oleh

#6 SERI CERPEN BEKATUL : ”Ojak Orang Tarigu dan Bekatul Yang Mengetuk Pintu Kementerian”

Penulis: Agus Pakpahan

1. Surat dari Jakarta

Suatu pagi datang sepucuk surat lagi.

Ojak membuka amplopnya.

Di dalamnya ada undangan:

RAPAT KOORDINASI NASIONAL “Percepatan Penurunan Stunting” Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Ojak membaca surat itu berulang kali. Lalu ia memanggil istrinya.

“Mak, ieu mah lain surat biasa. Kementerian ngajak urang rapat di Jakarta!”

Istrinya menatap Ojak dengan heran.

“Rapat naon? Urang téh saha? Petani? Tukang ngurus hayam? Atawa dukun bekatul?”

Ojak tersenyum.

“Justru karena urang orang kampung, Mak. Urang punya bekatul. Mereka punya kementerian. Tinggal kita pertemukan.”

Istrinya menggeleng.

“Ulah nepi ka bekatul dibawa ka Jakarta, tapi balikna jadi amplop kosong.”

Ojak tertawa.

“Tenang, Mak. Saya akan membawa bekatul, bukan amplop.”

Malam itu Ojak menyiapkan bekatul terbaik dari penggilingan padi di kampungnya. Ia memasukkannya ke dalam kantong bersih, lalu membungkusnya dengan plastik bening.

Pada labelnya ia menulis:

BEKATUL TARIGU Potensi Pangan Lokal yang Perlu Diteliti.

Di bawahnya, ia menambahkan tulisan kecil:

Bukan obat ajaib. Bukan pula limbah yang boleh diabaikan.

Ojak mengangguk puas.

“Beres. Sekarang bekatul punya kartu nama.”

2. Persiapan Militan

Sebelum berangkat, Ojak mengumpulkan beberapa orang kampung.

Ada Mang Udin, penggilingan padi. Ada Bi Iroh, yang biasa membuat makanan ringan. Ada juga Pak Darsa, petani yang hafal harga gabah sejak zaman harga pupuk belum membuat orang sakit kepala.

Ojak menjelaskan rencananya.

“Kita harus menjelaskan bahwa bekatul bukan sekadar sisa penggilingan. Ada potensi gizinya, ada kemungkinan diolah menjadi pangan, dan ada peluang ekonomi bagi petani.”

Mang Udin mengangkat tangan.

“Tapi Jak, bekatul mah cepat bau lamun salah nyimpen. Kumaha éta?”

“Betul!” jawab Ojak. “Itulah sebabnya perlu penelitian tentang stabilisasi, penyimpanan, keamanan, dan pengolahannya.”

Bi Iroh ikut bertanya.

“Kalau dijadikan kue, siapa yang mau membeli?”

“Itu juga harus diuji. Bukan hanya kandungan gizinya, tetapi juga rasa, harga, penerimaan konsumen, dan kelayakan usahanya.”

Pak Darsa menggaruk kepala.

“Jadi, bekatul ini bisa jadi duit?”

“Bisa jadi peluang, Pak. Tapi jangan mendahului penelitian dengan janji. Kita buktikan dulu.”

Semua mengangguk.

Ojak kemudian mengangkat telunjuknya.

“Di Jakarta nanti, kita jangan berteriak bahwa bekatul pasti menyelesaikan stunting. Kita katakan bahwa potensi bekatul layak diteliti sebagai bagian dari diversifikasi pangan bergizi.”

Mang Udin berbisik kepada Bi Iroh.

“Wah, Ojak ayeuna mah omonganna geus siga profesor.”

Bi Iroh menjawab pelan.

“Enya. Tapi mudah-mudahan sangu di imahna masih dimasak ku pamajikanana.”

3. Di Kementerian

Perjalanan ke Jakarta membuat Ojak terheran-heran.

Gedung-gedung tinggi menjulang. Mobil berderet. Orang-orang berjalan cepat sambil menatap layar telepon.

Ojak memegang kantong bekatulnya erat-erat.

Di ruang rapat, ia duduk di antara para pejabat, akademisi, ahli gizi, dan perwakilan lembaga.

Seorang panitia menghampirinya.

“Bapak dari instansi mana?”

“Dari Tarigu.”

“Tarigu itu nama lembaga?”

“Bukan. Itu kampung saya.”

“Jabatannya apa, Pak?”

Ojak berpikir sebentar.

“Jabatan saya di kampung? Kadang mengurus ayam, kadang membantu petani, kadang memikirkan bekatul.”

Panitia tersenyum sopan, sedikit bingung.

“Baik, Pak. Silakan duduk.”

Ojak duduk. Ia mengamati layar presentasi yang penuh grafik, tabel, dan angka.

Ada angka prevalensi stunting, ada target penurunan, ada program intervensi, ada daftar kegiatan.

Semuanya tampak serius.

Namun Ojak mulai bertanya-tanya: di antara begitu banyak tabel, berapa banyak ruang yang disediakan untuk membicarakan bahan pangan yang tersedia di desa?

Ia menunggu gilirannya berbicara.

4. Pembicaraan yang Panjang

Rapat berlangsung berjam-jam.

Satu pejabat berbicara tentang koordinasi. Pejabat lain membicarakan indikator. Seorang ahli menjelaskan pentingnya intervensi gizi pada seribu hari pertama kehidupan.

Ojak mendengarkan dengan saksama.

Ia tidak menolak angka. Ia tidak meremehkan ilmu. Ia justru merasa bahwa persoalan besar membutuhkan ilmu yang kuat.

Ketika moderator membuka sesi diskusi, Ojak mengangkat tangan.

“Mohon izin. Saya ingin bertanya tentang bekatul.”

Moderator mempersilakannya.

“Silakan, Pak. Apa pertanyaannya?”

Ojak berdiri.

“Di desa kami, padi digiling setiap hari. Berasnya dijual. Dedaknya dimanfaatkan. Bekatulnya sering dianggap sisa yang kurang bernilai. Padahal, literatur menunjukkan bahwa bekatul berpotensi mengandung berbagai komponen gizi dan senyawa bioaktif. Tentu komposisinya bergantung pada bahan, proses penggilingan, dan penanganannya.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Pertanyaan saya sederhana: apakah potensi ini sudah diteliti secara memadai untuk dikembangkan sebagai bahan pangan yang aman, bergizi, terjangkau, dan diterima masyarakat?”

Ruangan mendadak lebih tenang.

Seorang peserta menjawab bahwa bekatul memang pernah diteliti, tetapi pengembangan pangan berbasis bekatul menghadapi tantangan, antara lain kestabilan bahan, mutu, keamanan, rasa, dan penerimaan konsumen.

Ojak mengangguk.

“Bagus. Berarti kita tidak mulai dari nol. Yang perlu kita lakukan adalah menyambungkan penelitian dengan kebutuhan masyarakat dan usaha petani.”

Seorang pejabat menambahkan bahwa penurunan stunting tidak bisa dilakukan dengan satu bahan pangan saja. Perlu perbaikan pola makan, layanan kesehatan, sanitasi, pendidikan, dan kondisi sosial ekonomi keluarga.

Ojak langsung menyahut.

“Saya setuju. Saya tidak membawa bekatul sebagai obat untuk semua masalah. Saya membawa pertanyaan: mengapa potensi bahan pangan lokal belum selalu terhubung dengan sistem penelitian, kebijakan, dan ekonomi rakyat?”

Beberapa peserta mulai mencatat.

Untuk pertama kalinya sejak datang, Ojak merasa bahwa kantong bekatulnya tidak lagi sekadar barang bawaan.

Ia telah menjadi sebuah pertanyaan kebijakan.

5. Ahli Gizi dan Sejarah yang Terlupakan

Saat istirahat, seorang ahli gizi menghampiri Ojak.

“Pak Ojak, saya tertarik dengan gagasan Bapak. Namun, kita harus berhati-hati. Bekatul tidak bisa langsung direkomendasikan sebagai pangan untuk semua kelompok tanpa pengujian yang memadai.”

“Betul, Dok,” jawab Ojak. “Saya ingin penelitian dilakukan dengan sungguh-sungguh.”

“Bekatul memiliki potensi. Tetapi kita perlu memperhatikan mutu bahan baku, kemungkinan kontaminasi, stabilisasi untuk mencegah ketengikan, komposisi gizi, dan cara pengolahan. Klaim manfaat kesehatan juga harus didukung bukti.”

Ojak tersenyum lebar.

“Dokter ini cocok jadi kawan saya. Saya membawa bahan untuk diteliti, bukan bahan untuk dipercaya tanpa diperiksa.”

Sang ahli gizi tertawa.

Mereka kemudian berbincang tentang sejarah ilmu pengetahuan di Indonesia. Ojak teringat bahwa Indonesia pernah memiliki tradisi penelitian yang kuat, termasuk penelitian mengenai kekurangan vitamin dan penyakit akibat kekurangan gizi.

Ia tidak menganggap masa lalu sebagai zaman yang sempurna. Baginya, sejarah penting untuk mengingatkan bahwa pengetahuan harus terus dikembangkan, diuji, dan diterapkan.

“Ilmu pengetahuan itu seperti sawah, Dok,” kata Ojak. “Kalau tidak ditanami lagi, lama-lama ditumbuhi rumput.”

“Dan kalau ditanami tanpa perawatan?” tanya sang ahli gizi.

“Ya, panennya belum tentu bagus.”

Keduanya tertawa.

6. Menteri dan Sebungkus Bekatul

Menjelang akhir acara, seorang pejabat memberi tahu Ojak bahwa ia mendapat kesempatan menyerahkan bahan pangan lokal kepada menteri yang hadir.

Ojak segera berdiri. Ia mengambil kantong bekatul yang sejak pagi dijaganya.

Ketika tiba di depan menteri, ia membungkuk hormat.

“Pak Menteri, saya membawa sesuatu dari kampung.”

Menteri menerima kantong itu dan membaca labelnya.

“Bekatul Tarigu. Potensi Pangan Lokal yang Perlu Diteliti.”

Menteri tersenyum.

“Ini bekatul yang biasa kita dengar sebagai hasil samping penggilingan padi?”

“Betul, Pak. Tetapi saya berharap kita melihatnya bukan hanya sebagai hasil samping, melainkan sebagai bahan yang mungkin memiliki nilai lebih jika diteliti dan diolah dengan benar.”

Menteri memperhatikan isi kantong itu.

“Lalu, apa yang Bapak harapkan dari kementerian?”

Ojak menjawab tanpa berputar-putar.

“Pertama, penelitian yang memadai. Kedua, standar keamanan dan mutu. Ketiga, uji pengolahan dan penerimaan konsumen. Keempat, kalau hasilnya menjanjikan, hubungkan petani, penggilingan padi, perguruan tinggi, koperasi, dan industri pangan.”

Menteri mengangguk.

“Jadi, Bapak tidak meminta pemerintah langsung membagikan bekatul?”

“Jangan dulu, Pak. Kalau penelitiannya belum cukup, nanti pemerintah membagikan harapan yang belum tentu benar.”

Beberapa orang di sekitar mereka tersenyum.

Ojak melanjutkan.

“Yang saya minta adalah agar potensi dari desa diberi kesempatan yang adil untuk masuk ke ruang penelitian dan kebijakan.”

Menteri mengangkat kantong bekatul itu.

“Baik, Pak Ojak. Ini masukan yang menarik.”

Ojak mengangguk.

“Terima kasih, Pak. Bekatulnya sederhana. Mudah-mudahan pertanyaannya tidak sederhana.”

7. Menteri Mengakui Belum Tahu

Sebelum meninggalkan ruangan, menteri kembali memanggil Ojak.

“Pak Ojak, saya terus terang saja. Saya belum memahami bekatul secara mendalam. Saya perlu mendengar penjelasan dari para ahli.”

Ojak tersenyum.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya juga tidak memahami semua hal tentang bekatul. Saya datang justru karena ingin kita mempelajarinya bersama.”

Menteri tertawa kecil.

“Kalau begitu, kita sama-sama belajar.”

“Betul, Pak. Bedanya, Bapak punya kementerian. Saya punya kampung.”

“Dan apa kelebihan kampung Bapak?”

Ojak menjawab cepat.

“Di kampung saya, bahan penelitiannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun jembatan antara bahan, ilmu, dan kebijakan.”

Menteri mengangguk.

“Pesan Bapak saya catat.”

Ojak pamit dengan sopan.

Di luar ruangan, ia menarik napas panjang.

Ia tidak membawa pulang keputusan besar. Tidak ada anggaran yang langsung turun. Tidak ada program nasional yang seketika berubah.

Namun, satu hal telah terjadi: pertanyaan dari sebuah kampung telah masuk ke ruang kementerian.

Bagi Ojak, itu sudah merupakan langkah awal.

8. Pulang ke Tarigu

Sesampainya di kampung, Ojak disambut istrinya.

“Jadi, Jak? Bekatulna dibeli berapa?”

Ojak tertawa.

“Teu dijual, Mak. Dibawa ke kementerian.”

“Terus, dapat duit?”

“Belum.”

“Dapat proyek?”

“Belum.”

“Dapat janji?”

“Ya, ada pembicaraan.”

Istrinya meletakkan kedua tangan di pinggang.

“Kalau begitu, apa hasilnya?”

Ojak duduk di bangku bambu.

“Hasilnya, Mak, kita belajar bahwa gagasan dari kampung harus disampaikan dengan baik, didukung bukti, dan diperjuangkan terus-menerus.”

Istrinya diam sejenak.

“Jadi, besok kamu masih mengurus ayam?”

“Masih.”

“Masih membantu petani?”

“Masih.”

“Masih memikirkan bekatul?”

“Lebih dari sebelumnya.”

Istrinya menghela napas.

“Ya sudah. Yang penting ayam jangan sampai ikut rapat nasional.”

Ojak tertawa sampai batuk.

9. Ojak dan Ayam-Ayamnya

Keesokan pagi, Ojak kembali ke kandang ayam.

Ia memperhatikan ayam-ayamnya mematuk pakan.

“Lihatlah kalian,” katanya. “Kalian tidak pernah membaca laporan kementerian. Tapi kalian tahu bahwa makanan harus tersedia setiap hari.”

Seekor ayam berkokok.

Ojak menunjuknya.

“Nah, itu pendapat yang menarik. Tapi belum bisa disebut hasil penelitian.”

Ia kemudian memeriksa persediaan dedak dan bekatul di gudang.

Sebagian bekatul akan tetap dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan keamanan pakan ternak. Sebagian lain disimpan sebagai bahan untuk percobaan pengolahan pangan, setelah mutu dan penanganannya diperiksa.

Ojak tahu bahwa bekatul tidak bisa diperlakukan sembarangan. Bahan yang kaya komponen tertentu pun dapat mengalami perubahan mutu jika disimpan dengan cara yang tidak tepat.

Ia lalu menulis di buku catatannya:

Bekatul bukan sekadar soal kandungan gizi. Ia juga soal teknologi, keamanan, pasar, kelembagaan, dan pembagian nilai ekonomi.

Di bawahnya ia menambahkan:

Kalau penelitian berhenti di laboratorium, petani belum tentu menikmati hasilnya. Kalau usaha berjalan tanpa ilmu, konsumen bisa dirugikan. Keduanya harus bertemu.

Ojak menutup buku.

“Wah,” katanya kepada ayam-ayamnya, “ternyata yang perlu diternakkan bukan hanya ayam. Gagasan juga harus dipelihara.”

Ayam-ayam itu kembali mematuk pakan.

Ojak merasa mereka setuju.

10. Menteri Datang ke Kampung

Beberapa bulan kemudian, beredar kabar bahwa kementerian sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dan pelaku usaha untuk mengembangkan bahan pangan lokal.

Belum ada keputusan khusus tentang bekatul Tarigu. Belum ada jaminan bahwa produk itu akan menjadi program nasional.

Namun, Ojak mendengar kabar tersebut dengan gembira.

“Setidaknya, pintunya mulai terbuka,” katanya kepada Mang Udin.

Suatu hari, dalam khayalannya, Ojak membayangkan sang menteri datang berkunjung ke kampung.

Menteri turun dari mobil dan melihat penggilingan padi yang sibuk.

“Pak Ojak, mana bekatulnya?”

Ojak menunjuk ke arah penggilingan.

“Di sana, Pak. Tapi jangan langsung dibawa pulang. Periksa dulu mutunya.”

Menteri tertawa.

“Baik. Lalu, apa yang akan kita lakukan?”

Ojak menjawab:

“Kita mulai dari penelitian. Lalu kita uji pengolahan, keamanan, nilai gizi, dan penerimaan masyarakat. Jika layak, kita bangun usaha bersama. Petani jangan hanya menjadi pemasok bahan murah. Mereka harus ikut menikmati nilai tambah.”

Menteri mengangguk.

“Kalau berhasil, apa nama programnya?”

Ojak berpikir sejenak.

“Program Mengangkat Nilai Bekatul?”

Menteri tersenyum.

“Bagaimana kalau kita namakan Program Pangan Lokal Berbasis Bukti?”

Ojak mengacungkan jempol.

“Nah, itu lebih bagus, Pak. Jangan sampai nama programnya lebih bergizi daripada hasilnya.”

Mereka tertawa bersama.

Lalu Ojak terbangun dari lamunannya.

Di hadapannya, hanya ada Mang Udin yang sedang menimbang bekatul.

“Jak, melamun deui?”

Ojak mengusap wajah.

“Tidak, Mang. Saya sedang menguji kemungkinan masa depan.”

Mang Udin menggeleng.

“Kalau begitu, uji juga kemungkinan masa depan saya. Utang listrik penggilingan sudah jatuh tempo.”

Ojak terdiam.

Ternyata, masa depan memang harus dimulai dari persoalan yang paling dekat.

11. Penutup: Militan Sejati

Ojak akhirnya memahami sesuatu.

Mengetuk pintu kementerian bukan berarti semua pintu akan langsung terbuka. Membawa bahan pangan lokal ke Jakarta juga tidak otomatis mengubah kebijakan.

Tetapi, masyarakat desa tidak harus menunggu sampai semua orang di kota memahami persoalan mereka.

Mereka bisa mulai dengan mengumpulkan bukti, membangun kerja sama, mengajukan pertanyaan, dan menunjukkan bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari gedung-gedung besar.

Pengetahuan juga bisa tumbuh dari penggilingan padi, sawah, kandang ayam, dapur rumah tangga, dan percakapan sederhana di beranda.

Ojak tidak pernah menganggap bekatul sebagai jawaban untuk semua persoalan gizi. Ia hanya tidak ingin potensinya diabaikan sebelum diteliti dengan baik.

Baginya, sikap militan bukan berarti paling keras berteriak atau paling berani menyalahkan orang lain.

Militan sejati adalah mereka yang tekun mengajukan pertanyaan, sabar mengumpulkan bukti, berani mengoreksi diri, dan tidak berhenti memperjuangkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Di Tarigu, Ojak kembali mengurus ayam, membantu petani, dan memikirkan bekatul.

Kantong bekatul yang dibawanya ke Jakarta memang sudah kosong.

Namun, di dalam buku catatannya, ada sesuatu yang terus bertambah: pertanyaan, gagasan, dan rencana untuk pekerjaan berikutnya.

Sebab bagi Ojak, perjalanan sebuah gagasan tidak selesai ketika ia sampai di kementerian.

Perjalanan itu baru bermakna ketika ilmu pengetahuan kembali ke desa, memperkuat masyarakat, dan membuka jalan bagi kesejahteraan bersama.

Dan di kampung Tarigu, bekatul masih menunggu untuk diteliti.

CATATAN PENULIS

Cerpen ini mengajak pembaca melihat kembali potensi bekatul sebagai bahan pangan lokal yang layak diteliti dan dikembangkan secara bertanggung jawab. Pengembangan pangan berbasis bekatul memerlukan dukungan ilmu pengetahuan, teknologi pengolahan, standar keamanan, penerimaan konsumen, serta kelembagaan ekonomi yang mampu memberikan manfaat kepada petani dan masyarakat.

Disclaimer: Cerita ini merupakan karya fiksi hasil imajinasi penulis. Tokoh, dialog, dan peristiwa di dalamnya tidak dimaksudkan sebagai kejadian nyata. Penyebutan Desa Mandalaherang, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, semata-mata untuk memperkuat latar dan kesan realisme cerita. Cerita ini adalah fiksi yang memuat refleksi sosial, bukan dokumentasi peristiwa faktual.

Bersambung ke #7 Seri Cerpen Bekatul.

Komentar