Jadi, sekolah itu perlu karena ada sesuatu yang nyata yang belum kita tangani?”

Ojak mengangguk.

“Betul, Mang. Kita tidak bisa membangun sekolah hanya karena kita ingin. Kita membangunnya karena ada kenyataan yang menuntut kita bertindak.”

5. Dari Mana Kita Bisa Tahu?

Beberapa hari kemudian, Ojak bertemu dengan Pak Kuwu di kantor desa.

“Pak Kuwu, saya ingin bertanya sesuatu.”

Pak Kuwu meletakkan berkasnya.

“Silakan, Ojak.”

“Pak, dari mana kita bisa tahu bahwa sesuatu itu benar? Misalnya, dari mana kita tahu bahwa bekatul bermanfaat?”

Pak Kuwu tersenyum.

“Pertanyaan bagus. Kalau saya sebagai kepala desa, saya tidak bisa hanya percaya pada kata orang. Saya harus punya bukti.”

Ojak mengangguk.

“Jadi, kita perlu penelitian?”

“Betul. Kita perlu data. Kita perlu pengujian. Kita perlu membandingkan apa yang kita duga dengan apa yang benar-benar terjadi.”

Ojak mengeluarkan buku catatannya.

“Saya pernah membaca tentang seorang filsuf sains bernama John Platt. Ia mengatakan bahwa kita harus menyusun beberapa kemungkinan jawaban, lalu menguji mana yang benar.”

Pak Kuwu mengangguk.

“Itu penting. Jangan sampai kita hanya percaya pada satu jawaban, lalu mencari bukti yang mendukungnya. Kita harus jujur.”

Ojak menulis di buku catatannya.

Dari mana kita tahu?

Dari bukti. Dari pengujian. Dari kesediaan untuk salah.

Ia menatap Pak Kuwu.

“Jadi, Sekolah Bekatul bukan tempat untuk menanam keyakinan. Ia tempat untuk menguji keyakinan.”

Pak Kuwu tersenyum.

“Kalau begitu, saya akan mendukung. Karena desa membutuhkan kebijakan yang didasarkan pada bukti, bukan pada asumsi.”

6. Apa yang Kita Anggap Penting?

Malam itu, Ojak duduk bersama ibunya di beranda.

“Bu, saya ingin bertanya.”

Ibunya sedang menjahit.

“Bertanya apa?”

“Menurut Ibu, apa yang paling penting dalam hidup ini?”

Ibunya berhenti menjahit.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

Ojak tersenyum.

“Saya sedang memikirkan Sekolah Bekatul. Saya ingin tahu, apa yang sebenarnya kita perjuangkan.”

Ibunya terdiam sejenak.

“Yang paling penting itu… anak-anak kita. Masa depan mereka. Kesehatan mereka. Kalau anak-anak kita sehat, kita bisa menghadapi apa pun.”

Ojak mengangguk.

“Jadi, kalau bekatul bisa membantu anak-anak tumbuh sehat, itu penting?”

Ibunya tersenyum.

“Sangat penting.”

Ojak menulis di buku catatannya.

Apa yang kita anggap penting?

Kesehatan anak. Masa depan keluarga. Kehidupan yang lebih baik.

Ia menatap ibunya.

“Bu, saya ingin membangun sekolah yang mengajarkan orang tua cara mengolah bekatul untuk anak-anak mereka. Supaya anak-anak kita tumbuh sehat.”

Ibunya meletakkan jahitannya.

“Jak, kamu memang sering membuat saya khawatir. Tetapi saya bangga.”

Ojak tersenyum.

“Terima kasih, Bu.”

7. Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pagi berikutnya, Ojak mengumpulkan beberapa warga di balai kampung.

Ia tidak ingin memulai dengan presentasi. Ia ingin mendengar pendapat mereka.

“Bapak-Ibu, saya ingin bertanya. Kalau kita punya bekatul yang melimpah, dan kita tahu bahwa bekatul bisa bermanfaat, apa yang bisa kita lakukan?”

Seorang petani mengangkat tangan.

“Kita bisa mengolahnya menjadi makanan.”

Seorang ibu menambahkan.

“Kita bisa membuat biskuit untuk anak-anak.”

Seorang pemuda berkata.

“Kita bisa menjualnya.”

Ojak mengangguk.

“Betul. Tetapi sebelum kita melakukan semua itu, kita perlu belajar. Kita perlu tahu cara mengolah yang benar. Kita perlu tahu keamanan pangannya. Kita perlu tahu apakah produk kita diterima pasar.”

Ia menulis di papan tulis.

Apa yang bisa kita lakukan?

Belajar. Menguji. Bekerja sama. Memperbaiki.

“Jadi, Sekolah Bekatul bukan tempat untuk langsung menghasilkan produk. Ia tempat untuk belajar bagaimana menghasilkan produk yang benar.”

Seorang ibu bertanya.

“Berapa lama kita harus belajar?”

Ojak tersenyum.

“Selama kita masih ingin belajar.”

8. Keputusan Ojak

Malam itu, Ojak duduk sendirian di balai kampung.

Ia memandangi empat pertanyaan yang ia tulis di buku catatannya. Ia merasa sudah menemukan jawabannya—setidaknya jawaban awal.

Apa yang sungguh-sungguh ada? Bekatul, anak-anak yang kurang gizi, petani yang bekerja keras. Itu nyata.

Dari mana kita bisa tahu? Dari bukti, dari pengujian, dari kesediaan untuk salah.

Apa yang kita anggap penting? Kesehatan anak, masa depan keluarga.

Apa yang bisa kita lakukan? Belajar, menguji, bekerja sama, memperbaiki.

Ojak menutup buku catatannya.

Ia tahu bahwa empat pertanyaan ini bukanlah akhir. Ia hanya awal. Tetapi ia merasa lebih siap sekarang. Ia tahu mengapa ia ingin membangun Sekolah Bekatul. Ia tahu apa yang ia perjuangkan.

Besok, ia akan mengundang Pak Kuwu. Ia akan meminta dukungan desa. Ia akan mulai membangun sekolah itu—bukan dengan tergesa-gesa, tetapi dengan landasan yang jelas.

Ia berdiri dan berjalan pulang.

Di langit, bintang-bintang bersinar terang.

“Besok kita mulai,” gumamnya.

Bersambung ke #5b Seri Cerpen Bekatul.

CATATAN PENULIS

Cerpen #5a ini merupakan bagian pertama dari kisah Sekolah Bekatul. Ia berfokus pada landasan ontologis, epistemologis, aksiologis, dan praktis yang disampaikan dalam bahasa rakyat—empat pertanyaan sederhana yang menjadi dasar sebelum melangkah.

Komentar