Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
TIDAK terasa, dunia pendidikan telah melahirkan manusia yang merusak ekosistem. Ketika daratan dan lautan dirusak oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab, maka akibatnya ekosistem jadi rusak. Bencana demi bencana terjadi. Kekeringan, banjir, dan rusaknya biota laut. Ilmu , saint dan teknologi sepertinya bebas nilai. Akar saintek tercerabut dari budaya keyakinan.
Trihitakarana , nilai dari keyakinan, hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan, sebagai harmonitas yang merupakan kesalingterhubungan, tak bisa diabaikan. Tuhan secara substantif, tak dimiliki lagi dalam Trihitakarana. Terjadi disorientasi, Tuhan diabaikan dalam hubungan sesama dan alam. Orientasi materialis, dalam hal ini , manusia berubah orientasi pada uang-sebagai alat tukar- yang menjadi keyakinan, akibatnya Tuhan , manusia, dan alam diabaikan. Hal ini, apa yg disebut dengan sekularisme. Tuhan hanya hadir pada praktek ritual keagamaan , Tuhan hadir pada pembacaan teks suci , dan Tuhan tidak hadir dalam konteks kehidupan ,bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sebagai sebuah evaluasi, berapa kali Menteri Kehutanam, silih berganti. Apakah setiap ganti Menhut, hutan tropik Indonesia bertambah , faktanya terjadi pengurangan jumlah luas area hutan. Praktek ilegal loging, berjalan terus, dan menanam pohon pengganti yg sdh berumur puluhan bahkan ratusan tahun tidak terbukti. Aturan dibuat, namanya penjarangan pohon, yg terjadi penjarahan. Dari 1 ha hutan, hanya 10 -20 % yang boleh dijarangkan, prakteknya bisa terbalik, sisa hitan bisa tinggal 10-20%.
Satu waktu, Kiyai telepon ke Abah. Kiyai bertanya, apakah Abah punya Tafsir Alquran Mutahir, Tafsir al Mizan, Karya Ulama Syayyid Muhammad Husein Thabathaba’i,v21 jilid. Abah jawab punya . Kiyai mau pinjam. Kata Abah, kalau untuk menerangi tdk usah pinjam , ambil ke rumah, tapi kalau untuk membuat gelap jangan. 17.30 Kiyai telepon jam 23.00 sampai dirumah Abah , tdk lama Kitab Tafsir diserahkan dan Kiyai pulang ke pesantrennya di luar kota. Pagi hari 05.30 Kiyai Tlp lagi , ia katakan, bah kitab sdh berjamur, apa tdk pernah dibaca. Jawab Abah. Kiyai ada Ta’wil , Tafsil , Tafsir dan Tafwidz. Abah katakan pada Kiyai , jangan menafsirkan Alquran satu juz, satu surat, satu ayat, satu huruf pun. Abah tidak berani…Abah sampaikan beberapa tafsir hurufiah …sampai pada huruf Ya dari huruf hijaiyah. Kata Abah pada Kiyai, Ya..Yadullah fauqa biyadih , pantaskah tangan kita menjadi tangan Gusti Allah. Kiyai perintahkan pada para santri untuk khatam al Quran, selesai khatam esoknya para santri disuruh babad hitan untuk pertanian, ketika datang hujan, timbul banjir dan longsor setelah bencana datang , Kiyai mengadukan lagi pada Gusti Allah , ..Gusti jangan ditibankan bencana..Tuhan mahamendengar pengaduannya , namun yang tak disadari adalah, bencana banjir dan longsor akibat hutan dirusak…akhirnya Kiyai terdiam. Dan sampai kiwari tdk ada lagi, tlp dari Kiyai tersebut. Alhamdulillah.
Dari frase di atas, pesan pertama bahwa Tuhan, Gusti Allah sudah tak dihiraukan karena kepentingan material , uang; kedua bahwa ayat ayat suci sudah tidak sakral lagi , dibaca tapi tidak ditaati; ketiga manusia telah berani melanggar aturan Tuhan pada Sunatullahnya; keempat karena kelemahan, kelalaian, kebodohan akhirnya ketika bencana datang menyakahkan Tuhan…
Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan
14 Jumadil Akhir 1447 H – 1 Desember 2025









Komentar