Penulis: Agus Pakpahan
1. ASAP DATANG LEBIH DULU DARIPADA BERITA
Pagi itu Sintang diselimuti asap.
Bukan kabut.
Paul sudah lama tinggal di Kalimantan Barat sehingga ia dapat membedakan kabut dengan asap hanya dari baunya.
Kabut membuat orang berkata, “Pagi ini dingin.”
Asap membuat orang berkata, “Dari mana datangnya?”
Paul berdiri di beranda rumahnya.
Ia memandang Sungai Kapuas yang biasanya terlihat jelas.
Hari itu sungai seperti menghilang.
Yang terlihat hanya bayangannya.
“Kapuas masih ada?” tanya Paul.
Seorang tetangga menjawab:
“Masih.”
“Syukurlah.”
“Kenapa?”
“Karena kalau sungainya hilang, kita harus membuat rapat untuk menemukannya.”
Tetangganya tertawa.
Paul tidak.
Ia sedang berpikir.
Asap itu tidak datang sendirian.
Ia membawa sebuah pertanyaan:
Siapa yang bertanggung jawab atas sesuatu yang sumbernya berada di tempat lain?
2. API TIDAK MEMPUNYAI KTP
Paul berjalan ke warung kopi.
Di sana sudah ada beberapa orang.
Mereka sedang membicarakan kebakaran.
“Dari perusahaan,” kata seseorang.
“Dari masyarakat,” kata yang lain.
“Karena kemarau,” kata orang ketiga.
“El Niño,” kata orang keempat.
“Orang membuka lahan,” kata orang kelima.
Paul duduk.
Ia memesan kopi.
Kemudian berkata:
“Menarik.”
Semua menoleh.
“Apa yang menarik, Paul?”
“Api.”
“Apanya?”
“Api tidak mempunyai KTP.”
Mereka tertawa.
Paul melanjutkan:
“Api tidak mempunyai alamat.”
Tawa mulai berhenti.
“Api tidak membawa sertifikat tanah.”
“Tidak membawa izin perkebunan.”
“Tidak membawa kartu anggota koperasi.”
“Tidak membawa surat tugas.”
“Jadi, ketika api bergerak dari satu tempat ke tempat lain, ia tidak peduli siapa pemilik administrasinya.”
Seorang petani berkata:
“Lalu bagaimana kita menentukan siapa yang salah?”
Paul mengangkat cangkir kopinya.
“Nah. Itu pertanyaan yang benar.”
3. SALAH MENUNJUK, SALAH MEMADAMKAN
Paul mengambil selembar kertas.
Ia menggambar api kecil.
Kemudian menggambar sebuah panah.
“Kalau kita hanya mencari siapa yang menyalakan api,” katanya, “kita mungkin menemukan penyebab penyalaan.”
Ia menggambar panah kedua.
“Tetapi kita belum tentu menemukan mengapa api dapat berkembang menjadi kebakaran besar.”
Ia menggambar gambut.
“Apakah bahan bakarnya terlalu kering?”
Ia menggambar saluran air.
“Apakah gambut dikeringkan?”
Ia menggambar jalan.
“Apakah akses pemadaman tersedia?”
Ia menggambar permukiman.
“Apakah masyarakat terlindungi?”
Ia menggambar perusahaan.
“Apakah kewajiban pencegahan dijalankan?”
Ia menggambar pemerintah.
“Apakah sistem pengawasan bekerja?”
Lalu ia menggambar semuanya dalam satu lingkaran.
“Karhutla adalah cerita tentang sistem.”
“Bukan hanya cerita tentang satu korek api.”
Seorang pemuda berkata:
“Jadi siapa yang harus disalahkan?”
Paul menjawab:
“Jangan terburu-buru mencari orang untuk disalahkan.”
“Cari dulu mekanisme yang membuat kesalahan kecil dapat berubah menjadi bencana besar.”
4. PAUL MENEMUKAN ISTILAH BARU
Malam itu Paul membuka buku catatannya.
Ia menulis:
API → ASAP → INFORMASI → KEPUTUSAN → TINDAKAN
Kemudian ia mencoret kata “informasi”.
Ia menggantinya dengan:
PENGETAHUAN
Kemudian mencoret lagi.
Ia menulis:
PENGETAHUAN YANG MENJADI KEPUTUSAN
Paul tersenyum.
“Ini masalahnya.”
Bukan kita tidak tahu.
Kita sering tahu.
Kita tahu gambut mudah terbakar ketika dikeringkan.
Kita tahu musim kemarau meningkatkan risiko.
Kita tahu bahan bakar yang menumpuk meningkatkan potensi penyebaran.
Kita tahu api dapat menyebar melewati batas administrasi.
Kita tahu asap mengganggu kesehatan.
Kita tahu pencegahan lebih murah daripada bencana.
Tetapi pengetahuan itu kadang-kadang berhenti sebagai pengetahuan.
Ia tidak menjadi desain.
Ia tidak menjadi anggaran.
Ia tidak menjadi prosedur.
Ia tidak menjadi kewajiban.
Ia tidak menjadi ukuran kinerja.
Paul menulis satu kalimat:
«“Masalah terbesar bukan ketika manusia tidak tahu. Masalahnya adalah ketika manusia tahu, tetapi organisasi bertindak seolah-olah tidak tahu.”»
Ia berhenti.
“Agnotologi,” katanya pelan.
Ia sudah mengenal istilah itu.
Tetapi malam itu Paul melihatnya dengan cara berbeda.
5. KETIDAKTAHUAN YANG DIBUAT OLEH ORGANISASI
Besoknya Paul kembali ke kantor koperasi.
Ia bertemu pengurus.
“Berapa banyak data yang kita punya tentang kebakaran?”
“Banyak.”
“Berapa banyak yang digunakan?”
Pengurus diam.
Paul bertanya lagi:
“Berapa titik rawan?”
“Ada petanya.”
“Siapa yang memegang?”
“Beberapa lembaga.”
“Apakah petanya sama?”
“Belum tentu.”
“Kalau ada kebakaran, siapa yang pertama tahu?”
“Masyarakat.”
“Siapa yang pertama bertindak?”
“Tidak selalu sama.”
“Siapa yang mempunyai alat?”
“Perusahaan punya.”
“Pemerintah?”
“Ada.”
“Masyarakat?”
“Terbatas.”
Paul mengangguk.
“Jadi kita mempunyai pengetahuan.”
“Ya.”
“Kita mempunyai alat.”
“Ya.”
“Kita mempunyai manusia.”
“Ya.”
“Kita mempunyai organisasi.”
“Ya.”
Paul tersenyum.
“Lalu mengapa kita masih mempunyai kebakaran?”
Tidak ada yang menjawab.
Paul berkata:
“Mungkin masalah kita bukan kekurangan sumber daya.”
“Mungkin masalah kita adalah sumber daya yang tidak terhubung.”
6. KOPERASI SEBAGAI JEMBATAN
Paul kemudian menggambar sebuah jembatan.
Di satu sisi ia tulis:
PENGETAHUAN
Di sisi lain:
TINDAKAN
Di tengah:
KOPERASI
“Bukan karena koperasi mempunyai kekuatan ajaib,” katanya.
“Koperasi berguna karena ia dapat menjadi tempat orang mengikat kepentingan.”
Ia menulis:
DATA + KEPERCAYAAN + ATURAN + DANA + ORGANISASI = KAPASITAS BERSAMA
“Bayangkan seorang petani memiliki pengetahuan tentang lahannya.”
“Perusahaan memiliki alat.”
“Pemerintah memiliki kewenangan.”
“Akademisi memiliki metode.”
“Pemadam memiliki keterampilan.”
“Dan koperasi memiliki jaringan anggota.”
“Kalau semuanya bekerja sendiri, kita mempunyai lima sistem.”
“Kalau terhubung, kita mempunyai satu sistem yang lebih kuat.”
Seorang pengurus berkata:
“Berarti koperasi menjadi pusat koordinasi?”
Paul menggeleng.
“Tidak selalu.”
“Lalu?”
“Koperasi menjadi infrastruktur sosial.”
“Tempat kepercayaan dibangun.”
“Tempat informasi bergerak.”
“Tempat kesepakatan dibuat.”
“Tempat kepentingan bersama dirawat.”
“Sedangkan kewenangan tetap berada pada pihak yang secara hukum memang memilikinya.”
7. RAPAT KEDUA
Beberapa hari kemudian diadakan rapat lagi.
Judulnya lebih pendek:
Rapat Pencegahan Karhutla Berbasis Lanskap.
Paul menyukai judul itu.
Ia datang.
Kali ini tidak ada PowerPoint selama dua puluh menit pertama.
Sebagai gantinya, mereka membentangkan peta.
Paul senang.
“Sekarang kita mulai melihat alam,” katanya.
Peta itu menunjukkan perkebunan, hutan, desa, sungai, kanal, dan lahan gambut.
Paul menunjuk satu kawasan.
“Di sini siapa yang bertanggung jawab?”
Seseorang menjawab.
“Perusahaan.”
Paul menunjuk sebelahnya.
“Di sini?”
“Masyarakat.”
“Di sini?”
“Pemerintah.”
Kemudian Paul menunjuk kanal yang melintasi beberapa wilayah.
“Kalau airnya turun di sini dan kebakaran terjadi di sini, siapa yang bertanggung jawab?”
Ruangan kembali hening.
Paul tersenyum.
“Ini dia.”
“Barang yang kita kelola ternyata bukan sekadar tanah.”
Ia menunjuk kanal.
“Bukan sekadar tanaman.”
Ia menunjuk hutan.
“Bukan sekadar produksi.”
Ia menunjuk desa.
“Kita sedang mengelola hubungan antarbagian.”
8. PAUL DAN IGCTOD
Seorang akademisi yang hadir bertanya:
“Apakah ini yang Anda maksud dengan IGCTOD?”
Paul mengangguk.
“Kurang lebih.”
Ia mengambil spidol.
“IGCTOD adalah Intrinsic Good Characteristics Theory of Organizational Design.”
Ia menulisnya perlahan di papan.
“Teori ini mengajukan pertanyaan sederhana, meskipun jawabannya tidak selalu sederhana.”
Ia berhenti.
“Kalau karakteristik barang yang kita kelola berbeda, mengapa organisasi yang mengelolanya harus selalu sama?”
Ia menulis:
KARAKTERISTIK BARANG → DESAIN ORGANISASI
Kemudian:
GAMBUT → AIR → API → ASAP → MASYARAKAT
“Kalau semua ini saling berhubungan,” katanya, “organisasi yang bekerja sendiri-sendiri akan menghasilkan celah.”
“Dan api sangat menyukai celah.”
Seorang peserta tertawa.
Paul ikut tertawa.
“Api,” katanya, “adalah auditor yang sangat kejam.”
“Kalau desain organisasi kita buruk, api akan menemukannya.”
9. BUKU YANG LEBIH MURAH DARIPADA ASAP
Malam itu beberapa pemuda masih berkumpul di warung dekat Sungai Kapuas.
Paul datang membawa sebuah naskah yang cukup tebal.
Seorang pemuda bertanya:
“Buku apa itu, Paul?”
Paul mengangkat naskah tersebut.
“Ini draft akhir buku Prof. AP.”
“Buku tentang apa?”
Paul membuka halaman pertama.
“Buku ini membahas hubungan antara kebakaran hutan dan lahan, pengetahuan, organisasi, dan cara kita memandang sumber daya alam.”
Seorang pemuda mendekat.
“Judulnya?”
Paul membacanya perlahan:
KARHUTLA, API, DAN PERADABAN.
Kemudian ia menambahkan:
“Di dalamnya juga dibahas IGCTOD — Intrinsic Good Characteristics Theory of Organizational Design.”
Pemuda itu mengernyitkan dahi.
“Panjang sekali.”
Paul tertawa.
“Memang. Tetapi jangan takut dengan panjangnya nama. Yang penting adalah pertanyaannya.”
“Apa pertanyaannya?”
Paul menjawab:
«“Kalau karakteristik barang yang kita kelola berbeda, mengapa organisasi yang mengelolanya harus selalu sama?”»
Para pemuda mulai memperhatikan.
Paul kemudian berkata:
“Saya dapat draft akhir buku ini dari Prof. AP.”
Ia mengangkat naskah itu.
“Ia sedang mencari sponsor untuk menerbitkannya.”
Seorang pemuda langsung bertanya:
“Mengapa harus mencari sponsor?”
Paul tersenyum.
“Karena kita di Indonesia belum melihat buku sebagai kebutuhan,” jelas Paul.
“Padahal,” lanjutnya, “harganya paling-paling tidak lebih dari lima bungkus rokok.”
Para pemuda tertawa.
Salah seorang menyela:
“Kalau begitu, kenapa orang lebih mudah membeli rokok daripada buku?”
Paul memandang Sungai Kapuas.
“Itulah masalah peradaban.”
Semua kembali diam.
“Rokok memberikan kenikmatan sekarang.”
“Buku memberikan kemampuan untuk berpikir nanti.”
“Manusia sering lebih mudah membayar sesuatu yang langsung terasa daripada sesuatu yang mengubah cara berpikir.”
Ia membuka naskah itu lagi.
“Padahal satu buku bisa mengubah cara seseorang melihat dunia.”
“Kalau cara melihat dunia berubah, cara mengambil keputusan bisa berubah.”
“Kalau keputusan berubah, organisasi bisa berubah.”
“Kalau organisasi berubah, cara kita mengelola hutan, gambut, air, dan api juga bisa berubah.”
Paul menutup buku.
“Jadi jangan bertanya hanya berapa harga buku.”
“Bertanyalah berapa harga ketidaktahuan.”
Seorang pemuda terdiam.
Kemudian ia berkata:
“Kalau begitu, buku ini sebenarnya bukan tentang api.”
Paul mengangguk.
“Benar.”
“Buku ini tentang apa?”
Paul tersenyum.
“Tentang manusia yang harus belajar sebelum alam mengajarinya dengan cara yang mahal.”
10. LOMPATAN KUANTUM
Paul kemudian teringat sesuatu.
Ia berkata:
“Kita sering mengatakan perlu koordinasi.”
Semua mengangguk.
“Kita membuat forum koordinasi.”
Semua mengangguk.
“Kita membuat tim koordinasi.”
Anggukan lagi.
“Kita membuat rapat koordinasi.”
Anggukan semakin kuat.
“Kemudian kebakaran terjadi.”
Semua diam.
Paul tersenyum.
“Jadi mungkin kita memerlukan sesuatu yang lebih dari koordinasi.”
“Apa?”
“Integrasi.”
Ia menulis besar-besar:
KOORDINASI ≠ INTEGRASI
“Koordinasi berarti saya memberi tahu Anda apa yang saya lakukan.”
“Integrasi berarti tindakan kita dirancang sebagai satu sistem.”
Ia menulis:
SEBELUM API
bukan
SETELAH API.
“Ini lompatan kecil dalam cara berpikir.”
“Tetapi bisa menjadi lompatan besar dalam hasil.”
11. SEBUAH KOPERASI MULAI BERGERAK
Koperasi kemudian menyusun program sederhana.
Bukan program yang indah.
Program yang bisa dilakukan.
Setiap anggota di kawasan rawan memiliki tugas.
Mereka membuat jaringan informasi.
Mereka mengidentifikasi sumber air.
Mereka mencatat jalan masuk.
Mereka mendata lahan yang sangat kering.
Mereka membuat daftar orang yang dapat dihubungi.
Mereka menyisihkan dana untuk pencegahan.
Mereka menjalin hubungan dengan perusahaan dan pemerintah.
Mereka membuat latihan bersama.
Dan mereka menetapkan satu prinsip:
Jangan menunggu asap menjadi hitam untuk mulai bertindak.
Seorang anggota bertanya:
“Kalau tidak ada kebakaran, apakah kita tetap bekerja?”
Paul menjawab:
“Justru saat tidak ada kebakaranlah kita harus bekerja.”
“Kalau sudah terbakar, kita sedang membayar harga dari pekerjaan yang tidak kita lakukan sebelumnya.”
12. MALAM DI TEPI KAPUAS
Malam itu Paul kembali ke sungai.
Ia melihat air.
Asap sudah mulai menipis.
Bintang muncul satu demi satu.
Paul berpikir tentang api.
Tentang hutan.
Tentang perusahaan.
Tentang petani.
Tentang pemerintah.
Tentang koperasi.
Tentang manusia.
Kemudian ia menyadari bahwa pertanyaan:
“Siapa yang memiliki api?”
ternyata bukan pertanyaan yang paling penting.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“SIAPA YANG MEMILIKI TANGGUNG JAWAB UNTUK MEMASTIKAN API TIDAK BERUBAH MENJADI BENCANA?”
Jawabannya ternyata tidak tunggal.
Sebagian berada pada negara.
Sebagian pada perusahaan.
Sebagian pada masyarakat.
Sebagian pada organisasi lokal.
Sebagian pada ilmu pengetahuan.
Dan semuanya bertemu pada satu tempat:
tanggung jawab bersama yang tidak menghapus tanggung jawab masing-masing.
Paul tersenyum.
“Ah,” katanya.
“Ini baru koperasi.”
Sungai Kapuas tetap mengalir.
Ia membawa air dari hulu menuju hilir.
Tidak pernah meminta izin kepada batas kabupaten.
Tidak pernah mengadakan rapat koordinasi.
Tidak pernah membuat PowerPoint.
Tetapi ia mengajarkan satu pelajaran yang sederhana:
«Apa yang terjadi di hulu dapat menentukan kehidupan di hilir.»
Dan mungkin, pikir Paul, itulah pelajaran pertama dari sebuah peradaban ekologis:
«Jangan hanya bertanya siapa yang menyalakan api. Bertanyalah mengapa seluruh sistem membiarkan api kecil mempunyai kesempatan menjadi bencana besar.»
Paul menatap Kapuas sekali lagi.
Besok pagi ia akan kembali ke koperasi.
Bukan untuk membuat rapat tentang kebakaran.
Tetapi untuk membuat sistem yang bekerja sebelum kebakaran terjadi.
Sebab bagi Paul, setelah bertahun-tahun menjadi anak Sungai Kapuas, satu hal semakin jelas:
Kebakaran hutan bukan hanya persoalan api.
Ia adalah ujian terhadap pengetahuan, organisasi, solidaritas, dan peradaban.
Dan peradaban yang baik bukan peradaban yang paling pandai memadamkan api.
Peradaban yang baik adalah peradaban yang cukup bijaksana untuk mencegah api kecil menjadi bencana besar.
Bersambung ke Cerpen #10.





Komentar