oleh

ESAI 1: Universitas Tertua – Pelajaran Engineering Dari Alam

Oleh: Gilarsi W. Setijono

ABSTRAK

Gedung-gedung modern di Jakarta mengonsumsi energi setara pembangkit listrik kecil hanya untuk sistem pendingin udara, sementara koloni rayap membangun menara setinggi 9 meter dengan sistem klimatisasi alami tanpa tagihan listrik sepeser pun. Esai ini membongkar paradoks fundamental dalam pendekatan teknologi manusia: kita hidup di negara tropis yang sempurna untuk ventilasi pasif, namun mengimpor teknologi pendingin dari negara-negara bermusim dingin. Melalui kajian biomimikri—khususnya arsitektur gundukan rayap Afrika yang menginspirasi berbagai proyek ikonik dari Zimbabwe hingga Australia dan Kenya—tulisan ini menunjukkan bahwa alam telah menawarkan blueprint engineering selama 3.8 miliar tahun riset dan pengembangan tanpa biaya overhead. Indonesia, dengan kekayaan biodiversitas tertinggi kedua di dunia, sesungguhnya memiliki perpustakaan pengetahuan engineering paling lengkap, namun ironisnya kita lebih memilih menjadi bangsa yang rajin mengimpor solusi daripada belajar dari guru-guru yang ada di halaman belakang rumah kita sendiri. Esai ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali definisi kemajuan teknologi dan mempertanyakan: sudahkah kita cukup rendah hati untuk duduk di bangku kuliah universitas tertua—alam itu sendiri ?​​

Rayap yang Lebih Pintar dari Arsitek Bersertifikat

Coba, bayangkan sebentar: Anda seorang insinyur lulusan ITB, bersertifikat internasional, mendesain gedung pencakar langit di Sudirman. Komputer tercanggih, software simulasi thermal dari Jerman, konsultan dari Singapura. Hasilnya? Gedung yang menghabiskan listrik setara konsumsi 200 rumah hanya untuk menjaga ruangan tetap sejuk. Tagihan PLN bulanan: ratusan juta rupiah. Sementara itu, di Afrika, rayap—serangga yang ukuran otaknya tidak lebih besar dari ujung jarum pentul—membangun menara 9 meter dengan sistem pendingin udara sempurna tanpa sepeser pun biaya operasional.​

Ini bukan dongeng. Ini realitas yang menampar keras arogansi kita sebagai spesies yang mengaku paling cerdas di planet ini.​

Arsitektur Rayap: Ketika Serangga Mengajarkan Termodinamika

Gundukan rayap Macrotermes michaelseni di gurun Namibia adalah mahakarya engineering. Strukturnya bukan sekadar tumpukan tanah—ini adalah sistem klimatisasi terintegrasi yang memanfaatkan prinsip-prinsip termodinamika pasif, efek Venturi, dan konveksi udara dengan presisi tinggi. Di dalam gundukan yang bisa mencapai suhu 30°C sementara suhu luar mencapai 40°C di siang hari dan turun drastis di malam hari, koloni rayap berhasil menjaga suhu stabil untuk jamur yang mereka budidayakan sebagai sumber makanan.​

Bagaimana caranya? Rayap mendesain jaringan terowongan vertikal dan horizontal yang menciptakan sirkulasi udara konstan. Udara panas naik melalui cerobong pusat, keluar lewat pori-pori di puncak gundukan, sementara udara dingin tersedot dari terowongan bawah tanah. Tidak ada motor, tidak ada kompresor, tidak ada freon. Hanya fisika murni yang dieksekusi dengan sempurna oleh serangga yang tidak pernah mengikuti kursus HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning).​

Ketika Manusia Akhirnya Cukup Rendah Hati untuk Belajar

Mick Pearce, arsitek asal Zimbabwe, bukan orang bodoh. Dia mengamati gundukan rayap selama bertahun-tahun dan menerapkan prinsip yang sama pada Eastgate Centre di Harare. Hasilnya? Kompleks perkantoran dan mal seluas 32.500 meter persegi yang menghemat 90% biaya energi untuk pendinginan dibandingkan gedung konvensional. Eastgate tidak punya AC sentral—hanya sistem ventilasi pasif yang meniru rayap. Biaya konstruksi? Lebih murah 10% karena tidak perlu membeli sistem AC senilai jutaan dolar. Biaya sewa? Lebih rendah karena penghuni tidak perlu menanggung tagihan listrik yang mencekik leher.​​

Tapi Zimbabwe bukan satu-satunya yang belajar dari rayap. Di Melbourne, Australia, Council House 2 (CH2) dirancang oleh Pearce dengan filosofi biomimikri yang sama. Gedung pemerintahan kota ini bukan sekadar gedung hijau—ini adalah manifesto hidup bahwa teknologi maju tidak harus menghabiskan energi. Fasad kayu yang dapat bergerak menyesuaikan sudut matahari, sistem “night purge” yang membuang udara panas di malam hari, dan “shower towers” setinggi 15 meter yang mendinginkan udara melalui evaporasi—semua itu menghasilkan gedung yang 85% lebih hemat energi dibanding gedung kantor konvensional. CH2 menjadi gedung pertama di Australia yang meraih peringkat 6 Green Star maksimal. Yang lebih mencengangkan: saat sistem pendingin elektroniknya dimatikan selama perbaikan di musim panas 2014, gedung ini tetap nyaman ditempati berkat desain pasifnya yang solid.​

Di Kenya, Startup Lions Campus di tepi Danau Turkana mengadopsi prinsip yang sama dengan sentuhan lokal yang lebih kental. Tiga menara ventilasi setinggi pencakar langit kecil, berwarna terracotta seperti gundukan rayap di sekitarnya, menjulang dari kompleks pelatihan ICT ini. Menara-menara itu bukan dekorasi—mereka adalah cerobong pasif yang menarik udara panas ke atas menggunakan “efek tumpukan” (stack effect), sementara udara sejuk masuk dari bukaan rendah yang dapat disesuaikan. Material? Batu lokal yang diplester dengan semen—tidak perlu impor kaca reflektif dari Eropa.​

Indonesia: Negara Tropis yang Belajar AC dari Negara Musim Dingin

Sekarang mari kita lihat ke negeri sendiri. Indonesia, negara dengan iklim tropis yang rata-rata temperaturnya 26-28°C sepanjang tahun—kondisi yang sempurna untuk ventilasi pasif dan pendinginan alami. Kita punya angin laut, kelembapan tinggi, dan tradisi arsitektur lokal yang sudah memahami prinsip udara silang sejak era kerajaan Majapahit. Rumah-rumah Jawa Joglo dengan atap tinggi dan bukaan lebar, rumah Gadang Minangkabau dengan atap gonjong yang memfasilitasi sirkulasi udara vertikal—semua itu adalah biomimikri praktis yang tidak disadari.​

Tapi apa yang kita lakukan? Kita mengimpor teknologi AC dari Amerika Serikat dan Jepang—negara-negara dengan musim dingin yang membutuhkan sistem pemanas di musim dingin dan pendingin di musim panas. Kita menerapkan standar bangunan dari Eropa yang dirancang untuk memaksimalkan panas matahari di musim dingin, lalu memaksakan desain itu di Jakarta yang tidak pernah butuh pemanas seumur hidupnya. Hasilnya? Gedung-gedung kaca berlapis di Jakarta yang menjadi oven raksasa di siang hari, lalu butuh AC maksimal untuk dikembalikan ke suhu normal.​

Zimbabwe—negara dengan GDP per kapita lebih rendah dari Indonesia—berani membangun Eastgate Centre pada 1996, saat biomimikri masih dianggap eksperimental. Australia—negara maju dengan standar bangunan ketat—memberikan Council House 2 penghargaan tertinggi pada 2005. Kenya—salah satu negara termiskin di Afrika—membangun Startup Lions Campus dengan prinsip rayap di 2021. Sementara itu Indonesia pada 2025? Masih sibuk membangun mal dengan kaca full-wall dan AC beroperasi 24/7.​​

Seperti kata pepatah Sunda: “Ulah boga alas boga kabogoh, tapi teu boga akal” (Jangan punya hutan punya kekasih, tapi tidak punya akal). Kita punya segala sumber daya untuk desain bangunan tropis yang efisien—kearifan lokal, iklim mendukung, bahkan ratusan spesies rayap endemik di setiap provinsi—namun kita lebih memilih jadi bangsa fotokopi yang rajin mencontek jawaban dari tetangga yang ujiannya beda.​

Pelajaran Engineering yang Sebenarnya

Apa yang rayap ajarkan bukan sekadar cara membuat bangunan hemat energi. Mereka mengajarkan filosofi desain: bekerja dengan alam, bukan melawannya. Mereka tidak mencoba mengubah lingkungan dengan teknologi brute force—mereka memahami kondisi lokal dan mendesain solusi yang memanfaatkan apa yang sudah tersedia: gravitasi, perbedaan tekanan udara, panas matahari, kelembapan tanah.​
Eastgate Centre menghemat $3.5 juta di biaya konstruksi karena tidak beli AC. Council House 2 menurunkan tagihan energi hingga 87%. Startup Lions Campus dibangun dengan material lokal tanpa rantai pasok impor yang mahal. Ketiga gedung itu bukan cuma “ramah lingkungan”—mereka lebih ekonomis dari gedung konvensional. Tapi di Indonesia, “gedung hijau” masih dianggap mahal dan hanya untuk perusahaan multinasional yang mau pamer sertifikat LEED.​​

Indonesia punya ratusan spesies rayap lokal. Apakah ada satu universitas pun yang mendedikasikan riset serius tentang struktur gundukan mereka untuk diterapkan di arsitektur modern? Sementara kita sibuk mengundang profesor dari MIT untuk ceramah tentang sustainable architecture dengan bayaran puluhan ribu dolar, rayap di belakang kampus kita sedang memberikan kuliah gratis—hanya saja kita terlalu sibuk menyemprot mereka dengan racun.​

Kembali ke Sekolah, atau Terus Jadi Bangsa Copy-Paste?

Universitas tertua di dunia tidak ada di Oxford, bukan di Al-Azhar. Dia ada di hutan, di rawa, di gurun, di setiap ekosistem tempat makhluk hidup berevolusi selama 3.8 miliar tahun. Biaya pendaftaran: nol rupiah. Syarat masuk: kesediaan mengamati dengan rendah hati. Ijazah yang ditawarkan: masa depan yang berkelanjutan.​

Pertanyaannya sekarang: mau sampai kapan kita menjadi bangsa yang pintar bicara tentang teknologi hijau di seminar internasional, tapi pulang ke rumah langsung nyalakan AC tanpa pernah bertanya apakah ada cara lain? Berapa lama lagi kita akan menjadi negara tropis yang mengimpor solusi dari negara bermusim empat, lalu mengeluh kenapa tagihan listriknya mahal ?​

Rayap tidak pernah lulus SD, tapi dia sudah mengalahkan arsitek-arsitek lulusan universitas ternama dalam hal efisiensi energi. Mick Pearce cukup rendah hati untuk duduk di tanah merah Afrika dan belajar dari gundukan tanah. Arsitek Kenya cukup bijak untuk tidak meniru gedung kaca Manhattan, tapi meniru menara rayap di halaman mereka sendiri. Sementara kita? Masih sibuk mengimpor “best practices” dari negara yang musimnya beda, iklimnya beda, budayanya beda.​​

Mungkin yang bodoh bukan rayapnya. Mungkin yang bodoh adalah kita—yang punya otak lebih besar, tapi juga ego lebih besar lagi untuk mengakui bahwa kita perlu belajar dari makhluk yang lebih kecil. Zimbabwe, Australia, Kenya sudah lulus dari universitas rayap. Kapan giliran Indonesia ? ###

GWS, 9 Dec 2025

Komentar