
Oleh: Gilarsi W. Setijono
ADA ironi yang nyaris tragis ketika seorang guru besar teknik kimia dari ITB dan seorang petani praktisi dari Banjar harus turun tangan membuktikan bahwa cara bertani nenek moyang kita—yang telah berhasil selama berabad-abad—ternyata jauh lebih unggul daripada paket teknologi impor yang dijual dengan kemasan sains modern. Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita dan Ir. Alik Sutaryat bukan sekadar dua orang yang “hobi bertani organik”. Mereka adalah bukti hidup bahwa kita tidak butuh Monsanto, tidak butuh benih transgenik, tidak butuh pupuk kimia bersubsidi triliunan rupiah untuk mencapai kedaulatan pangan. Yang kita butuhkan hanyalah satu hal yang paling langka di republik ini: keberanian untuk percaya pada pengetahuan sendiri.
Mubiar, dengan latar belakang teknik kimia dan keahlian dalam transport phenomena dan hidrodinamika, melakukan sesuatu yang jarang dilakukan akademisi Indonesia: ia tidak berhenti di jurnal internasional. Ia turun ke sawah, menerapkan prinsip-prinsip reaktor gas-cair untuk memahami bagaimana tanaman padi sebenarnya bekerja. Hasilnya adalah konsep “bioreaktor tanaman”—sebuah pendekatan ilmiah yang menjelaskan bagaimana tanaman secara mandiri menyiapkan pasokan nutrisi melalui struktur ruang antar butiran tanah dan kompos yang mengalirkan air serta nutrisi ke akar. Ini bukan mistik pertanian tradisional yang sering diremehkan kaum modernis, melainkan sains sejati yang diformulasikan dengan presisi rekayasa kimia.
Guru Besar ITB Membuktikan Petani Lebih Pintar dari Kementerian
Pada 24 Februari 2017, Mubiar menyampaikan orasi ilmiahnya di Forum Guru Besar ITB dengan judul yang terdengar sangat teknis: “Transport Phenomena: Dari Model Reaktor Gas-Cair Hingga Bioreaktor Tanaman”. Bagi yang tidak akrab dengan dunia teknik kimia, judul ini mungkin terdengar membosankan. Namun di balik judul tersebut tersimpan revolusi: bagaimana prinsip-prinsip engineering yang biasa digunakan untuk merancang pabrik kimia ternyata bisa menjelaskan—dan mengoptimalkan—cara bertani yang sudah dipraktikkan nenek moyang kita selama ratusan tahun.
Bersama Alik Sutaryat, Mubiar mengembangkan metode System of Rice Intensification (SRI) Organik Indonesia—sebuah adaptasi dari SRI yang dipelopori Fr. Henri de Laulanie di Madagaskar, tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kearifan lokal Indonesia. Hasilnya? Produksi padi mencapai 14 ton gabah kering panen per hektar, bahkan lebih, tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintetis sama sekali. Bandingkan dengan rata-rata nasional yang hanya berkisar 4,8-5,2 ton per hektar dengan segala subsidi pupuk dan benih yang menguras anggaran negara.
Di Kota Banjar, di bawah bimbingan Alik Sutaryat, panen padi organik mencapai 7,83 ton per hektar pada musim kemarau, dan dapat mencapai 9 ton per hektar pada musim hujan. Di lokasi lain, hasil SRI mencapai 12-16 ton per hektar. Pertanyaannya sederhana namun menohok: jika dua orang ini bisa mencapai hasil sebegitu tinggi tanpa pupuk kimia, tanpa benih impor, tanpa subsidi triliunan, lalu untuk apa selama ini negara menggelontorkan anggaran besar-besaran untuk program yang hasilnya jauh lebih rendah?
Filosofi Bioreaktor – Mikroba Lebih Paham Kebutuhan Padi daripada Birokrat
Konsepsi bioreaktor tanaman yang dikembangkan Mubiar bukan sekadar teori abstrak. Ia menjelaskan bagaimana tanaman padi berkomunikasi dengan mikroba di sekitar akarnya melalui “eksudat”—sejenis sinyal kimia yang memberitahu mikroba apa yang dibutuhkan tanaman pada saat tertentu. Mikroba kemudian merespons dengan menyediakan nutrisi sesuai kebutuhan. Ini adalah sistem just-in-time yang sempurna, jauh lebih efisien daripada pendekatan konvensional yang menyiram sawah dengan pupuk kimia secara membabi buta, tidak peduli apakah tanaman membutuhkannya atau tidak.
Dalam konsep pull on demand (POD) yang menjadi salah satu prinsip SRI, produksi nutrisi disesuaikan dengan permintaan tanaman. Tidak berlebihan, tidak kurang—tepat sesuai kebutuhan. Bagaimana bioreaktor bisa tahu kebutuhan padi? Melalui eksudat yang berlangsung setiap saat. Sistem komunikasi alamiah ini menjamin bahwa produksi nutrisi akan selalu sesuai dengan kondisi padi. Semua hal tersebut adalah kunci sukses dari SRI.
Bandingkan dengan pendekatan pemerintah yang masih mengandalkan rekomendasi pupuk standar untuk semua lahan, tidak peduli kondisi tanah, fase pertumbuhan tanaman, atau kebutuhan spesifik varietas. Kita menghabiskan Rp 17,7 triliun untuk subsidi pupuk pada 2013, sementara mikroba di tanah sebenarnya sudah bisa menyediakan nutrisi secara gratis—kalau saja kita tahu cara memanfaatkannya.
Alik Sutaryat – 32 Tahun Melawan Arus
Jika Mubiar adalah otak ilmiah di balik SRI Organik Indonesia, maka Alik Sutaryat adalah tangan dan kaki yang membuktikannya di lapangan. Sejak 1991, Alik berjuang menyelamatkan bumi melalui pertanian organik. Berdomisili di Kota Banjar, Jawa Barat, ia mendirikan Aliksa Organik SRI Consultant dan telah melatih sekitar 47.000 orang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Aceh, Sulawesi, dan Kalimantan. Lahan yang dikelola secara organik melalui bimbingannya mencapai 10.320 hektar.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Setiap angka mewakili petani yang berhasil lepas dari cengkeraman korporasi benih dan pupuk kimia. Setiap hektar mewakili tanah yang diselamatkan dari degradasi akibat penggunaan bahan kimia berlebihan. Selama 32 tahun, Alik membuktikan bahwa tanaman padi dapat berproduksi stabil dan bagus tanpa pupuk kimia dan pestisida sintetis sama sekali.
Filosofi Alik sederhana namun mendalam: mengembalikan kondisi alam ke asalnya, menggunakan kearifan lokal, memberdayakan sumber daya yang sudah ada di komunitas petani. Ia sering memberikan contoh: hutan tidak pernah disemprot pestisida namun tetap subur, tidak pernah diberi pupuk kimia namun tidak kekurangan nutrisi. Mengapa? Karena ekosistem yang sehat akan mengatur dirinya sendiri. Ini adalah prinsip yang ia terapkan dalam sistem pertaniannya.
Melawan Hegemoni Korporasi dengan Pengetahuan Turun-Temurun
Salah satu prinsip paling revolusioner yang diajarkan Alik adalah kemandirian petani dalam penangkaran benih. Teknik SRI tidak memerlukan bibit padi khusus dan petani dapat menggunakan bibit hasil penangkaran sendiri sehingga tidak bergantung pada benih impor. Dengan sistem penangkaran sendiri, petani hanya memerlukan benih sekitar 5 kg per hektar, dibandingkan cara konvensional yang membutuhkan 25 kg per hektar. Efisiensi ini tidak hanya menghemat biaya produksi, tetapi juga memungkinkan petani mempertahankan kontrol atas sumber benih mereka.
Alik menekankan penggunaan bibit berumur sangat muda, yaitu 5-7 hari, yang ditanam secara tunggal—satu batang per lubang. Ini berbeda drastis dengan metode konvensional yang menggunakan bibit berumur lebih tua dengan beberapa batang per rumpun. Dengan bibit muda, tanaman padi mampu mengembangkan sistem perakaran yang lebih kuat dan anakan yang lebih banyak—dalam praktiknya, satu tanaman padi bisa beranak pinak menjadi 70 batang dengan akar yang lebih banyak dan bagus.
Pendekatan ini adalah tamparan keras bagi sistem yang selama ini memaksa petani bergantung pada benih hibrida atau transgenik dari perusahaan multinasional. Alik membuktikan bahwa petani tidak perlu menjadi konsumen pasif benih komersial, tetapi bisa menjadi produsen aktif yang mengendalikan sumber produksi mereka sendiri. Ia mengajarkan teknik pengujian kualitas benih dan tanah kepada petani, memberikan pemahaman tentang uji fisik tanah yang terdiri dari uji tekstur tanah dan uji daya kapiler.
Sistem Jajar – Padi yang Diberi Ruang Bernafas
Salah satu teknik kunci dalam metode SRI adalah sistem tanam jajar legowo—pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih baris tanaman padi dengan satu baris kosong. Ruang terbuka yang lebih lebar di antara kelompok barisan tanaman memperbanyak cahaya matahari masuk ke setiap rumpun, meningkatkan aktivitas fotosintesis yang berdampak pada peningkatan produktivitas. Sistem berbaris ini juga memberikan kemudahan dalam pengelolaan seperti pemupukan susulan, penyiangan, dan pengendalian hama penyakit.
Sistem tanam jajar legowo 2:1 menghasilkan 6,08 ton per hektar, meningkatkan produktivitas hingga 10-15% dibandingkan sistem konvensional. Di Pekalongan, hasil panen dengan metode SRI di lahan pertanian 5 hektar mengalami peningkatan dari 6,9 ton per hektar (konvensional) menjadi 9 ton per hektar. Harga jual juga meningkat, dari Rp 35.880.000 per hektar menjadi Rp 46.000.000 per hektar.
Prinsip dasar ini sebenarnya sederhana: beri tanaman ruang untuk tumbuh optimal. Dalam sistem konvensional, petani menanam padi dengan jarak rapat, dengan asumsi lebih banyak tanaman berarti lebih banyak hasil. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya: tanaman berdesakan, bersaing untuk mendapatkan cahaya, air, dan nutrisi, hasilnya justru suboptimal. Metode SRI membalik logika ini: dengan memberi ruang lebih luas (minimal 25 cm x 25 cm), setiap tanaman bisa tumbuh maksimal dan menghasilkan lebih banyak anakan.
Menghemat Air, Meningkatkan Hasil
Prinsip pengairan dalam SRI juga menantang konvensi: tanah dalam kondisi lembab, tidak tergenang air, sehingga memiliki kecukupan udara dan air sekaligus. Air menggenang hanya pada saat penyiangan agar tanah lunak dan mudah dikerjakan. Sistem pengairan berkala (intermittent) ini menghemat air hingga 30-50%. Di era krisis air yang semakin nyata, efisiensi ini bukan sekadar bonus—ia adalah keharusan.
Yang lebih penting, sistem pengairan berkala menciptakan kondisi aerobik-anaerobik bergantian yang mengoptimalkan aktivitas mikroba tanah. Ketika tanah tidak tergenang terus-menerus, akar padi mendapat oksigen yang cukup untuk tumbuh kuat dan dalam. Ini berbeda dengan sistem konvensional yang menggenang sawah secara permanen, menciptakan kondisi anaerobik yang justru menghambat pertumbuhan akar dan memproduksi gas metana—salah satu gas rumah kaca paling kuat.
Mengembalikan Biomassa Gulma sebagai Nutrisi
Penyiangan tanaman dilakukan sebanyak 4 kali, yaitu waktu tanaman berumur 10, 20, 30, dan 40 hari setelah tanam. Frekuensi penyiangan 4 kali bertujuan untuk menjaga ketersediaan oksigen di dalam tanah, memperbaiki pasokan udara, tanah tetap gembur, dan mengembalikan biomassa gulma sebagai nutrisi bagi tanaman padi. Bila penyiangan hilang satu kali, setara dengan kehilangan produksi padi 1-2 ton per hektar.
Ini adalah contoh sempurna dari filosofi SRI: tidak ada yang terbuang, semuanya menjadi bagian dari siklus nutrisi. Gulma yang biasanya dianggap musuh dan disemprot herbisida, dalam sistem SRI justru menjadi sumber nutrisi ketika dikembalikan ke tanah. Setelah penyiangan, dilakukan penyemprotan larutan mikroorganisme lokal (MOL) buatan sendiri dari bahan buah-buahan, buah maja, bambu muda, bonggol pisang, dan nasi. Semua bahan lokal, semua bisa dibuat petani sendiri, tanpa perlu membeli dari toko input pertanian.
Membongkar Kebekuan Pikiran Petani
Alik tidak hanya memberikan teori tentang pengelolaan benih, tetapi juga melakukan pendampingan intensif kepada petani dari proses pembelajaran hingga teknis pelaksanaannya. Ia memahami bahwa mengubah mindset petani dari ketergantungan pada benih dan input kimia memerlukan “proses panjang untuk membongkar kebekuan pikiran para petani” dengan memberikan logika-logika yang mudah dipahami.
Pendekatan edukatif ini mencakup pemahaman tentang seluruh siklus hidup tanaman—dari pemilihan benih, pengujian kualitas, cara tanam yang tepat, hingga pemeliharaan yang memungkinkan tanaman menghasilkan benih berkualitas untuk musim tanam berikutnya. Dengan cara ini, petani tidak lagi menjadi konsumen pasif benih komersial, tetapi menjadi produsen aktif yang mengendalikan sumber produksi mereka sendiri.
Pada awal sistem tanam dengan metode SRI organik ini diperkenalkan, banyak petani yang ragu dengan hasil yang akan diperoleh. Tapi setelah hasil panen perdana keluar, skeptisisme berubah menjadi antusiasme. Pendapatan petani yang menerapkan metode SRI meningkat secara langsung, berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan mereka. Metode ini membantu mengurangi ketergantungan petani pada input eksternal seperti pupuk kimia, menurunkan biaya produksi dan berdampak positif pada keberlanjutan lingkungan.
Mengapa Negara Tidak Belajar dari Mereka?
Wali Kota Banjar sendiri mengakui bahwa rumpun padi yang menggunakan pupuk organik terlihat jauh lebih banyak dibandingkan rumpun padi yang menggunakan pupuk kimia, sehingga hasilnya juga lebih banyak. Pengembangan budidaya padi organik sangat menjanjikan karena kebutuhan pangan, khususnya beras, sangat besar. Jika seorang wali kota bisa melihat ini, mengapa kementerian dan direktorat jenderal yang dibayar dengan anggaran negara tidak bisa?
Mubiar dan Alik bahkan menulis buku bersama berjudul “Padi SRI Organik Indonesia” yang diterbitkan oleh Penebar Swadaya dengan edisi revisi. Buku ini memandu pembaca menghasilkan beras organik dari penanaman padi dengan metode SRI Organik Indonesia, berdasarkan konsepsi rekayasa mikrobioreaktor tanaman yang terbukti berhasil. Pengetahuan ini tidak disembunyikan dalam jurnal berbayar yang hanya bisa diakses akademisi—ia disebarkan secara terbuka, dalam bahasa Indonesia, dengan tujuan memberdayakan petani.
Pertanyaan yang menggantung adalah: jika dua orang—seorang guru besar dan seorang praktisi—bisa melatih 47.000 petani dan mengelola 10.320 hektar lahan organik dengan hasil panen yang jauh melampaui rata-rata nasional, mengapa negara dengan ribuan penyuluh pertanian, puluhan balai penelitian, dan anggaran triliunan rupiah tidak bisa mereplikasi kesuksesan ini secara massal?.
Mengapa kita masih mengimpor benih yang membawa penyakit, masih mensubsidi pupuk kimia yang merusak tanah, masih membuka pintu bagi korporasi asing untuk mengontrol sistem pangan kita, sementara Mubiar dan Alik telah menunjukkan jalan yang berbeda—jalan yang tidak hanya lebih produktif, tetapi juga lebih berdaulat, lebih berkelanjutan, dan lebih sesuai dengan karakter ekologis dan budaya Indonesia?.
Mungkin jawabannya sederhana: karena mengakui bahwa Mubiar dan Alik benar berarti mengakui bahwa selama puluhan tahun, kebijakan pemerintah salah jalan. Dan dalam budaya birokrasi kita, mengakui kesalahan adalah hal yang paling sulit dilakukan—bahkan lebih sulit daripada meminta petani menanam padi dengan jarak 25 cm x 25 cm. (****
GWS, 6 November 2025




Komentar