هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك ُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد.ْا َْلَْمْد ُ لِلّٰه ّ الَّذّي ْ
ِفّ الصّٰدْق ّ وَا ْلّْخ َْلَصّ، و ََتَْرّي ْلّْْيَْانّ، وَجَعَل َ الْقُر َْبَن َ دَرْسًا جَعَل َ ا ْلَْضْحَى مَو ِْسًّا لّتَجْدّيْد ّ اَُنَْمَدُه ْيَا. ر ّ الْقَلْب ّ مّن ْ أَسْر ّ الدُّن َّ
َلَ وَنَشْكُرُه ُ عَلَى نّعَمّه ّ ال َعَا سُبْحَانَه ُ وَت َُ َلَ شَرّيْك َّلَّ هللا ُ وَحْدَه ْ َلَ إّلهه َ إ ََلَ َتُْصَى. أَشْهَد ُ أَن ُعَد ُّ و ِتّْ َلَ تََنَلَهُ، وَأَشْهَد ُ أَن َّ سَيّٰد ّ
َّنَ ُمَُمَّدٍ، وَعَلَى آلّه ّ وَصَحْبّه هُم َّ صَل ّٰ وَسَلّٰم ْ و ََبَرّك ْ عَلَى سَيّٰدٰهُمَُمَّدًا عَبْدُه ُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَوْم ّ الدّٰيْنّ. َّلَ ي ْ ِبّّحْسَان ٍ إ وَمَن ْ تَبّعَهُم ّ
َيَا عّبَاد َ هللاّ، أُوْص َعْدُ، ف أَمَّا ب ّْ ِفّ الدُّن ّْيَْ، وَطَرّيْق ُ النَّجَاة َّقْوَى زَاد ُ الْمُؤْمّن َقْوَى هللاّ، فَإّن َّ الت َفْسّي َ الْمُقَصّٰرَة َ بّت يْكُم ْ وَنيَا وَا ْلْخّرَةّ. ُ
َنَال َ ْلُُوْمُهَا و ََلَ دّمَاؤُهَا وَلهكّن ْ ي َنَال َ هللا َلَ ِفّْ كّتَابّه ّ الْكَر ّْيّْ: لَن ْ ي َعَا قَال َ هللا ُ ت ْهى مّنْكُمَّقْو ه ُ الت.هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، ُ
و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد.
Ma’asyiral muslimin, jemaah Iduladha yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita bertakbir. Tetapi takbir tidak boleh berhenti di lisan. Takbir harus turun ke hati.
Ketika kita berkata Allah Mahabesar, kita sedang ditanya: benarkah Allah yang paling besar dalam
hidup kita? Atau yang lebih besar justru dunia: uang, jabatan, gengsi, pujian, popularitas,
kenyamanan, dan keinginan untuk selalu terlihat berhasil?
Iduladha datang bukan hanya membawa hewan kurban ke tempat penyembelihan. Iduladha
membawa hati kita ke ruang pemeriksaan. Ada yang harus ditanya. Ada yang harus dibongkar. Ada
yang harus di-reset. Seperti ponsel atau laptop yang terlalu penuh: memorinya sesak, kerjanya
lambat, perintah sederhana pun terasa berat. Kadang hati manusia juga begitu. Terlalu penuh oleh
ambisi, gengsi, iri, takut kalah, takut miskin, takut tidak dipuji, takut tidak dianggap berhasil.
Akhirnya hati menjadi berat untuk taat, berat untuk ikhlas, berat untuk melepas, berat untuk
tenang. Maka Iduladha datang sebagai reset hati: membersihkan ruang batin dari cinta dunia yang
berlebihan, agar Allah kembali menjadi yang paling besar dalam hidup kita.
Maka pada pagi Iduladha ini, mari kita ajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri.
Pertanyaan pertama: “apa yang paling menyibukkan hidup kita?”
Jemaah sekalian,
Banyak manusia hari ini tampak sibuk, tetapi belum tentu terarah. Bangun pagi mengejar
target. Siang mengejar uang. Malam mengejar pengakuan. Hari demi hari dihabiskan untuk
menaikkan angka: angka saldo, angka aset, angka pengikut, angka pencapaian, angka jabatan,
angka pujian. Kita mengejar dunia seperti orang kehausan meminum air laut. Makin diminum,
makin haus.
Media sosial membuat hidup orang lain terlihat selalu lebih indah. Rumah orang lain lebih
bagus. Kendaraan orang lain lebih baru. Karier orang lain lebih cepat. Liburan orang lain lebih
jauh. Lalu hati kita gelisah. Bukan karena kita tidak punya nikmat, tetapi karena kita terus
membandingkan nikmat kita dengan nikmat orang lain. Padahal Allah Swt telah memperingatkan:ُ
ُر ا َْلْهىكُم ُ التَّكَاث.
“Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu” (Q.S. At-Takatsur
Allah mengingatkan bahwa manusia sering dilalaikan oleh takātsur: saling memperbanyak,
saling menumpuk, dan saling membanggakan. Bukan sekadar ingin cukup, tetapi ingin lebih;
bukan hanya ingin hidup layak, tetapi ingin tampak lebih tinggi dari orang lain.
Menariknya, peringatan Al-Qur’an ini sejalan dengan temuan kajian psikologi modern.
Dalam meta-analisis tahun 2014, Helga Dittmar, Rod Bond, Megan Hurst, dan Tim Kasser
menunjukkan bahwa gaya hidup yang terlalu materialistis—berpusat pada kepemilikan—
berkaitan dengan rendahnya kepuasan hidup dan melemahnya kesejahteraan batin. Seolah
menegaskan pesan wahyu, semakin banyak dunia yang dikejar tidak selalu membuat hati semakin
tenang; yang bertambah justru sering kali rasa kurang, kegelisahan, dan kehausan yang tak pernah
selesai.
Maka Iduladha bertanya kepada kita: jangan-jangan hidup kita terlalu penuh oleh dunia,
sampai Allah hanya tersisa di pinggir keputusan-keputusan kita. Jangan-jangan kita masih salat,
masih berdoa, masih bertakbir, tetapi ketika memilih pekerjaan, uang, jabatan, relasi, dan ambisi,
yang paling kita dengarkan bukan Allah, melainkan nafsu dan gengsi. Nauzubillahi min dzalik!ُ
هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد
,
Pertanyaan kedua: “Apa yang paling berat kita lepaskan?”
Jemaah Iduladha yang berbahagia,
Di titik inilah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdiri di hadapan kita. Ibrahim berkata:
هىَر ِفّ الْمَنَام ّ اَن ّْْٰٓ اَذ َْبَُك َ فَانْظُر ْ مَاذَا ت هىَُنََّ اّن ّْْٰٓ اَر يهب.
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa
pendapatmu?”(Q.S. Ash-Shaffat [37]: 102).
Di sinilah ujian Ibrahim menjadi sangat besar. Ia diuji dengan sesuatu yang sangat ia cintai,
Ismail. Tetapi ketika cinta paling dalam itu berhadapan dengan perintah Allah, Ibrahim tidak
bersembunyi di balik alasan. Ia tunduk dan pasrah. Ia membuktikan bahwa Allah tetap yang
tertinggi.
Pada akhirnya, Allah tidak ingin mengambil Ismail dari Ibrahim. Allah ingin mengajari
manusia bahwa apa pun yang paling dicintai harus tetap tunduk kepada Allah. Karena yang kita
cintai bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi bisa juga menjadi berhala halus di dalam hati. Karena
itu Allah Swt berfirman:َ
َتُّبُّون َْبَّّ ح ََّتَّه تُنفّقُوا ۟ ِمَّّا َنَالُوا ۟ ٱل لَن ت.
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu
menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 92).
Ayat ini pernah mengguncang hati Abu Thalhah Al-Anshari. Ia memiliki kebun yang sangat
ia cintai, bernama Bairuha. Kebun itu indah, subur, dan dekat dengan Masjid Nabawi. Ketika ayat
ini turun, Abu Thalhah datang kepada Rasulullah saw dan berkata bahwa harta yang paling ia cintai
adalah Bairuha. Lalu ia menyerahkannya karena Allah. Abu Thalhah tidak memberi yang tidak
lagi ia inginkan. Ia memberi yang paling ia cintai, karena ia ingin Allah lebih dicintai.
Maka dari kisah Ibrahim dan Abu Thalhah ini, mari kita tanyakan pada diri kita: apa Ismail
kita? Apa Bairuha kita? Apakah harta? Jabatan? atau kenyamanan yang paling sulit kita lepaskan
di jalan Allah? Di sinilah pesan kurban menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Allah tidak
selalu meminta kita kehilangan apa yang kita cintai, tetapi Allah ingin memastikan bahwa tidak
ada satu pun yang lebih kita cintai daripada-Nya.ُ
هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد
,
Pertanyaan ketiga: “Apa yang sebenarnya akan kita bawa pulang?”
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Al-Qur’an mengabadikan sosok Karun. Ia diberi harta melimpah. Kunci-kunci gudangnya
saja berat dipikul oleh sekelompok orang kuat. Tetapi harta tidak membuatnya tunduk. Harta
membuatnya merasa besar. Ketika kaumnya menasihati agar ia tidak sombong dan tetap mencari
akhirat tanpa melupakan bagian dunia, Karun menjawab:ْٓ
ه عّلْم ٍ عّندّىقَال َ إ َّّنََّا ْٓ أُوتّيتُهُۥ عَلَى.
“Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang
ada padaku.” (Q.S. Al-Qashash 28: 78.)
Lalu Allah Swt berfirman:َ
فَخَسَفْنَا بّهّۦ وَبّدَارّه ّ ٱ ْلَْرْض.
“Lalu, Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi.” (Q.S. Al-Qasas
Kisah Qarun mengajarkan bahwa manusia tidak akan membawa rumahnya, gudangnya,
simpanannya, jabatannya, dan pujian orang kepadanya. Semua bisa tinggal. Semua bisa hilang.
Bahkan yang dulu dibanggakan bisa berubah menjadi sebab kehancuran. Yang akan kita bawa
pulang bukan apa yang kita kumpulkan, tetapi apa yang membersihkan hati kita. Bukan apa yang
membuat manusia kagum, tetapi apa yang membuat Allah rida.
Di sinilah kurban menutup pelajaran itu dengan sangat jelas. Allah Swt berfirman:ْ
هى مّنْكُمَّقْو َنَالُه ُ الت َ ْلُُوْمُهَا و ََلَ دّمَاؤُهَا وَلهكّن ْ ي َنَال َ هللا لَن ْ ي.
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah,
tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 37).
Maka apa yang sebenarnya kita bawa pulang dari Iduladha? Bukan cerita tentang harga
sapi. Bukan kebanggaan karena hewan kurban kita besar. Bukan pujian manusia. Yang harus kita
bawa pulang adalah hati yang lebih bertakwa. Hati yang lebih ringan melepas. Hati yang tidak lagi
terlalu takut kehilangan dunia. Hati yang mulai paham bahwa semua yang kita miliki hanya titipan.
Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:ٍ
كَأَنَّك َ غَرّيْب ٌ أَو ْ عَابّر ُ سَبّيْل ْيَا ْ ِفّ الدُّن كُن.
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melewati jalan.”
(H.R. Bukhari).
Orang yang sadar dirinya hanya melewati jalan tidak akan membangun hati sepenuhnya di
tempat singgah. Ia bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan. Ia punya harta, tetapi tidak diseret
harta. Ia mencintai keluarga, tetapi tidak melupakan Allah. Ia menikmati dunia, tetapi tidak
menjual akhirat untuk dunia.ُ
هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد
,
Jemaah Iduladha yang dimuliakan Allah,
Maka hari ini, mari reset hati kita. Atur ulang cinta kita. Cintai keluarga, tetapi jangan
lupakan Allah. Cari rezeki, tetapi jangan halalkan yang haram. Bangun karier, tetapi jangan injak
orang lain. Miliki harta, tetapi jangan kehilangan empati. Kejar cita-cita, tetapi jangan korbankan
iman. Nikmati dunia, tetapi jangan biarkan dunia duduk sebagai penguasa hati.
Semoga Allah menerima kurban kita. Semoga Allah membebaskan hati kita dari cinta
dunia yang berlebihan. Semoga Iduladha ini membuat kita lebih ringan melepas, lebih kuat
menahan diri, lebih bersih dalam mencari rezeki, dan lebih dekat kepada Allah. Amin.ْلَْ
ْلَّْيَت ّ وَالذّٰكْر ّ ا ََنّْ وَإ َّّيَّكُم ْ ِبَّا فّيْه ّ مّن َ ا َفَع ْ ِفّ الْقُرْآن ّ الْعَظّيْمّ، وَن ُ ِلّْ وَلَكُم َبَرَك َ هللاِّْل ََغْفّر ُ هللا هذَا، وَأَسْتِْلّْ ه َو ُوْل ُ ق كّيْمّ. أَق ْ
َغْفّرُو ّْيَْ وَالْمُسْلّمَاتّ، فَاسْت وَلَكُم ْ وَلّسَائّر ّ الْمُسْلّم ُهُ، إّنَّه ُ هُو َ الْغَفُوْر ُ الرَّحّيْم.
Khotbah Keduaْلَْ
هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ امْدُ.كَث ّْيًْا َحَْدًا ،َّْْي ا َْلَْمْد ُ لِلّٰه ّ رَب ّٰ الْعَالَم ُ
ُ َلَ شَرّيْك َ لَه َّلَّ هللا ُ وَحْدَه ْ َلَ إّلهه َ إ َرْضَى. أَشْهَد ُ أَن ُّنَا وَي ُيُّب ُّ رَب َكًا فّيْهّ كَمَاطَيّٰبًا مُبَارََنَ ُمَُمَّدًا عَبْدُه ُ وَرَسُوْلُهُ. ، وَأَشْهَد ُ أَن َّ سَيّٰد ُ
هٰهاَلل َّيَا ع َعْدُ، ف ّْيَْ. أَمَّا ب َّنَ ُمَُمَّدٍ، وَعَلَى آلّه ّ وَأَصْحَابّه ّ أ َْجَْع م َّ صَل ّٰ وَسَلّٰم ْ و ََبَرّك ْ عَلَى سَيّٰدُقَاتّهّ، َّقُوا هللا َ حَق َّ ت بَاد َ هللاّ، اّت ُ
ََّنَّ ِبََّلَئّكَتّه ّ الْمُسَبّٰحَة ّ بّق َفْسّهّ، وَث ْ ِبَّمْر ٍ عَظّيْمٍ، بَدَأ َ فّيْه ّ بّن َكُموَاعْلَمُوْا أَن َّ هللا َ أَمَرََعَا َلَ: إّن َّ هللا َ وَم ََلَئّكَتَه ُ يُصَلُّوْن َقَال َ ت دْسّهّ، ف ََّي
عَلَى النَّبّّٰ، ََّنَ ُمَُمَّدٍ، وَعَل هُم َّ صَل ّٰ عَلَى سَيّٰدٰهُّهَا الَّذّيْن َ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْه ّ وَسَلّٰمُوا تَسْلّيْمًا. اَلل أَيَّنَ ُمَُمَّدٍ، كَمَا ى آل ّ سَيّٰد
ْرَاهّيْمَ. و ََبَرّك ْ عَلَى َّنَ إّب ْرَاهّيْمَ، وَعَلَى آل ّ سَيّٰد َّنَ إّب صَلَّيْت َ عَلَى سَيّٰدََكْتَبَر َّنَ ُمَُمَّدٍ، كَمَا َّنَ ُمَُمَّدٍ، وَعَلَى آل ّ سَيّٰد سَيّٰد ُ
هٰهٌ َمَّيْدٌ. اَلل َ َحَّيْد ّْيَْ، إّنَّك ِفّ الْعَالَم ْرَاهّيْمَ، َّنَ إّب ْرَاهّيْمَ، وَعَلَى آل ّ سَيّٰد َّنَ إّب عَلَى سَيّٰدّْيَْ وَالْمُسْلّمَاتّ، م َّ اغْفّر ْ لّلْمُسْلّم ّ
وَالْمُؤْمّن ََنَا، وَدُع ُر َْبَن َنَا، وَق َقَبَّل ْ مّنَّا ص ََلَت هُم َّ تٰهْهُم ْ وَا ْلَْمْوَاتّ. اَلل ْيَْ وَالْمُؤْمّنَاتّ، ا َْلَْحْيَاء ّ مّن ْهُم َّ اجْعَلٰهاء ََنَ، وَصَالّح َ أَعْمَالّنَا. اَلل َ
ْبًا مَغْفُوْرًا، وَسَعْي َنَا ذَن ْب ُو َْلً، وَذَن َْبََنً مَقْب ُر َنَا ق ُر َْبَن ق َّٰنَا مّن ْ حُب ُلُوْب هُم َّ طَهّٰر ْ قٰهََلً صَا ْلًّا م ََبُْوْرًا. اَلل نَا سَعْيًا مَشْكُوْرًا، وَعَمَلَنَا عَم ُ
ْ ُيَْجُب َّبّْ الَّذّي ُّفُوْسَ، وَمّن َ الْك ُفْسّد ُ الن ْنَا ا ْلْخّرَةَ، وَمّن َ الطَّمَع ّ الَّذّي ْ ي ُنْسّي ْيَا الَّذّي ْ ي الدُّن َنَا عَن ْ رّضَاكَ. اْيَا هُم َّ اجْعَل ّ الدُّنٰهلل َّ
ّْيَْ، ال ّْيَْ الْمُتَّق هُم َّ اجْعَلْنَا مّن ْ عّبَادّك َ الْمُخْلّصٰهُلُوْبّنَا. اَلل ِفّْ ق ََلَ َتَْعَلْهَا ْنَا و ِفّْ أَيْدّيُوْن َ رّضَاكَ، و َُيَْذَرُوْن َ سَخَطَكَ، ذّيْن َ يَطْلُب
هُم َّ احْفَٰهّْيَْ. اَلل هُم َّ أَصْلّح ْ أَحْوَالَنَا، وَأَحْوَال َ الْمُسْلّمٰهْيَا. اَلل ُؤْثّرُوْن َ ا ْلْخّرَة َ عَلَى الدُّن وَيََّّتّْيَْ مّن َ الْف ََنَ وَب َّلَد َ الْمُسْلّم ظ ْ ب َّلَد
ْفُسَنَا َّنَا ظَلَمْنَا أَن ْهَا وَمَا بَطَنَ. رَب وَالْمّحَنّ، مَا ظَهَر َ مّنْيَا ِفّ الدُّن َّنَا آتّنَا َر َْحَْنَا، لَنَكُوْنَن َّ مّن َ ا ْلَْاسّرّيْنَ. رَب َغْفّر ْ لَنَا وَت َلَْ ت ْ ، وَإّن ّ
ُ َبّلْعَدْل ّ وَا ْلّْحْسَان َ َيَْمُر َِفّ ا ْلْخّرَة ّ حَسَنَةً، وَقّنَا عَذَاب َ النَّارّ. عّبَاد َ هللاّ، إّن َّ هللا حَسَنَةً، وُْتَاء ّ ذّي الْق وَإّيّْهَى عَن َن ر َْبَ، وَي
ْكُمْ، وَاَغْيّ، يَعّظُكُم ْ لَعَلَّكُم ْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا هللا َ الْعَظّيْم َ يَذْكُر الْفَحْشَاء ّ وَالْمُنْكَر ّ وَالْبّشْكُرُوْه ُ عَلَى نّعَمّه ّ يَزّدْكُمْ، وَلَذّكْر ُ هللا ََُْب
أَك َْبَُ. هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك ُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد.
Khotbah Idul Adha “Reset Hati dari Cinta Duniaََُْ”














Komentar