Oleh: Prof. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D.___Pengembang Teori Koperasi Kuantum
Serial Tropikanisasi-Kooperatosasi,Edisi Khusus — Peringatan Hari TNI 5 Oktober 2026
- “An army marches on its stomach.”— Napoleon Bonaparte (1769–1821)
- “Penderitaan rakyat adalah penderitaan tentara.”— Presiden Prabowo Subianto, 2026
I. Paradoks di Usia 81 Tahun
Tentara Nasional Indonesia genap berusia 81 tahun. Dengan lebih dari 400.000 personel aktif, TNI adalah salah satu institusi paling besar dan paling dipercaya di Indonesia. Namun, di balik angka-angka kekuatan itu, tersimpan sebuah paradoks yang jarang dibicarakan: bangsa yang memiliki tentara besar, namun rakyatnya tidak mampu makan bergizi.
Prevalensi stunting nasional pada 2024 berada di angka 19,8%—untuk pertama kalinya turun di bawah 20 persen, setara dengan penurunan 357 ribu anak dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, disparitas tetap tajam: 29,8% di kuintil termiskin versus 12,1% di kuintil terkaya.
Pertanyaan yang harus diajukan di usia 81 tahun bukan lagi sekadar: berapa banyak alutsista yang kita miliki? Tetapi: seberapa kuat fondasi pangan yang menopang ketahanan negara?
II. Perang Masa Depan Dimulai dari Meja Makan
Perang telah berubah. Ancaman kini bersifat multidomain: darat, laut, udara, siber, ruang angkasa, informasi, dan kecerdasan buatan. Namun, ada satu domain yang sering terabaikan dalam diskursus pertahanan: pangan.
Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang tidak mampu memberi makan rakyatnya akan tumbang—bukan oleh invasi militer, tetapi oleh invasi pasar, invasi kebijakan, invasi ketidaktahuan.
Penyosohan beras—yang menghilangkan 80–95% vitamin, 60–85% mineral, 75–85% serat, dan 90–100% bioaktif—bukanlah kemajuan. Ia adalah kemunduran yang dibungkus sebagai modernisasi.
Inilah agnotologi—produksi sistematis ketidaktahuan yang menguntungkan segelintir pihak dan merugikan mayoritas rakyat. Dan inilah medan perang yang sesungguhnya: medan perang epistemik.
III. TNI dan Ketahanan Pangan: Sejarah yang Hidup Kembali
Keterlibatan TNI dalam ketahanan pangan bukanlah hal baru. Dalam Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, disebutkan bahwa ancaman terhadap ketersediaan pangan merupakan bagian dari ancaman multidimensional yang dapat melemahkan daya tahan nasional. Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan atas UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI mempertegas peran TNI dalam mengantisipasi dan menanggulangi ancaman nonmiliter, termasuk krisis pangan.
Menko Pangan Zulkifli Hasan dalam HUT ke-80 TNI menegaskan: “TNI bukan hanya penjaga perbatasan, tapi juga penjaga harapan rakyat. Banyak prajurit TNI yang turun langsung membantu petani, menjaga distribusi pangan, hingga memastikan logistik tetap aman di wilayah terpencil.”
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melaporkan bahwa TNI AD berhasil mendukung 55,24 persen target produksi beras nasional tahun 2026. Sepanjang Januari–Juni 2026, pendampingan TNI AD mencakup 6,26 juta hektare lahan padi dengan produksi sekitar 19,2 juta ton beras.
IV. Renaissance Pangan Tropika: Kerangka Strategis
IV.1 Mulai dari Beras Utuh: Revolusi dari Barak
Langkah pertama adalah yang paling sederhana, namun paling revolusioner: TNI mengonsumsi beras utuh.
Beras utuh—beras yang tidak disosoh, yang mempertahankan lapisan aleuron dan germ—adalah pangan tropika yang sesungguhnya. Ia adalah warisan Nusantara yang dikategorikan sebagai “beras kampung” oleh diskursus dominan. Padahal, di dalamnya terkandung gizi yang telah hilang dari beras putih yang dikonsumsi mayoritas rakyat Indonesia.
Jika TNI mengonsumsi beras utuh di seluruh barak, di seluruh mess, di seluruh dapur umum—maka TNI telah menjadi pelopor bagi gerakan pro-gizi rakyat. Setiap prajurit yang makan beras utuh adalah duta gizi kebangkitan Renaissance Pangan Unggul Tropika.
IV.2 Membangun Koperasi Kuantum dengan Petani: Dari Hulu
Langkah kedua adalah membangun Koperasi Kuantum dengan petani.
Selama ini, TNI terlibat dalam program pangan sebagai pendamping—BIMAS, INMAS, pendampingan penyuluh. Namun, keterlibatan ini bersifat proyek, bukan gerakan. Ia berhenti ketika proyek selesai.
Koperasi Kuantum menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia adalah sistem berbasis nilai—Medan Kesadaran, Keterjeratan Kuantum, Omega, Delta, Kooperatisasi—yang mengikat petani, TNI, dan konsumen dalam satu jaringan kepercayaan.
Credit Union Keling Kumang (CUKK) telah membuktikan bahwa sistem berbasis nilai dapat melayani 232.200 anggota dengan aset mencapai Rp 2,3 triliun per Juni 2025, dan terus tumbuh menuju target 300.000 anggota dengan aset Rp 3 triliun.
IV.3 Pengembangan Industri Berbasis Nilai Tambah Padi dan Ekosistem Persawahan
Padi bukan sekadar komoditas. Padi adalah ekosistem—sawah, air, tanah, keanekaragaman hayati, pengetahuan petani, budaya gotong royong.
TNI dapat menjadi katalis untuk industri ini:
▪️︎ Bank benih: menyimpan dan membagikan benih padi lokal yang kaya nutrisi.
▪️︎ Penggilingan mini: membangun penggilingan yang tidak menyosoh beras secara berlebihan.
▪️︎ Pasar lokal: menghubungkan petani dengan konsumen—terutama konsumen institusional seperti TNI.
▪️︎ Riset partisipatif: melibatkan prajurit dan petani dalam penelitian tentang pangan.
V. Dimensi Ekonomi: Beras Utuh sebagai Investasi Kesehatan
V.1 Beban Ekonomi Gizi Buruk
Gizi buruk di Indonesia menelan biaya ekonomi yang sangat besar. Setiap tahun, negara mengeluarkan triliunan rupiah untuk mengobati penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan pangan yang tepat. Sementara itu, pangan yang tersedia—beras putih yang telah kehilangan 80–95% gizinya—justru menjadi penyebab utama defisiensi gizi.
Inilah paradoks agnotologi: negara membiayai penyakit yang diciptakan oleh sistem pangannya sendiri.
V.2 Beras Utuh sebagai Obat Pencegahan
Penyosohan beras menghilangkan:
▪️︎ 80–95% vitamin (terutama B1, B3, B6).
▪️︎ 60–85% mineral (terutama zat besi, zinc, magnesium).
▪️︎ 75–85% serat.
▪️︎ 90–100% bioaktif.
Defisiensi vitamin B1 menyebabkan beri-beri. Defisiensi zat besi menyebabkan anemia. Defisiensi zinc menyebabkan stunting dan gangguan imunitas. Defisiensi serat menyebabkan diabetes dan penyakit jantung.
Dengan mengkonsumsi beras utuh, TNI dan keluarganya tidak hanya makan—mereka berobat. Setiap suapan beras utuh adalah dosis pencegahan yang menghemat biaya pengobatan di masa depan.
V.3 Penghematan Anggaran Kesehatan
Studi ekonomi kesehatan menunjukkan bahwa intervensi nutrisi pada anak yang gagal tumbuh dapat menghemat empat kali lipat biaya kesehatan yang harus dikeluarkan jika anak tersebut dirawat di rumah sakit akibat stunting.
Pemberian formula padat nutrisi pada anak dengan defisiensi gizi dapat mencegah:
▪️︎ 1,6 juta kasus stunting.
▪️︎ 1,2 juta kasus wasting.
▪️︎ 1,9 juta kasus underweight.
Dengan penghematan biaya pengobatan yang mencapai triliunan rupiah per tahun.
Beras utuh bukanlah biaya tambahan. Ia adalah investasi yang memberikan return dalam bentuk:
▪️︎ Kesehatan yang lebih baik.
▪️︎ Produktivitas yang lebih tinggi.
▪️︎ Biaya pengobatan yang lebih rendah.
▪️︎ Generasi yang lebih kuat.
VI. Buah Unggul Tropika: Senjata Gizi dari Kebun Nusantara
Gerakan Renaissance Pangan Tropika tidak berhenti pada beras utuh. Ia harus mencakup buah-buah unggul tropika yang telah menjadi warisan Nusantara sejak berabad-abad—jambu biji, pisang, pepaya, dan mangga.
VI.1 Jambu Biji (Guava): Raja Vitamin C
Jambu biji adalah buah tropis dengan kandungan vitamin C terbesar dibandingkan buah lainnya—bahkan empat kali lipat dibandingkan jeruk. Dalam 100 gram jambu biji terkandung 87 mg vitamin C, 2,4 g serat, 14 mg kalsium, 28 mg fosfor, dan 52,8 mg kalium. Manfaatnya meliputi: melawan radikal bebas, melancarkan pencernaan, memperkuat daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah dan kolesterol, menjaga kesehatan mata, mencegah diabetes, dan menjaga kesehatan kulit. Satu buah jambu biji merah seberat 275 g dapat mencukupi kebutuhan vitamin C tiga orang dewasa per hari.
VI.2 Pisang: Energi Instan untuk Prajurit
Pisang adalah buah dengan energi instan yang mudah tersedia dalam waktu singkat—sangat cocok untuk prajurit yang membutuhkan kalori sesaat. Kandungan gizinya meliputi kalium, magnesium, besi, fosfor, kalsium, vitamin A, B6, dan C, serta serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter untuk kecerdasan otak. Manfaat pisang antara lain: membantu mengatasi hipertensi, sumber karbohidrat dan vitamin A, memperlancar metabolisme, meningkatkan kekebalan tubuh, melancarkan aliran oksigen ke otak, mengatasi anemia, menyehatkan tulang, dan sebagai “mood food”.
Pisang mengandung fruktooligosakarida (FOS) —bentuk fruktan rantai pendek—serta pati resisten yang keduanya berfungsi sebagai prebiotik bagi bakteri baik di usus. Kombinasi FOS dan pati resisten inilah yang menjadikan pisang sebagai pangan fungsional tropika yang unggul.
VI.3 Pepaya: Enzim Papain untuk Pencernaan Optimal
Pepaya kaya akan enzim papain, chymopapain, caricain, dan glycyl endopeptidase yang membantu mencerna protein. Kandungan gizinya meliputi kalori, karbohidrat, protein, lemak, serat, antioksidan, vitamin A, B1, B2, B3, B5, B6, asam folat, C, E, dan K. Manfaat pepaya: melancarkan pencernaan, meningkatkan sistem imun, menjaga kesehatan jantung, menyehatkan kulit dan rambut, menyembuhkan luka pada lapisan perut, mengurangi risiko kanker, memerangi peradangan, dan menjaga kestabilan gula darah.
VI.4 Mangga: Antioksidan untuk Perlindungan Sel
Mangga mengandung mangiferin dan gallotannins—fitokimia khas yang memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi. Dalam 100 g daging buah mangga terkandung 60 kkal energi, 0,82 g protein, 1,6 g serat, 36,4 mg vitamin C, 1082 IU vitamin A, 168 mg kalium, dan 43 µg folat. Manfaat mangga: mencegah kanker (kanker kolon, payudara, leukemia, prostat), menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), membersihkan pori-pori kulit, dan mendukung kesehatan metabolik serta jantung.
VII. Perbandingan Nutrisi: Buah Tropika vs Apel
VII.1 Kandungan Nutrisi per 100 Gram
▪️︎ Energi: Apel 52–58 kkal; Jambu biji 49 kkal; Pisang 89–128 kkal; Pepaya 43 kkal; Mangga 60 kkal.
▪️︎ Protein: Apel 0,2–0,4 g; Jambu biji 0,9 g; Pisang 0,8–1,2 g; Pepaya 0,47 g; Mangga 0,82 g.
▪️︎ Serat: Apel 2,3–2,4 g; Jambu biji 2,4 g; Pisang 2,6–8,1 g; Pepaya 1,7 g; Mangga 1,6 g.
▪️︎ Vitamin C: Apel 4,0–5,0 mg; Jambu biji 87 mg; Pisang 9–120 mg; Pepaya 60,9 mg; Mangga 36,4 mg.
▪️︎ Vitamin A: Apel 90 IU; Jambu biji 27 mcg beta-karoten; Pisang 2,4 ppm; Pepaya 135 mcg RAE; Mangga 1082 IU.
▪️︎ Kalium: Apel 184 mg; Jambu biji 52,8 mg; Pisang 382 mg; Pepaya 182 mg; Mangga 168 mg.
▪️︎ Kalsium: Apel 5 mg; Jambu biji 14 mg; Pisang 12 mg; Pepaya 20 mg; Mangga 11 mg.
▪️︎ Fosfor: Apel 5 mg; Jambu biji 28 mg; Pisang 28 mg; Pepaya 10 mg; Mangga 14 mg.
▪️︎ Zat Besi: Apel 0,3 mg; Jambu biji 1,1 mg; Pisang 0,3–0,8 mg; Pepaya 0,25 mg; Mangga 0,16 mg.
▪️︎ Folat: Apel – ; Jambu biji – ; Pisang – ; Pepaya – ; Mangga 43 µg.
Sumber: Data Komposisi Pangan Indonesia, USDA, Kementerian Kesehatan RI.
VII.2 Analisis Relatif terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG)
Vitamin C:
▪️︎ AKG Vitamin C pria dewasa: 90 mg/hari.
▪️︎ AKG Vitamin C wanita dewasa: 75 mg/hari.
Kontribusi terhadap AKG:
▪️︎ 1 buah jambu biji (275 g): 239 mg = 265% AKG pria / 319% AKG wanita (dapat mencukupi kebutuhan 2–3 orang dewasa per hari).
▪️︎ 1 buah pepaya (200 g): 122 mg = 136% AKG pria / 163% AKG wanita.
▪️︎ 1 buah apel (150 g): 6 mg = 7% AKG pria / 8% AKG wanita.
Vitamin A:
▪️︎ AKG Vitamin A pria dewasa: 650 RE/hari.
▪️︎ AKG Vitamin A wanita dewasa: 600 RE/hari.
Zat Besi:
▪️︎ AKG Zat Besi pria dewasa: 9 mg/hari.
▪️︎ AKG Zat Besi wanita dewasa: 18 mg/hari.
VII.3 Implikasi untuk Ketahanan Negara
▪️︎ Pertama, buah tropika adalah senjata gizi yang lebih efektif. Jambu biji, pisang, pepaya, dan mangga memberikan nutrisi yang jauh lebih tinggi per gram dibandingkan apel.
▪️︎ Kedua, buah tropika adalah warisan Nusantara. Apel bukanlah buah asli Indonesia—ia diimpor. Jambu biji, pisang, pepaya, dan mangga adalah buah tropika yang tumbuh subur di tanah Nusantara.
▪️︎ Ketiga, buah tropika adalah investasi kesehatan yang hemat. Harga jambu biji, pisang, pepaya, dan mangga di pasar lokal jauh lebih murah dibandingkan apel impor.
VIII. Multiplier Effects: Ketika 400.000 Menjadi 2 Juta
Efek Berganda dari 400.000 Personel TNI dan Keluarganya:
▪️︎ Total populasi: 400.000 prajurit × rata-rata 4 anggota keluarga = 1,6–2 juta jiwa yang menjadi pelopor gerakan pro-gizi rakyat.
▪️︎ Konsumsi beras utuh: Jika 2 juta jiwa mengonsumsi beras utuh dengan rata-rata 87,3 kg/kapita/tahun, maka kebutuhan beras utuh mencapai 174,6 juta kg/tahun.
▪️︎ Kebutuhan gabah: Dengan konversi 1,3 kg gabah menjadi 1 kg beras, maka kebutuhan gabah mencapai 227 juta kg/tahun.
▪️︎ Lahan sawah produktif: Dengan produktivitas 6 ton/ha, diperlukan sekitar 37.800 hektar sawah yang dikelola secara produktif.
▪️︎ Petani terlibat: Dengan rata-rata 0,5 ha per petani, gerakan ini akan melibatkan sekitar 75.600 petani di seluruh Nusantara.
▪️︎ Koperasi baru terbentuk: Dengan skala 1.000 anggota per koperasi, akan lahir sekitar 75 koperasi Kuantum baru yang menjadi simpul-simpul kepercayaan di pedesaan.
▪️︎ Efek gizi: 2 juta jiwa yang mengonsumsi beras utuh akan mengalami perbaikan gizi signifikan—penurunan risiko diabetes, penyakit jantung, dan defisiensi gizi.
▪️︎ Efek ekonomi: 75.600 petani yang terlibat dalam Koperasi Kuantum akan mendapatkan harga yang adil, bukan harga yang ditentukan tengkulak.
▪️︎ Efek generasional: Stunting di kuintil termiskin (29,8%) dapat ditekan melalui perbaikan gizi keluarga prajurit.
▪️︎ Efek ketahanan negara: Bangsa yang rakyatnya bergizi adalah bangsa yang kuat, berdaulat, dan tidak dapat dijajah.
IX. TNI PRIMA: Profesional, Responsif, Integratif, Modern, Adaptif
TNI PRIMA harus bermakna lebih dari sekadar akronim. Ia harus menjadi komitmen untuk menghadapi perang masa depan—termasuk perang pangan.
▪️︎ Profesional berarti TNI memahami pangan sebagai domain pertahanan dengan sudut pandang Pro-Gizi Rakyat.
▪️︎ Responsif berarti TNI mampu merespons ancaman pangan dengan cepat, seperti kembali ke konsumsi beras utuh dan buah tropika.
▪️︎ Integratif berarti TNI terintegrasi dengan kementerian pertanian, kementerian kesehatan, koperasi, dan masyarakat sipil, khususnya dengan masyarakat petani dan konsumen pangan Pro-Gizi Rakyat.
▪️︎ Modern berarti TNI modern tidak hanya dalam alutsista, tetapi juga dalam pemahaman tentang pangan dan menjadi pelopor renaissance pangan unggul tropika.
▪️︎ Adaptif berarti TNI mampu beradaptasi dengan perubahan ancaman pangan dengan membangun solusi bersama melalui gerakan koperasi pro-gizi rakyat.
▪️︎ Kuat untuk berperang berarti TNI kuat tidak hanya dalam perang konvensional, tetapi juga dalam perang pangan berbasis keunggulan tropika.
▪️︎ Setia pada rakyat dan konstitusi berarti TNI setia pada kesejahteraan rakyat—termasuk kesejahteraan pangan secara holistik.
X. Penutup: Renaissance Dimulai dari Satu Suapan
Renaissance Eropa dimulai dari satu kota—Florence. Renaissance Pangan Tropika dapat dimulai dari satu barak—dari satu prajurit yang memutuskan untuk makan beras utuh.
TNI Pelopor Renaissance Pangan Tropika.
▪️︎ Mulai dari mengonsumsi beras utuh.
▪️︎ Membangun Koperasi Kuantum dengan petani.
▪️︎ Mengembangkan industri berbasis nilai tambah padi dan ekosistem persawahan.
▪️︎ Mempromosikan buah unggul tropika: jambu biji, pisang, pepaya, mangga.
400.000 prajurit. 2 juta jiwa. Satu gerakan.
Perang masa depan dimulai dari meja makan.
Makanan adalah obat. Obat adalah makanan.
Beras utuh adalah investasi. Buah tropika adalah senjata.
Ketahanan pangan adalah ketahanan negara.
TNI Kuat Bersama Rakyat.
Cooperative minds are quantum minds.
Dari data ke kesadaran, dari kesadaran ke tindakan, dari tindakan ke kebijakan, dari kebijakan ke peradaban.
Membangun peradaban adalah panggilan—bukan klaim.
Sumedang, 5 Oktober 2026
DAFTAR PUSTAKA
- Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2022). Yuk Ketahui Manfaat Buah Jambu Biji untuk Kesehatan Tubuh. Kementerian Kesehatan RI.
- Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2023). Manfaat Pisang Bagi Kesehatan Tubuh. Kementerian Kesehatan RI.
- Food and Agriculture Organization (FAO). (2020). Rice in Human Nutrition. Rome: FAO.
- Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia. (2025). Menko Zulhas Hadiri HUT ke-80 TNI, Apresiasi Prajurit Penjaga Kedaulatan dan Rakyat Indonesia. Siaran Pers No.80/SES.M.PANGAN.4/SP/10/2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Pertama Kali dalam Sejarah: Prevalensi Stunting Indonesia Turun di Bawah 20 Persen.
- Pakpahan, A. (2026). Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman. Jatinangor: Universitas Koperasi Indonesia.
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia.
- Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. (2018). Kandungan Nutrisi pada 100 g Daging Buah Mangga. Kementerian Pertanian RI.
- Susilo, J. H. (2025). Strategi Ketahanan Pangan Terpadu TNI AD dalam Rangka Mendukung Terwujudnya Ketahanan Pangan Nasional. Jurnal Yudhagama, Edisi September 2025.
- USDA National Nutrient Database for Standard Reference. (2018). Mangos, raw.
- USDA National Nutrient Database for Standard Reference. (2019). Papayas, raw.
- World Health Organization (WHO). (2023). Guideline: Fortification of Rice with Vitamins and Minerals as a Public Health Strategy. Geneva: WHO.(****









Komentar