oleh

Bunda Ratu Suningrat Bicara Soal Seruan Jihad Melalui Kumandang Adzan Dilihat dari Kajian Anthropologi Budaya dan Pemolisian Masyarakat

-Umum-772 views

Bandung,LINTAS PENA

Kemarin saya dikagetkan dengan adanya pelesetan panggilan Jihad melalui seruan adzan yang tersebar luar melalui medsos.Hal tersebut dapat memicu keributan warganet.Kita di negara Indonesia ini sesuai dengan falsafah bangsa Pancasila harus saling menghormati antar umat beragama.Dari sudut pandang yang menggunakan pisau analisa kajian hukum sosial proggresif, dimana hukum itu tumbuh dan berkembang sesuai dalam pergaulan hidup manusia   dan dibatasi dengan norma hukum positif yang berlaku pada saat ini.

Hal itu disampaikan Dr.Nining Suningrat,SH,MH yang lebih dikenal dengan sebutan Bunda Ratu Suningrat dari Keprabuan Tembong Agung Sumedang saat ngobrol bareng saudaranya Kombes Pol Jakub Prajogo,S.Ik,M.Si dalam suasana santai.

“Ketika saya kaitan  dari sisi budaya yang seperti kita ketahui bersama Indonesia ini negara yang kaya  budaya dengan masing pulau yang ada itu menganut agama yang berbeda yang diakui oleh negara.Saay seorang muslim tapi seruan untuk jihad, saya bingung… karena kita (mohon maaf) di Nusantara ini ada beberapa agama yang diakui oleh Negara.Bila memang ada yang kurang pas, bisa melalui sistem mekasnisme yang benar.Masyarakat a di seluruh Nusantara mempunyai budaya kearifan lokal juga kita mengenal hukum Adat disana.Jadi menurut hemat saya, mari kita bersama saling menghormati antar umat beragama. yang diakui dan dilindungi oleh negara”ujarnya.

Bunda Ratu Suningrat mengatakan, bahwa seruan jihad yang salah tempat dan sudha merusak kaidah agama .Adzan itu untuk panggilan sholat, maka sesuai dengan pendapat Abah Anton tokoh budaya dan seni juga (Irjen Pol Purn Dr.H.Anton Charliyan MPKN mantan Kapolda Jabar)  dan Pembina di Yayasan kami Tembong Agung Medang Larangan .”Ketokohan beliau tidak diragukan lagi krn walau beliau seorang Jendral beliau berkenan berbaur dengan masyarakat adat tanpa membedakan suku agama atau golongan dan selalu memberikan wejangan agar harus rukun silih asah silih asih dan silih asuh.”tuturnya

Karena itu, Bunda ratu Suningrat mengajak masyarakat untuk bersama sama  menempatkan diri sesuai kemampuan masing masing dalam mengatasi pademi dengan meningkatkan kerukunan bermasyarakat berbangsa dan bertanah air satu Indonesia….    “Salam Pancasila sudah saya gaungkan sejak tahun 2018 ,pertama kali ketika saya menjadi pemateri Adat pada acara temu Adat yang diselenggarakan oleh Depdagri di Bogor yang dihadiri Kerajaan dan Kasultanan seluruh Nusantara.Salam Pancasila itu bermakna agar kita selalu mengingat falsafah bangsa yaitu Pancasila dengan Lima Sila yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari ….sehingga masyarakat adat di seluruh Nusantara dapat hidup tenang dan damai….Salam Pancasila,”pungkasnya.

Sementara itu, Kombes Pol Jakub Prajogo,S.Ik,M.Si berpendapat, bahwa dari sejarah budaya bangsa bahwa Adat Budaya Nusantara yang beranekan ragam budaya telah tumbuh dan memiliki norma norma adat budaya masing-masing yang dijaga. Terdapat norma-norma dengan batasan-batasan tertentu mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan seiring dengan kepercayaan agama dan aliran kepercayaan yang diyakini, dimana dari masing-masing adat budaya ada dalam satu adat budaya lokal yang memiliki agama dan kepercayaan yang berbeda-beda pula namun tetap menjaga tata nilai dan norma adat budaya lokal. “Namun seiring perkembangan waktu timbul rasa persatuan berbangsa yg ditandai dgn Hari Kebangkitan Nasional tgl 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 apalagi pada Hari Kemerdekaan NKRI tanggal 17 Agustus 1945 masyarakat adat nusantara bersatu dengan saling hormat-menghormati dan saling menghargai adanya perbedaan antar suku budaya lokal dan agama kepercayaan masing-masing, yang kita sebut dengan menjaga toleransi antar umat beragama yang telah dijaga dan diamanatkan dalam UUD Negara RI 1945 dan Pancasila. “ujarnya

Jika ada segelintir oknum yang demi kepentingan syahwat kekuasaan dirinya membawa kelompoknya yg disalahgunakan disertai dgn menyalahgunakan kegiatan beragama yang padahal menjadi rahmat dan berakhlak baik menjadi budi daya adat lokal dan adat budaya nusantara, berarti dia mencederai/mengkhianati sifat baik akal budi nya sendiri yg telah diberikan Tuhan Allah Yang Maha Kuasa kepada dirinya sendiri, mencederai/mengkhianati keyakinan agamanya sendiri, mencederai/mengkhianati tata nilai adat lokal maupun nusantara serta mencederai/mengkhianati dirinya selaku warganegara sebagai bangsa NKRI yang memiliki nilai-nilai falsafah hidup bangsa Pancasila dan UUD Negara RI yang kita cintai dan junjung bersama.

“Nilai-nilai falsafah hidup jiwa bangsa Pancasila dan UUD Negara RI 1945 telah tumbuh dan berkembang pada setiap warga negara dalam lingkungan adat budaya lokal dan budaya nusantara yang menjadi ciri khas kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan RI yg kita cintai harus kita jaga dalam tiap tingkatan lingkungan kehidupan selaku warga, adat budaya lokal dan adat budaya nusantara ini juga merupakan cara setiap menjaga hubungan sosial kehidupan yang merupakan menjaga polisi adat secara berjenjang yang bagian dari pemolisian masyarakat. Dimana sedikit saja dari warga ada ada yg melanggar mencederai kehidupan adat budaya, maka yang dituakan terutama tokoh adat budaya sedini mungkin dapat mengingatkan, menegur dan menertibkan warganya agar kembali ke tata nilai budaya adat yang berjiwa Pancasila otomatis di dalamnya menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Inilah hidupnya polisi adat yang menjaga kehidupan adat budaya lokal dan nusantara. Jika ini berjalan sesuai koridornya maka bangsa kita dapat menuju bangsa yang tata tentrem kerta raharja sesuai harapan kita semua.”katanya

Dia menambahkan, karena norma agama juga hidup dalam norma adat maka secara bersama tokoh adat dan tokoh agama duduk bersama selaku tokoh masyarakat adat budaya lokal untuk menegur warga sekaligus umatnya yang melanggar norma adat budaya lokal, jika tetap melanggar apalagi melanggar pidana maka tokoh masyarakat adat dapat bekerja sama dengan aparat pemerintahan daerah setempat, aparat keamanan dan aparat penegak hukum yang berada di wilayah hukumnya secara berjenjang. Kerjasama para stakehoders terkait tersebut merupakan kekuatan adat budaya lokal setempat dalam menyelesaikan setiap permasalahan sosial yang terjadi secara dini dalam masyarakat. Sehingga bekerjanya polisi adat budaya lokal bekerjasama dlm menyelesaikan masalah dalam lingkungannya dengan stakeholders terkait tersebut telah merupakan upaya menjalankan pemolisian masyarakat.

“Jika pola polisi adat lokal telah bekerja dalam proses pemolisian masyarakat mininal dapat mencegah oknum berperilaku buruk menjadi malu karena adanya kontrol sosial juga sanksi sosial yg hidup dalam masyarakat adat budaya lokal dan dapat mencegah perilaku oknum tidak berkembang lebih berat apalagi terjadi adanya kelompok yang menggunakan simbol-simbol tertentu terutama ormas tertentu untuk melegalkan cara premanismenya. Sehingga nantinya setiap orang yg ingin membuat ormas tertentu selain tidak berazaskan Pancasila dan UUD Negara RI 1945 dan rekomendasi dari Tokoh-tokoh masyarakat Adat Budaya Lokal dan sakehokders tidak akan diberikan ijinya. Yg terlanjur sudah ada ijin ormas namun melanggar tata nilai adat budaya lokal dan Pancasila, maka atas rekomendasi masyarakat adat dan stakehokders tersebut bahwa layak untuk dicabut dari ijinnya maka pemerintah daerah yg memberikan ijin, atas rekomendasi polisi adat budaya lokal dan para stakhoders terkait tsb dapat dijadikan dasar untuk mencabut ormas yang melanggar juga dinyatakan dilarang.Ternyata polisi adat budaya lokal bagian dari pemolisian masyarakat banyak manfaatnya bagi warga, masyarakat, banhsa dan Negara Kesatuan RI yang kita cintai dan banggakan. Amin. Ini merupakan kajian Anthropologi Budaya dan Pemolisian Masyarakat.”puaparnya Panjang lebar . (REDI MULYADI)***

Komentar

News Feed